Minggu, 23 Mei 2010

INSPIRASI BISNIS


Modifikasi Peti Kemas Menjadi Ruangan Berkelas
Menyulap peti kemas menjadi barang yang fungsional jelas bukan perkara gampang. Tapi Fajar Achyarianto mampu melakukannya. Ia bisa menaikkan pamor peti kemas ‘bekas’ menjadi bisnis menjanjikan yang memberi banyak keuntungan.Renny Arfiani
Membangun usaha dengan modal kepiawaian mengolah barang-barang bekas sudah lazim dijumpai. Faktanya banyak pengusaha sukses lahir dari bisnis semacam ini. Mulai dari pengolahan limbah plastik, kertas, besi hingga limbah yang tak terpikir untuk didaur ulang seperti limbah foto rontgen, compact disk dan masih banyak lainnya. Disini mereka mencoba berinovasi menciptakan fungsi baru dari sebuah barang bekas agar punya nilai kegunaan. Bisnis kreatif tersebut tanpa disadari bisa mendatangkan keuntngan yang melimpah.

Salah seorang yang concern dengan bisnis semacam itu adalah Fajar Achyarianto dengan memanfaatkan media peti kemas. Selama ini peti kemas digunakan untuk mengangkut atau mengirim barang dalam jumlah besar. Tapi jika kondisinya sudah tidak layak pakai kemungkinan bisa merusak muatan yang ada didalamnya. Lalu langkah apa yang mesti dilakukan? Memperbaikinya agar barang itu kelihatan baru bisa saja dilakukan. Tapi langkah itu rasanya menjadi kurang greget. Pria yang kerap disapa Ari ini lebih suka menyulap peti kemas tadi menjadi sebuah ruangan yang yang bisa difungsikan sebagai kantor, rumah sakit, supermarket.
Ide itu bermula ketika Ari merasa tidak lagi menemukan tantangan dari bisnis jual beli container kosong yang ia digeluti. Setelah setahun berkecimpung, ia baru sadar jika container sepintas bentuknya ada kemiripan dengan rumah. “Container punya jendela seperti rumah. Karena latar belakang saya dari teknik sipil, saya mencoba mencari tahu mengenai container office,” kata Ari yang memulai usaha container office-nya dari tahun 1998 dengan modal Rp5 juta.
Untuk membuat container office atau portacamp dibutuhkan peti kemas kosong dengan kondisi 80% baik. Mengingat yang pakai adalah peti kemas bekas maka tidak mudah menemukan barang dalam kondisi sangat bagus. Apalagi melewati berbagai pelayaran di laut maka tingkat korosinya juga tergolong tinggi.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 97/Agustus 2009.


Budidaya Belut Pasarnya Yahud

Jumlah permintaan komoditi belut terus melesat, baik di dalam maupun di luar negeri. Pasokan yang ada belum bisa mencukupi. Peluang yang perlu Anda pertimbangkan. Wiyono
Gurihnya daging belut semua orang tahu. Tetapi tahukah Anda jika komoditi satu ini peluang pasarnya segurih rasanya? Sonson Sundoro, pembudidaya belut sejak 1986 dan telah melakukan ekspor mulai tahun 1996, mengatakan, permintaan pasar, baik domestik maupun ekspor dari waktu ke waktu terus meningkat. Di pasar lokal belut diserap, baik oleh pasar-pasar tradisional, swalayan, hingga ke rumah-rumah makan. Sedangkan untuk luar negeri, Sonson menjualnya ke Cina, Taiwan, Korea, Hongkong, Singapura, Malaysia dan Jepang. Dan sampai saat ini, jumlah permintaan belum sebanding dengan besarnya kemampuan suplai barang.
Pada waktu pertama kali ekspor belut ke Hongkong tahun 1996, pengusaha Dapetan Eels Farm asal Bandung itu mengaku baru bisa suplai sebanyak 5 ton belut/minggu dari permintaan 25 ton/hari. Faktor penyebab kesulitan pasokan karena belut hasil budidaya belum signifikan jumlahnya, jadi sebagian besar masih mengandalkan tangkapan dari alam. Padahal, seperti dikatakan, mulai tahun 2004 permintaan belut hidup dari RRC dan Hongkong meningkat tajam, yaitu 100 ton/hari untuk satu orang importir, dari lebih dari 5 importir. ”Dan yang bisa dipenuhi hanya 2,5 ton/hari, itu pun kadang-kadang kurang. Karena itu tadi, hasil dari tangkapan alam tidak selalu ada sedangkan dari budidaya belum begitu banyak hasilnya,” ujar Sonson.
Dibandingkan dengan komoditi ikan air tawar lain, misalnya ikan mas atau lele, harga jual belut juga relatif lebih tinggi. Harga pasaran binatang mirip ular itu pada tingkat buyer lokal mencapai Rp35 ribu/kg, sementara untuk pasar luar negeri Sonson menjual USD5,00/kg. ”Karena permintaan meningkat dan dari pasokan tangkapan alam tidak mencukupi, apalagi pada saat musim kemarau pasokan belut di alam seakan hilang, akhirnya saya memutuskan untuk menguatkan produksi,” aku lulusan Institut Teknologi Industri jurusan Teknik dan Manajemen Industri tersebut.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 87/ Oktober 2008.



Kumis Kucing, Pilih Mana Daun atau Ekstrak?

Selama ini, orang memanfaatkan khasiat kumis kucing hanya melalui daunnya yang telah dikeringkan. Hasilnya, agak ribet. Naturlife Greenworld memberi solusi dengan menawarkan produk esktrak berupa fitofarmaka atau kapsul suplemen makanan yang dapat langsung dikonsumsi. Russanti lubis
Kumis kucing (Latin: Orthosiphon Stamineus Benth, red.) merupakan tanaman semak, yang diyakini memiliki sejumlah khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sebab, menurut penelitian, daun dari tanaman yang dapat tumbuh di tempat basah maupun kering dengan ketinggian 700 m di atas permukaan laut ini, mengandung kadar kalium yang cukup tinggi. Selain itu, daun yang berbentuk telur taji ini juga mengandung glikosida orthosiphonin, yang berkhasiat untuk melarutkan asam urat, fosfat, dan oksalat dari kandung kemih, empedu, dan ginjal.
Dengan khasiat yang dahsyat itu, tanaman herbal yang dikenal Masyarakat Madura dengan nama songot koceng ini, sangat diminati oleh berbagai industri obat-obatan dan kosmetika di mancanegara. Sebuah sumber mengatakan bahwa daun kumis kucing telah diekspor ke Belanda, Jerman, Eropa Barat, dan Amerika Serikat. Tapi, ironisnya, justru di Indonesia, tanaman yang biasa tumbuh liar di ladang atau sungai ini, sama sekali belum dikembangkan secara profesional. Mayoritas masyarakat kita masih menjadikannya sebagai tanaman hias belaka.
Namun, akhir-akhir ini muncul perkembangan yang menggembirakan. Khususnya, dalam dunia farmasi di mana tanaman yang nenek moyangnya berasal dari Afrika ini, juga digunakan sebagai bahan dasar obat-obatan moderen. Hal ini, terjadi seiring dengan semakin meningkatnya permintaan dari kalangan industri farmasi dan jamu di dalam negeri. Imbasnya, kini tidak sulit lagi mencari kumis kucing di berbagai apotek, toko obat, atau toko bahan suplemen makanan. Tapi, tentu saja, dalam bentuk ekstraknya yang kemudian diolah lagi menjadi isi kapsul, misalnya.
Sekadar informasi, ekstrak kumis kucing berarti turunan produk berbasis bahan alam dengan bahan utamanya, dalam hal ini, daun kumis kucing. Sementara, ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu bahan dari campurannya. Ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara atau yang dikenal dengan istilah ekstraksi panas dan ekstraksi dingin. Proses ini menggunakan pelarut yang didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran.
“Secara sederhana, ekstraksi adalah proses untuk memperoleh sari pati suatu bahan baik dari bahan tumbuhan maupun hewan Hasilnya berupa bubuk atau serbuk,” jelas Galih Prasetya Utama, Executive Manager Naturalife Greenworld & Co-PT PNU. Karena itu, ekstraksi berbeda dengan destilasi di mana proses ini menggunakan perbedaan titik didih zat terlarut dengan pelarut. Hasil akhirnya berupa minyak/cairan atau yang lebih dikenal dengan istilah minyak atsiri.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 100/November 2009.



Eits… Limbah Filter Oli Anda Ternyata Masih Berguna
Siapa sangka limbah filter oli mampu disulap jadi lampu hias nan indah. Kepiawaian Adeasmara ini telah membuatnya memiliki produk lampu hias yang mampu menembus pasar global. Renny Arfiani
Bagi Anda yang sering membawa kendaraan ke bengkel tentu tidak asing dengan filter oli. Benda ini tergolong vital untuk kendaraan yang secara berkala perlu dilakukan pergantian. Maka, tak perlu heran jika Ada begitu gamoang menemukan filter oli bekas di sekitar bengkel. Tentu dalam kondisi kotor berlumuran bekas oli dan mungkin orang enggan untuk menyentuhnya. Tapi coba Anda berikan benda itu pada Adeasmara pemilik industri kerajinan berlabel Skala 6. Ia akan mengubahnya menjadi sebuah lampu hias yang unik dan menarik untuk dilihat.
Ada banyak lampu hias yang beredar di pasaran beragam bentuk dan bahan pembuatnya. Ade, demikian pria ini biasa disapa, menyadari tanpa sesuatu yang unik maka sangat sulit baginya untuk bisa eksis dalam mengenalkan produknya. Kebetulan ia memiiki background sebagai desainer interior jadi cukup mengetahui kebutuhan lampu hias sebagai dekorasi. Menurutnya, orang biasa menggunakan lampu hias sebagai pemanis ruangan. Bisa jadi tak hanya cukup satu, namun bisa lebih dalam satu ruangan. “Jika fungsinya sebagai pemanis maka haruslah lampu hias yang unik,” demikian pemikiran Ade. Lantas ia mencoba mendesain lampu hias yang unik dan baru.
Gayung bersambut. Ketika ada perusahaan mobil nasional yang menantangnya berinovasi dengan memberikan material untuk membuat lampu hias secara cuma-cuma. Alhasil, limbah filter oli yang ‘dihibahkan’ padanya diubah menjadi lampu hias nan cantik. Pada kerangka lampu ia tambahkan motif batik nasional seperti batik dari Aceh, Betawi, Bali, Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Ia juga memberi sentuhan warna hitam dan putih sebagai warna utama untuk memberikan kesan elegan pada produk lampu hiasnya.
Pertama kali diperkenalkan ke pasaran respon yang diterima cukup mengejutkan. Ade mengisahkan, dalam sebuah pameran, semua lampu hiasnya habis terjual. Ia optimis bisa mengambil pangsa pasar yang telah lebih dulu dimasuki pemain lain. Pelan-pelan, bisnis yang dimulai sejak lima tahun silam mampu memikat tidak hanya konsumen dalam negeri tapi juga mancanegara.
Ia sama sekali tidak menyangka jika lampu hiasnya bisa menembus hingga ke pasar global. Ketika itu, ia kedatangan seorang pelanggan yang ingin memesan lampu hias. Pelannggan itu malah menawarkan untuk memasarkannya ke Malaysia. “Sebenarnya saya hanya menyasar pasar dalam negeri tapi respon pasar luar negeri justru lebih baik. Peminat lampu hias Skala 6 untuk pasar dalam negeri paling hanya 30% saja, sisanya 70% boleh dikatakan adalah konsumen luar negeri,” kata alumnus Jurusan Arsitektur, Universitas Pancasila ini.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 100/November 2009.



Menakar Besarnya Khasiat Undur-Undur
Meski berkhasiat mampu menurunkan kadar gula dalam darah, keberadaan undur-undur masih dipandang sebelah mata. Padahal alam menyediakannya secara gratis dan dalam jumlah besar. Russanti Lubis
Masih ingat fenomena Ponari dan batu "ajaibnya", serta para "penirunya"? Dari sini, dipetik suatu pelajaran bahwa kepercayaan sebagian anggota masyarakat terhadap pengobatan moderen, semakin lama semakin berkurang. Sebaliknya, mereka semakin lama semakin mempercayai pengobatan yang dianggap kurang atau bahkan sama sekali tidak masuk akal, yang sering disebut pengobatan alternatif.
Pengobatan alternatif menggunakan banyak media, yang sebagian di antaranya berasal dari alam. Salah satunya yaitu undur-undur. Binatang super kecil (berukuran kurang dari 2 cm, red.) yang biasanya dijumpai di sekitar rumah berhalaman pasir ini, dipercaya dapat menyembuhkan diabetes dan beberapa penyakit lain seperti stroke, kolesterol, asam urat, dan lain-lain, hanya dengan memakannya hidup-hidup. Di samping itu, juga tidak berefek samping, karena 100% natural. Bahkan, pengobatan Cina, sampai sekarang masih menggunakannya.
Berdasarkan penelitian bagian farmasi Universitas Gajah Mada (Kajian Potensi Undur-Undur Darat, 2006, red.), undur-undur mengandung zat sulfonylurea. Kerja sulfonylurea pada undur-undur yakni melancarkan kerja pankreas dalam memproduksi insulin. Dengan kata lain, hewan ini paling efektif untuk menurunkan kadar gula dalam darah. Tapi, berapa persen kesembuhan yang dapat diperoleh, sampai saat ini belum diketahui. Karena, memang belum ada penelitian tentang hal ini. "Kebanyakan konsumen kami, hanya mengatakan bahwa kondisi tubuh mereka lebih sehat, setelah mengonsumsi undur-undur," jelas Okman, pengumpul dan pemasar dalam usaha undur-undur ini.
Undur-undur (Latin: Myrmeleon Sp, red.) ini, Okman melanjutkan, sebaiknya dikonsumsi dalam kondisi hidup, baik yang ditelan langsung maupun yang dalam bentuk kapsul. Satu kapsul, biasanya berisi tiga bakal serangga (hidup) yang dalam Bahasa Inggris disebut Lion Ant atau Di Gu Niu dalam Bahasa Cina ini. "Dalam kondisi hidup, senyawa aktifnya masih utuh. Berbeda dengan yang dalam bentuk sudah dikeringkan atau ekstrak, lalu dimasukkan ke dalam kapsul," kata pemilik dan pemasar usaha budidaya Ikan Malas (ikan betutu) ini.
Dengan alasan itulah, usaha yang berlokasi di Yogyakarta ini menjual atau mengirimnya dalam keadaan hidup. Garansinya, bila sesampainya di tangan pemesan ternyata ada undur-undur yang mati, akan segera diganti. "Harga per paket (1 paket = 100 ekor + bonus 25 ekor) Rp100 ribu. Harga itu sudah termasuk wadah pemeliharaan, kapsul kosong, dan biaya pengiriman untuk Pulau Jawa," ujarnya. Jika dihitung-hitung, harga seekor undur-undur cuma Rp1.000,-.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 95/Juni 2009.




Pasar Asyik Gravier Acrylic
Kebutuhan konsumen yang cenderung meningkat dan masih sedikitnya pemain yang menggeluti bisnis gravier acrylic membuat usaha Adit ini terus melesat. Anita Surachman
Seringkali ide bisnis muncul dari kombinasi passion (kecintaan yang mendalam terhadap sesuatu) dengan pengalaman bekerja sebagai karyawan. Setidaknya itulah yang terjadi pada Richard Aditya Wijojo. Kecintaannya pada dunia seni dan pengalamannya sebagai sales mesin-mesin menjadi pemantik bagi dirinya untuk menerjuni binis gravier acrylic.
Seperti banyak diidap pebisnis pemula, demikian yang dihadapi pria yang akrab disapa Adit ini. Lingkungan terdekatnya, yakni keluarga maupun teman-teman di lingkungan kerja, tak sepaham dengan keputusan Adit berwirausaha. Mereka berpikir, menekuni sesuatu yang baru pasti mengundang banyak kesulitan. Namun tekad Adit sudah bulat. Di balik kesulitan pasti tersimpan peluang. Dan kesulitan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi harus dipecahkan. Demikian pikiran Adit untuk mempertebal keyakinan atas pilihannya tersebut. “Apalagi bisnis ini relatif baru, pemainnya masih jarang sehingga peluangnya besar.”
Berbekal modal dari tabungan sewaktu masih bekerja sebagai karyawan ditambah dengan pinjaman dari keluarga, Maret 2008 Adit mulai merintis usaha ini. Langkah pertama adalah mencari semua detil informasi tentang bisnis tersebut. Baru selang tiga bulan kemudian Adit mendirikan Huahahahahaha Art&Design. Nama yang cukup unik. Selain nama itu terasa nendang (istilah yang sering dipakai Bondan Winarno), terkandung maksud bahwa supaya produknya bisa membuat orang tersenyum bahagia.
Selain sejalan dengan minat, imbuh Adit, bisnis yang ia geluti ini selalu menuntut adanya kreatifitas, karena memang itulah inti dari produk-produk seni. Kedua hal tersebut terkait dengan sisi kepuasan immateriil. Sedangkan dari sisi bisnis, usaha ini belum banyak yang menggeluti padahal tingkat kebutuhan konsumen terhadap produk gravier acrylic cukup tinggi.
Tak heran jika permintaan tidak hanya terkosentrasi pada satu wilayah saja. Usaha yang berbasis di Semarang ini juga banyak mendapat pesanan dari Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya di seluruh Indonesia. Bahkan ada beberapa pelanggan dari luar negeri semisal Singapura dan Australia. Jamak memang, karena jika disandingkan dengan produk gravier acrylic impor harga produk Adit jauh lebih kompetitif. “Informasi ini saya peroleh saat melihat pameran. Produk dalam negeri memang kompetitif. Namun banyak pemain yang tidak tahu tentang teknologi yang tepat untuk menghasilkan karya seni ini,” tuturnya.

Gravir acrylic karya Adit terentang mulai dari yang berujud tulisan saja sampai gravier photo pada acrylic. Tetapi ia buru-buru menambahkan bahwa ketrampilan menggravier ini tidak hanya terbatas pada media acrylic saja. Karya gravier bisa diguratkan di media kaca, cermin, lantai granit, kayu, kain, dan masih banyak lagi.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 92/ Februari 2009.


Kemilau Batu Obsidian Seindah Kristal
Selain bentuknya yang indah, batu obsidian menjadi bernilai tinggi karena proses memperolehnya tidak mudah. Meski pasar di luar negeri berprospek cerah, belum banyak pengusaha yang mau mengolah. Russanti Lubis
Indonesia merupakan negara yang memiliki gunung berapi terbanyak di dunia. Tercatat, Nusantara ini memiliki lebih dari 140 gunung berapi, di mana 129–130 di antaranya masih aktif. Pengertian aktif di sini berarti bahwa gunung-gunung berapi tersebut, masih melakukan aktivitas letusan. Imbas dari letusan tersebut yaitu keluarnya berbagai material, yang terkandung di dalam gunung berapi itu.
Pada satu sisi, letusan gunung berapi bahkan dapat menyebabkan kerusakan yang mahadahsyat terhadap lingkungan disekitarnya. Tapi, pada satu sisi yang lain, gejala alam yang menakutkan itu juga memberi banyak manfaat. Contoh, lapukan batuan gunung berapi dapat mendatangkan kesuburan bagi tanaman dan tanah. Sedangkan lava, melalui proses pendinginan alamiah yang berlangsung dalam rentang waktu yang relatif lama hingga akhirnya membeku, akan menjadi bebatuan yang cantik dan bernilai ekonomi tinggi.
Batu yang dimaksud yaitu obsidian. Batu yang memiliki warna-warni indah, seperti hijau, biru, cokelat, kuning, dan lain-lain ini sering dianggap kaca. “Ya. Ada beberapa kalangan yang mengira obsidian sebagai kaca. Padahal, obsidian berasal dari lava yang membeku atau mengeras, karena proses natural. Sementara, kaca dihasilkan melalui proses pemanasan dengan suhu tertentu, sebagai salah satu hasil karya manusia,” jelas Yahya Abdul Habib Al-Khatiri, President Director PT Habbamas Bersama.
Obsidian, pria yang akrab disapa Habib ini melanjutkan, sangat menarik dan unik dari segi warna dan tekstur. Bila dibentuk menjadi berbagai produk yang dibutuhkan atau yang memiliki nilai seni, obsidian memiliki nilai jual yang tinggi. Bahkan, konon, bagi beberapa orang, batu ini juga mendatangkan energi positif yaitu menenangkan dan menyehatkan.
“Kami melihat adanya peluang bisnis dari batu ini. Di samping itu, kami juga merasa tertantang untuk membentuknya menjadi produk-produk, yang bernilai seni tinggi,” kata Habib. Dikatakan begitu, sebab dibandingkan dengan batu-batuan lain, obsidian sebagai bahan baku berbagai produk bisnis, kehadirannya masih terbilang baru. Sehingga, perlu waktu relatif lama untuk memperkenalkannya kepada masyarakat. Selain itu, PT Habbamas Bersama mengolahnya menjadi berbagai desain atau bentuk seperti yang diinginkan konsumen, langsung dari bongkahan-bongkahan batu gunung itu.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 96/Juli 2009


Hujan atau Panas Kini Tidak Lagi Masalah
Alangkah enaknya jika saat berkendara dengan sepeda motor kita terbebas dari guyuran air hujan dan sengatan matahari. Khayalan ini bisa menjadi nyata dengan hadirnya produk kanopi serat rami. Inovasi yang dilakukan Dedy Astika bisa jadi akan mengurangi ‘penderitaan’ pengendara motor saat musim hujan datang. Anita Surachman
Musim hujan sering dianggap ‘musuh’ oleh para pengendara sepeda motor. Saat musim ini tiba, aktifitas menjadi terganggu. Mereka terpaksa berteduh untuk menghindari guyuran air hujan. Atau bisa juga menggunakan mantel atawa jas hujan. Cara ini terbilang cukup efektif, meski sering merasa ribet saat harus memakainya. Begitu hujan selesai, jas hujan pun tak lagi digunakan. Masalah baru muncul ketika panas matahari menyengat tubuh. Lalu, bagaimana untuk mengatasinya?
Andai saja, sepeda motor yang kita gunakan bisa melindungi dari guyuran air hujan serta sengatan panas matahari? Tentu akan lebih nyaman. Anda mestinya tidak sedang mengalami delusive (khayal), karena hal itu bisa diwujudkan. Pasalnya, kini tercipta produk baru yang berfungsi sebagai pelindung dari cuaca panas sekaligus iar hujan. Ringkas dan praktis. Sebagaimana yang diperkenalkan oleh Dedy Astika, alumnus Universitas Islam Indoanesia (UII) Yogyakarta. Dedy membuat sebuah hasil inovasi berupa kanopi dari bahan serat alam rami yang diperuntukkan bagi pengendara sepeda motor.
Ide membuat kanopi, muncul dari M. Ridwan, ketua jurusan di tempatnya kuliah. Didasari oleh fakta bahwa Indonesia mengenal dua musim: peghujan dan kemarau yang sama-sama tidak menguntungkan buat pengendara motor. Selain itu jugakarena faktor jarak tempuh yang cukup jauh antara rumah dan kampusnya yang mencapai lebih dari 40 km. Hal ini yang akhirnya mendorongnya untuk merealisasikam membuat aksesoris bagi pengendara sepeda motor untuk melindungi dan panas dan hujan. “Apabila kita memakai jas hujan maka akan terasa repot dan faktor keamanan juga akan berkurang. Ada kemungkinan jas hujan masuk ke rantai motor,” kata Dedy.
Pada tahun 2007, salah seorang mahasiswa di kampusnya pernah ada yang membuat master produk untuk pertama kali. Tetapi menurut Dedy, pada waktu itu produk yang dibuat masih terasa berat dan kurang sempurna. Maka, di tahun yang sama, tepatnya pada bulan November, dibentuklah team untuk penyempurnaan kanopi tersebut. Dalam tim itu terdapat 18 orang yang masing-masing individu meneliti sekaligus menjadikannya sebagai bahan untuk tugas akhir. “Pada saat itu ada yang menangani argonomi, ada yang terowongan angin, ada yang pembuatan untuk delivery, ada yang mengurusi pengukuran digital. Dan saya sendiri menangani pembuatan kanopi menggunakan serat alam rami dengan campuran poliester yang dibentuk melalui molding (cetakan),” tuturnya.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 91/ Januari 2009.


Hermada, Bukan Hanya Untuk Ternak Tetapi Juga Baik Bagi Anak-Anak

Sampai sejauh ini, Hermada (sorgum) tetap dianggap sebagai pakan ternak, sama halnya dengan bulgur. Padahal, dari akar hingga biji, dapat dimanfaatkan. Sehingga, ia ditempatkan sebagai bahan pangan dunia nomor lima setelah gandum, padi, jagung dan barley. Russanti Lubis
Hermada merupakan tanaman rumput-rumputan atau berasal dari keluarga yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah grass. Dengan demikan, Hermada memiliki “kekerabatan” dengan padi, tebu, jagung, ilalang, sejenis sorgum, dan sebagainya.
Hermada merupakan kependekan dari Harapan Masa Depan. Pemberian nama tanaman perdu yang bernama Latin sorgum bicolor ini, mengandung pengertian bahwa setiap bagian tanaman ini memiliki manfaat.
Hasil pelatihan dan penelitian selama berbulan-bulan pada tahun 1999, yang diikuti Rindartati Soedimulyo menunjukkan bahwa biji tanaman yang semula hanya digunakan sebagai pakan ternak ini, ternyata memiliki serat yang tinggi, sehingga hasil olahannya bagus untuk dikonsumsi para penderita diabetes dan kolesterol, serta meningkatkan nafsu makan anak-anak balita (bawah lima tahun) yang susah makan. Selain itu, juga dapat diolah sebagai makanan tambahan pendamping ASI (Air Susu Ibu) bagi ibu-ibu yang sedang menyusui. Karena, mengandung karbohidrat dan protein yang tinggi.
Tangkainya dapat digunakan untuk membuat kerajinan tangan dan sapu dengan kualitas ekspor. Daunnya dapat digunakan sebagai pakan ternak, sehingga meningkatkan produksi peternakan, terutama hewan potong. Batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar (etanol) dan bahan pembuat bubur kertas (pulp). Sedangkan akarnya dapat diolah menjadi minuman kesehatan. “Dengan demikian, dari bawah sampai ke atas, Hermada dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” kata Rien, begitu ia disapa.
Lalu, mengapa baru sekarang pemerintah menjadikan Hermada sebagai bahan pokok dasar pengganti dan pendamping beras dan terigu? “Mungkin, karena dulu masyarakat menyamakan tanaman yang juga dikenal dengan istilah sorgun ini dengan bulgur. Sedangkan bulgur identik dengan pakan ternak alias makanan murahan. Karena itulah, saya berusaha menunjukkan bahwa sorgum memiliki banyak kelebihan, dengan menjalin kerja sama dengan departemen pertanian (deptan), IPB (Institut Pertanian Bogor), dan BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional),” jelas kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, hampir 63 tahun silam itu.
Hermada, ia melanjutkan, dulu pernah ditanam di Indonesia, tetapi hanya untuk diambil tangkainya, sedangkan bijinya digunakan sebagai pakan ternak. Sehingga, masyarakat pun berpikir bahwa tanaman yang di Jawa dikenal dengan istilah cantel atau gondem ini, makanan murahan yang tidak ada artinya. “Sebab itulah, saya ingin mengangkat pamornya sebagai bahan pengganti terigu, dengan mengolahnya menjadi bahan dasar kue,” kata pemegang penghargaan UKM Pangan Award 2008 ini.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 89/ November 2008.

Mesin Es Krim Semi Otomatis Hasil Lebih Manis

Untuk memulai usaha tak perlu modal besar, cukup Rp20 juta Anda bisa menjadi pengusaha es krim. Kualitas produk tak kalah dengan pemain besar. Wiyono
Es krim. Kita pasti kenal dengan si lembut, dingin, terkadang dengan aneka rasa, topping, dan beragam variasi penyajiannya itu. Tetapi sudah tahukah jika sejatinya terdapat dua jenis es krim? Menurut Henry Gustaaf Emmanuel Permis Levyssohn secara garis besar ada yang dinamakan soft ice cream serta hard ice cream. Kelompok pertama memiliki komposisi fat lebih tinggi sehingga sudah pasti lebih lembut. Untuk membedakannya, jika sisa es krim yang menempel di dalam pinggiran wadah tebal, berarti ice cream tersebut adalah soft ice cream, sebaliknya jika mengumpul di dasar gelas serta cair itu artinya hard ice cream.
Faktanya pengetahuan orang tentang ice cream pada umumnya sangat rendah. Pecinta es krim pun belum tentu mengetahui karakter jenis-jenis es krim yang telah disantap selama bertahun-tahun. Oleh karena itu bila ingin menjadi produsen ice cream profesional, pengembang mesin-mesin es krim skala rumahan dan industri menengah itu menyarankan hendaknya mereka telah menguasai kedua jenis es krim tersebut.
Adapun jenis mesin rancangan Henry Gustaaf tidak lain Mesin Hard Ice Cream 24 liter diberi merek Gustaaf®. Sementara itu untuk mesin soft ice cream, ia mengajarkan pelatihan pembuatannya dengan menggunakan mixer dengan konsep handmade ice cream. Keistimewaan mesin buatannya itu, seperti dikatakan, justru karena tetap mempertahankan keasliannya sebagai mesin es krim tradisional Eropa (semi otomatis) yang tidak boros listrik.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 88/ November 2008.




Budidaya Sidat, Pasar Mancanegara Lebih Memikat
Pantai Selatan Indonesia menyediakan bibit sidat secara melimpah dan cuma-cuma. Pasar luar negeri pun siap menampungnya bahkan berani mematok dengan harga tinggi. Namun hingga saat ini pembudidaya sidat masih sepi peminat. Peluang yang disia-siakan?Russanti Lubis
Kelezatan olahan belut bisa jadi banyak yang sudah membuktikannya. Tapi bagaimana dengan sidat? Mendengar nama binatang ini, mungkin sebagian dari Anda ada yang mengernyitkan dahi. Bisa dimaklumi, selain jarang dijumpai di pasar ikan, karena harganya yang tergolong mahal, sidat ternyata kalah popular dengan saudaranya yakni belut.
Meski terlihat mirip, menurut Halim, sidat bukan belut. Secara fisik belut memiliki bentuk kepala lancip dan bulat, sedangkan hewan yang juga dikenal dengan nama moa ini mempunyai bentuk kepala segitiga, badan berbintik-bintik, dan ekor yang mirip ekor lele. Sidat juga bukan belut berkuping. Karena, yang selama ini dianggap telinga, sebenarnya adalah sirip.
Dilihat dari ukurannya, panjang tubuh belut akan mentok di kisaran 60 cm. Sedangkan panjang sidat berkisar 80 cm−100 cm (sumber lain menyatakan, panjang sidat bisa mencapai 125 cm, red). Bobot terberat binatang ini juga bisa menyentuh angka 1 kg. Bahkan, di Pulau Enggano, Propinsi Bengkulu beratnya bisa sampai 10 kg!
Uniknya, permintaan akan sidat justru lebih banyak datang dari luar negeri terutama negara di kawasan Asia Timur. “Untuk pasar ekspor, dulu sidat yang diminta seberat 200 gr−250 gr. Sekarang permintaan lebih banyak untuk sidat yang beratnya lebih 500 gr tapi kurang dari 1 kg. Harga belinya Rp90 ribu, tapi kami menawarkan Rp120 ribu per ekor,” ujar pria, yang biasa disapa Pak Haji ini.
Untuk baby sidat, Pak Haji melanjutkan, pasar ekspor berani membayar Rp700 ribu−Rp900 ribu per kilogramnya lebih tinggi dari pasar lokal yang mematok harga Rp400 ribu−Rp600 ribu per kilogramnya. “Satu kilogram berisi 5 ribu−7 ribu ekor baby sidat berumur sehari dan berukuran 2 inci," jelas supplier sekaligus pelatih pembesaran sidat ini.
Benih sidat yang disediakan oleh alam secara gratis dan melimpah ini, dapat diperoleh di sepanjang Pantai Selatan hingga Filipina. Hewan tersebut sering muncul ke permukaan pantai saat tak ada cahaya bulan. "Dulu, saya memperolehnya di Cilacap. Tapi, ukurannya agak besar. Sementara, untuk yang masih baby, banyak terdapat di sepanjang Pantai Selatan," kata kelahiran Brebes, Jawa Tengah, 67 tahun lalu itu.
Di samping yang bermotif polos, ia menambahkan, ada juga sidat (Latin: Anguilla Sp, red.) yang bermotif kembang, yang banyak dijumpai di Indonesia Bagian Timur. "Rasanya sih sama saja, sangat gurih. Karena, ia mengandung minyak dan protein tinggi," ucap Pak Haji, yang memiliki stok 1 ton sidat jenis Anguilla Marmorata ini.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 96/Juli 2009.

Kocek Melimpah dari Beternak Lintah

Dibalik wujudnya yang menjijikan, lintah rupanya memiliki khasiat membantu menyembuhkan berbagai penyakit. Selain itu, jika dijadikan sebagai sebuah bisnis prospeknya sangat cerah karena omzet yang dihasilkan sangat berlimpah. Tidakkah Anda tertarik?Russanti Lubis
Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali... Dari mana datangnya cinta. Dari mata turun ke hati. Anda tentu ingat sepenggal bait pada sebuah lagu lawas yang beraroma cinta, bukan? Tapi, bukan soal lagu tersebut yang akan kita bahas, melainkan tentang lintah itu sendiri. Orang sering menyamakan lintah dengan pacet. Padahal, meskipun mirip keduanya punya banyak perbedaan. Pacet banyak ditemui di pegunungan, hutan dan tempat-tempat lain yang notabene berhawa lembab. Sedangkan lintah banyak di jumpai di areal persawahan. Selain itu, meski sama-sama bertahan hidup dengan mengisap darah binatang lain atau manusia, pacet tidak berfungsi menyembuhkan. Sebaliknya, lintah bukan hanya penyembuh, melainkan juga dapat digunakan sebagai sarana kecantikan.
Karena kegunaannya itulah, entah sejak kapan binatang bertubuh empuk dan berlendir ini diternakkan. Sementara, untuk menternakkannya sendiri ada dua hal yang melatarbelakanginya. Pertama, kalangan medis, terutama dari mancanegara, meyakini bahwa lintah yang diternakkan lebih terjamin kesehatannya (baca: kebersihannya, red.). Salah satu alasannya, karena minimal sebulan sekali air di kolam penampungannya diganti. Kedua, sejak domisili asli lintah yaitu sawah dimoderenisasikan, maka hewan ini pun menghilang.
Untuk membudidayakan satwa penyembuh (hirudo medicinalis) ini, boleh dibilang gampang-gampang susah. Dikatakan gampang, sebab karnivora, bahkan beberapa di antaranya merupakan predator, ini cukup diberi makan belut dan berbagai jenis invertebrata (binatang tidak bertulang belakang, red.) lain, seperti cacing, siput, dan larva serangga. Binatang-binatang ini di habitat aslinya merupakan makanan utama lintah.
“Dengan belut sebanyak 1 kg yang diberikan satu bulan sekali, lintah-lintah ini akan bertahan hidup hingga tujuh bulan ke depan. Tapi, peternak lintah biasanya akan memberi mereka makan 2−4 minggu sekali, sebanyak 2−3 kg belut. Karena, misi kami bukan sekadar agar binatang itu bertahan hidup, melainkan juga supaya cepat besar dan panjang. Sehingga, semakin cepat pula dipanen. Meski, lintah sebenarnya baru layak jual atau mampu menjalankan fungsinya, ketika berumur minimal enam bulan atau berukuran 6−8 cm,” jelas Salim, peternak lintah di kawasan Sawangan, Depok.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 101/Desember 2009.






Gideon: Hidup Sesuai Amanah Tuhan
Pengalaman hidup telah mengajarkan berbagai kearifan pada diri manusia. Kearifan inilah yang membimbing langkah Gideon dalam menjalankan roda bisnis. Russanti Lubis

Pengalaman hidup yang berkesan di masa lalu, adakalanya menginspirasi seseorang untuk menggeluti profesi yang dijalani saat ini. Hal ini juga terjadi pada Gideon Hartono. Saat masih duduk di bangku kelas 1 SMA, pemilik jaringan Apotik K24 ini menderita penyakit gondongan yang membuatnya sulit membuka mulut sehingga tidak bisa makan, sulit berbicara, dan badan meriang. Tetapi, hanya dengan sekali suntikan, tak lebih dari 10 menit sang dokter yang didatanginya mampu membuatnya terbebas dari segala penderitaan tersebut.

“Ketika itu terpikir betapa mulianya tugas seorang dokter. Karena, ia mampu menghilangkan penderitaan (yang ditimbulkan oleh penyakit) semua orang dan membuat mereka bahagia lagi. Seketika itu juga saya bercita-cita menjadi dokter,” kata Direktur Utama PT K-24 Indonesia ini.
Hal itu tentu tidak muskil dicapai oleh lulusan SMA Collese De Britto, Yogyakarta, dengan rangking 1 ini. Sebab, dengan ranking itu ia berhak masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur khusus, yang sekarang dikenal dengan nama Penelurusan Minat Dan Kemampuan. Di sisi lain, penggemar fisika ini hatinya bercabang. Gideon yang bersama kedua teman SMA-nya pernah membuat buku soal-soal fisika dengan judul The Green Book of Physics Problems ini, juga ingin masuk ke ke Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA).
Namun, seperti ungkapan manusia berencana Tuhan menentukan, karena satu dan lain hal ia gagal masuk ke Fakultas Kedokteran (FK), satu-satunya fakultas yang ia pilih meski sebagai siswa di jurusan paspal (sekarang IPA, red.) ia berhak memilih tiga fakultas yang berbeda. Dengan demikian, F-MIPA yang juga diminati tapi tidak pernah dipilihnya, lepas pula dari genggaman. “Setelah kejadian itu, saya merasa seperti diperingatkan agar jangan hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Masih ada kekuatan lain yang jauh lebih kuat yaitu kekuatan Tuhan,” ujar dokter lulusan FK Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, ini. Untuk mengisi waktu yang ada sebelum mendaftar kembali tahun berikutnya, anak kelima dari tujuh bersaudara ini kuliah di PAT (Pendidikan Ahli Teknik, milik Fakultas Teknik-UGM, red.). “Soalnya, masih berhubungan dengan fisika,” lanjutnya, sambil tersenyum.

Tahun 1983 ia mendaftar kembali dan diterima di FK-UGM. Seperti aturan pemerintah yang berlaku saat itu, setahun setelah meraih gelar sarjana kedokteran (1990) ia diharuskan menjadi pegawai negeri sipil di bawah Departemen Kesehatan RI. Hal ini bisa dimaklumi, bila Gideon adalah pribumi asli. “Dalam hal ini saya merasa sebagai orang yang beruntung, padahal saat itu zamannya orde baru loh,” ucap lelaki yang nenek buyutnya baik dari pihak ibu maupun ayahnya berdarah Jawa asli.
Tapi, keberuntungannya ternyata hanya berhenti sampai di situ, meski mendapat dukungan penuh dari orang-orang di sekitarnya, mantan Kepala Puskesmas Umbulharjo I, Yogyakarta, ini harus kembali gagal mengambil program dokter spesialis karena darah Cina yang mengalir di tubuhnya. Tak mau berlama-lama tenggelam dalam kekecewaan, mengingat ia tidak pernah membuka praktik dokter di rumah dan hanya mengandalkan gaji sebagai dokter puskesmas, kelahiran Yogyakarta, 44 tahun lalu ini segera mewujudkan plan B yaitu membuka usaha fotografi yang lebih moderen. Saat masih duduk di bangku kelas 2 SMP, Gideon dan adik bungsunya pernah membangun bisnis studio foto secara apa adanya di garasi rumah mereka, yang dinamainya Agatha Photo. Bisnis inilah yang kemudian dikembangkannya menjadi lebih moderen sekaligus sebagai ladang nafkah sampingannya.
Dari mana modalnya? “Dari SMP, saya sudah menyukai dan menekuni dunia fotografi. Saya memiliki 30 piala dan medali sebagai hasil berbagai lomba foto baik tingkat regional maupun nasional, yang saya ikuti. Hadiah memenangkan lomba-lomba foto dan utang ke paman saya itulah modal saya membangun Agatha Photo,” kata pria yang masih menyimpan obsesi sebagai dokter spesialis mata ini. Selanjutnya, ia membangun Agatha Video bersama Inge Santoso, dokter gigi yang kemudian menjadi istrinya. “Saya menjadikan Agatha Photo sebagai bisnis keluarga saya yang kemudian saya serahkan kepemilikannya kepada orang tua dan adik bungsu saya. Sedangkan Agatha Video sepenuhnya bisnis saya dengan calon istri saya saat itu. Kini keduanya berkembang sama bagusnya. Bahkan, Agatha Video sudah memiliki cabang di Semarang,” tambahnya.

Untuk menambah lagi keuangan keluarganya, bapak dua putra ini juga melirik bisnis apotik yang beroperasi 24 jam, tetapi harga obat-obatan yang dijual sama dengan apotik “biasa”. “Saya ingat, dulu itu sulit sekali mencari obat di apotik pada tengah malam buta. Kalau pun ada apotik yang beroperasi 24 jam, maka harga obat-obatan yang dijual jauh lebih mahal,” kata Gideon yang karena kesibukannya sebagai wirausaha, akhirnya mengundurkan diri sebagai PNS terhitung April lalu. Melalui bisnis apotik yang dinamainya Apotik K24, ia ingin menularkan harmoni di tengah kemajemukan bangsa. “Apotik merupakan wahana bertemunya orang-orang dari berbagai latar belakang. Hal ini, juga terlihat dari logo Apotik K24 yang didominasi warna hijau sebagai penggambaran Islam yang merupakan agama yang dianut sebagian besar rakyat Indonesia. Merah berarti Nasrani yaitu agama kedua terbanyak penganutnya di sini. Kuning untuk menggambarkan Cina sebagai etnis yang mendominasi perekonomian negara. Sedangkan putih merupakan pihak-pihak lain di luar itu yaitu Hindu, Budha, dan etnis-etnis lain di Indonesia,” jelas laki-laki yang tahun lalu, atas usulan sekelompok masyarakat, mengikuti Pilkada Wakil Walikota Yogyakarta dan gagal. “Apakah saya akan mencobanya lagi nanti? Bagaimana rencana Tuhan sajalah,” imbuhnya. Ya, hidup manusia memang bagian dari rencana Tuhan. (adv)

Dari Lumpur Hingga SPBU
Menapaki jenjang dari seseorang penjual es kelapa muda, Urpan Dani sukses mendirikan beberapa perusahaan. Kiatnya; keikhlasan dan doa. Sukatna
Kru sebuah production house sedang sibuk menyorotkan kamera untuk merekam beberapa adegan di sebuah rumah di Citra Gran Blok E17 No. 6 Cibubur.
Beberapa adegan dari sinetron tersebut memang mengambil lokasi di rumah Urpan Dani, pendiri beberapa perusahaan yang bergerak di bidang lumpur pengeboran, eksportir kayu manis, pemasok pasir, pengelola SPBU Petronas dan jual-beli properti.
Namun kisah sukses Urpan bukanlah sebuah kebetulan, seperti yang banyak terjadi dalam kisah-kisah sinetron kita. Sebelum memiliki beberapa perusahaan Urpan harus berjuang keras, bahkan sempat menjadi penjual es kelapa muda di Pintu II Senayan, dan menjual penjual tempe goreng. Semuanya dilakoni dengan ikhlas.
Sebenarnya, setamat kuliah di Fakultas ekonomi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta pada tahun 1989, pria kelahiran tahun 1964 ini sempat diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Departemen Koperasi di tanah kelahirannya Kerinci. Tetapi ia mengaku tidak berminat menjadi PNS. Justru Urpan pergi ke Jakarta ikut pamannya.
Lantaran tidak setuju dengan pilihan anaknya, orangtua Urpan tidak mengirimi uang belanja sehari-hari. Tetapi Urpan tidak menyerah begitu saja. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari ia harus berjualan es kelapa muda, kemudian menjadi penjual tempe goreng.

Di sela-sela menekuni ‘profesinya’ itu, Urpan mengirimkan lamaran ke sejumlah perusahaan. Sempat tes di Pertamina sampai tahapan ketiga, tetapi akhirnya gagal. “Jumlah lamaran sampai 300 lebih,” ungkap Urpan belum lama ini.
Dari salah satu lamarannya, Urpan diterima di sebuah perusahaan lumpur pengeboran yang kantor pusatnya di Jakarta. Tetapi Urpan ditempatkan di Palangkaraya. Pada pagi hari, Urpan menyelesaikan pekerjaan kantor. Di siang harinya, belajar mengoperasikan alat-alat berat, dan sore harinya belajar mengelas. Praktis tidak ada waktu luang untuk Urpan.
Tak lama berselang, Urpan ditarik ke Jakarta tetapi ditempatkan di pabrik. Di pabrik Urpan banyak belajar, mulai dari memproduksi bahan-bahan pendukung lumpur pengeboran sampai mengelas plastik. Ia ingin menyerap semua ilmu tersebut. Ia yakin ilmu itu akan berguna kelak di kemudian hari. Keyakinannya tidak meleset. Prestasinya terus melesat, hingga akhirnya dipercaya menjadi general manager yang mengurusi semua kebutuhan perusahaan dari A sampai Z.
Di tengah karirnya yang terus menanjak, Urpan menyunting anak mantan bupati Kerinci, Gladia Rahmawati, pada tahun 1995. Dalam posisinya sebagai general manager, sering Urpan mengambil keputusan-keputusan penting diantaranya memilih rekanan perusahaan. Ternyata banyak rekanan perusahaan yang memberikan ‘uang terimakasih’. Hal ini justru membuatnya tidak nyaman. Hal ini ia sampaikan ke pemilik malah berujar,” ambil saja uang itu. Keuntungan perusahaan lebih besar daripada yan kamu dapatkan.”
Urpan merasa tidak nyaman. Ia berkeputusan untuk mengundurkan diri. Sebelum mengundurkan diri pada tahun 1997, Urpan melakukan sholat istikharah, untuk meminta petunjuk kepada Allah. Tak lupa ia meminta dukungan dari keluarganya maupun dari keluarga istrinya. Tak satu pun yang setuju ia mengundurkan diri, kecuali satu orang, yakni istrinya. Setelah sholat istikharah beberapa malam, Urpan mengambil keputusan bulat : mengundurkan diri dan siap-siap mendirikan usaha jual-beli mobil bekas.
Ternyata menjadi pengusaha itu tidak semudah membayangkannya. Usaha jual beli mobil bekas yang ia dirikan pada tahun 1997 dengan menggunakan bendera PT. Salsabila Rizky Pratama nyaris macet. Mobil-mobil terlanjur ia kirimkan ke Jambi untuk dijual ternyata seret. Tetapi ia sudah tidak bisa mundur lagi. Mobil-mobil itu ia tarik kembali ke Jakarta dan ia jual di Lapangan Ros dan Kalibata indah. Pada tahun-tahun awal hasilnya lumayan. Penjualan terus meningkat.
Di sela-sela mengiklankan mobil dagangannya, Urpan juga mengiklankan kayu manis dan menjalankan bisnis lumpur pengeboran, meski masih kecil-kecilan. Beberapa orang memesan kayu manisnya tetapi ternyata kebanyakan menipu. Setelah kayu manis dikirim, mereka tidak mengirimkan uangnya. Sudah jatuh tertimpa tangga, itu peribahasanya. Usaha kayu manis belum membuahkan hasil, bahkan ditipu, usaha jual-beli mobil bekasnya lesu. Apalagi, ia juga ditipu beberpa pedagang yan menjual mobil bodong. “Kerugian saat itu mencapai Rp. 250 juta,” tuturnya.
Di saat kondisi perusahannya letih lesu, Urpan justru mengambil keputusan untuk menunaikan ibadah haji bersama istrinya pada tahun 1991. Dengan uang seadanya, sebagian hasil pinjaman dari keluarganya, Urpan dan Gladia berangkat ke Tanah Suci.
Di Al-Mutazzam, Urpan berdoa dengan khusuk. Memohonkan ampunan untuk leluhurnya yang sudah meninggal serta meminta keselamatan dan kesehatan bagi keluarga yang masih hidup. Di akhir doa, ia meminta agar Allah menunjukkan jalan dan meridhoi usahanya. Tak lama berselang, telepon genggamnya berbunyi. Isi pesan yang dikirim adiknya mengatakan PT. Salsabila mendapatkan proyek lumpur pengeboran dari sebuah perusahaan ternama. “Doa saya dibayar tunai. Saking senangnya saya menangis sampai “nungging-nungging” ucap Urpan yang kini membina ribuan petani kayu manis di Kerinci. Dari Al Mutazzam inilah terjadi perubahan yang luar biasa pada perusahaannya.
Penjualan kayu manis, yang semula diniatkan untuk membantu mengangkat harga sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani, mulai membuahkan hasil. Usaha lumpur pengeboran yang tadinya kecil mulai menggurita. Bahkan untuk memperbesar pemasaran 35 item produk Lumpur pengeborannya, Urpan berpatungan dengan rekannya untuk mendirikan PT. Prima Hidrokarbon Internusa pada tahun 2002. PT. Salsabila menjual secara ritel dan PT. Prima Hidrokarbon masuk ke tender-tender besar. Selain memasok 35 item bahan pendukung Lumpur pengeboran, PT. Prima Hidrokarbon juga melakukan pengeboran sendiri.
Perusahaan terus menggurita. Keenam adik Urpan ikut terlibat untuk membesarkan usaha yang didirikan sulung dari tujuh bersaudara ini. Perusahaan yang memiliki kantor pusat di Cibubur dan pabrik di Karawang ini memiliki sekitar 800 karyawan. Ekspansi usaha terus dilakukan. Bisnis properti (membeli rumah kemudian merenovasinya) yang sebelumnya tidak dirambah mulai dimasukinya. Bisnis perkayuan juga mulai dimasuki. Semua bisnis ini ditangani oleh adik-adiknya.
Sekitar akhir tahun 2005 lalu, Urpan kembali mendirikan perusahaan pemasok pasir, PT Pasir Bumi Nusantara. Salah satu adiknya, Faizal Kadni dipercaya untuk menjalankan usaha tersebut. Dalam hitungan bulan saja, PT Pasir Bumi Nusantara mampu memasok pasir ke Cibubur dan Jalan Kali Malang sebanyak 600-800 kubik per hari.
Si bungsu, Faizin Kadni yang pilih tinggal di Yogyakarta mendirikan perusahaan travel PT. Radin Pratama yang mengusung bendera Radin Tour. “Keberhasilan bukan semata-mata diukur dari banyaknya materi, tetapi juga keberhasilannya dalam membimbing adik-adik dan merukunkan keluarga,” kata Urpan.
Urpan sendiri sering mengatakan bahwa usahanya masih kecil. Namun orang lain, melihat pria ini sosok yang sukses. Buktinya, salah satu rumah produksi meminjam rumahnya untuk dijadikan lokasi syuting. Pelanggan lumpur pengeborannya juga perusahaan ternama, di antaranya Pertamina. Sedangkan penjualan kayu manisnya sudah merambah negara-negara di seantero dunia.
Ketika ditanya kiat suksesnya, Urpan mengatakan keikhlasan dan doa. “Ikhlas bukan berarti kita menyerah terhadp keadaan. Dalam berbisnis kita tetap harus berusaha keras. Berusaha untuk menciptakan produk berkualitas dan berusaha mendapatkan order sebanyak-banyaknya. Walau kita sudah bekerja keras tetapi kalau hasilnya tidak sesuai dengan yang ditargetkan kita harus ikhlas menerimanya. Itulah makna ikhlas yang saya maksud. Selain ikhlas adalah doa. Bagi saya doa itu yang pertama, baru kemudian berusaha. Tetapi banyak orang yang mengatakan berusaha dulu baru berdoa. Silakan, itu pilihan masing-masing orang. Dan jangan lupa, di balik keuntungan yang kita peroleh terdapat harta hak orang lain, diantaranya fakir miskin dan anak yatim piatu. Kalau kita memberikan hak-hak mereka Insya Allah rejeki kita lancar, seperti Salsabila (oase di surga yang airnya terus mengucur,” pungkas pria yang Agustus tahun lalu mengoperasikan SPBU Petronas di Lenteng Agung ini

Mada Azhari: “Passion Saya di Online”
Kegagalan mengelola beberapa bisnis menjadi pelajaran berharga bagi Mada Azhari. Kendati tidak memiliki latar belakang pendidikan media, ia punya ketertarikan yang besar terhadap bisnis media. Slamet Supriyadi
Usia muda selalu dipenuhi ide-ide kreatif. Termasuk semangat menyala-nyala yang seringkali membuahkan berbagai keputusan berani. Dalam banyak hal, para entrepreneur muda, khususnya, selalu berprinsip: cepat ambil keputusan, resiko belakangan. Karakteristik semacam ini sangat lazim dijumpai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mereka bahkan tak lagi memandang dunia bisnis sebagai ‘momok’ yang mesti ditakuti.
Keberanian. Itulah yang kerap diajarkan oleh Mada Azhari, pendiri sekaligus pemilik beberapa perusahaan. ”Saya sering menyarankan kaum muda untuk tidak takut terjun ke dunia bisnis. Pilihlah bisnis yang sesuai passion. Karena faktanya banyak pengusaha sukses yang lahir dari sana,” ujar Mada. Pria berusia 29 tahun ini tentu tidak asal bicara. Ia telah melewati beragam pengalaman bisnis dari yang manis hingga yang paling getir.
Ketika usaianya menginjak 24 tahun, misalnya, Mada ’dipaksa’ menerima tongkat estafet untuk melanjutkan bisnis percetakan yang telah dirintis orang tuanya. Sang ayah, meninggal secara mendadak karena sakit. Maka ia pun harus memikul tanggung jawab atas perusahaan yang sebenarnya sudah merangkak menjadi besar. Sebagai gambaran, dengan omzet mencapai ratusan juta, produknya sudah merambah ke berbagai negara. ”Salah satu produknya adalah stiker bir bintang yang sudah banyak dikenal masyarakat,” kata Mada sembari mengenang.
Namun semuanya berbalik. Keberhasilan yang telah dicapai dan dipupuk selama bertahun-tahun perlahan mulai surut. Mada yang selama ini hanya dilibatkan dalam urusan pemasaran, justru ditipu oleh orang kepercayaan ayahnya. Keterbatasan pengetahuan dalam hal produksi telah dimanfaatkan orang tersebut untuk membuat berbagai proyek fiktif yang merugikan perusahaan. Alhasil, kondisinya terus memburuk. Sampai akhirnya pada tahun 2004 perusahaan tersebut benar-benar bangkrut!
Beban hutang yang ditinggalkan sangat besar, bahkan mencapai ratusan juta. ”Bisa dibayangkan, saya yang masih berstatus mahasiswa harus menanggung kewajiban yang begitu besar. Saya banyak didatangi pihak bank, debt collector hingga para preman yang bertujuan menagih hutang. Benar-benar situasi yang tidak menyenangkan,” tutur Mada. Tapi ia tidak ingin lari dari tanggung jawab. Dengan modal keyakinan pelan-pelan hutang yang begitu besar akhirnya bisa dilunasi.
Itu bukan satu-satunya kisah sedih yang dialami Mada. Masih ada yang lain, tepatnya, ketika ia dan beberapa rekannya mengelola bisnis media dengan menerbitkan majalah Entrepreneur Indonesia (EI). Majalah tersebut awalnya hanya untuk konsumsi mahasiswa serta sebatas lingkungan kampus. Tapi lantaran penyajiannya yang menarik mampu membetot perhatian para pembaca umum.
Tapi apa yang terjadi kemudian? Keberhasilan EI ternyata mengusik media lain yang sudah ada sebelumnya. “Nama media tersebut ternyata sudah dimiliki oleh sebuah badan usaha di luar negeri. Majalah kami akhirnya disomasi. Tidak tanggung-tanggung, kami dituntut denda sebesar US$5 juta. Sebuah angka yang sepktakuler bagi kami para mahasiswa,” tandas alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.
Setelah berkonsultasi dengan pihak-pihak yang mengerti masalah hukum, Mada menyadari pihaknya kecil kemungkinan untuk memenangkan gugatan tersebut. Selain faktor besarnya gugatan, kasus ini juga masuk dalam wilayah hukum internasional. Artinya persidangan akan dilangsungkan di luar negeri. Maka, tak ada jalan lain, ia dan tim EI memutuskan untuk mengistirahatkan majalah yang sempat menyentuh oplah 5 ribu tersebut. Padahal, seperti diceritakan, beberapa perusahaan besar telah menjalin kerjasama diantaranya, Bank Rakyat Indonesia, Medco Energy, Antam maupun PT. Telkom.
Matinya EI tidak lantas membunuh kreatifitas mereka. Apalagi jejaring yang terbangun sudah sedemikian luas dan bisa menjadi modal penting dalam merancang kembali bisnis sejenis. “Saya sempat vakum beberapa waktu. Sampai akhirnya saya dan rekan-rekan tadi mencoba mendirikan perusahaan Media Citra. Sesuai namanya, kita ingin memberi kontribusi bagi sejumlah korporasi agar citranya kian positif. Bentuknya berupa media internal,” kata pria kelahiran 10 November 1980 ini.
Konsep media internal yang ditawarkan rupanya menarik minat korporasi besar seperti Bakrie. Mereka adalah klien pertama yang menggunakan jasa Media Citra dan berlanjut hingga sekarang. Selanjutnya, sejumlah klien lain mulai bergabung antara lain Arutmin, Bumida, Medco, dan lain-lain. Seiring meningkatnya kinerja dan pamor Media Citra, maka mulai banyak investor yang tertarik meminangnya. Ibarat kembang, Media Citra dikerubuti banyak kumbang.
Kondisi demikian sudah pasti memberikan kebanggan bagi para pendiri, termasuk Mada. Kendati begitu, mereka menyadari akan dampak dari perubahan yang terjadi. "Dengan masuknya beberapa invetor maka saham kami menjadi minoritas. Tapi kami puas bisa membesarkan perusahaan tersebut," kata Mada yang kini menjabat sebagai salah satu komisaris ini.
Kreativitas Mada tidak lantas mandek sampai disitu. Ia kemudian merancang untuk membesut perusahaan lain. Maka lahirlah Inventco Netmedia. Sebuah internet marketing company yang membantu mengarahkan agar sebuah web bisa dikunjungi ribuan traffic setiap harinya. Namun strategi komunikasi pemasarannya ditentukan berdasarkan target audience. Dengan menentukan keyword secara tepat secara geo targeting maka akan diperoleh hasil yang efektif. “Jadi ada semacam online campaign,” tandas Mada yang menjabat CEO Inventco Netmedia ini.
Responnya cukup besar kendati ia menyadari bahyak perusahaan di Indonesia yang belum aware terhadap internet. “Untuk CEO yang usianya di bawah 35 tahun, atau General Manager yang berusia antara 20-30 tahun biasanya gampang menangkap gagasan perusahaan kita. Tapi kalau usianya di atas 50 tahun agak repot karena urusannya diserahkan ke anak buah,” ujarnya sedikit mengilustrasikan. Meski terbilang sulit, toh beberapa perusahaan besar sudah memutuskan menjadi kliennya. Sebut saja, Padang Digital, Tropicom Utama Furniture, Sampoerna A Mild, Bakrie telecom serta beberapa lainnya.
Tidak puas hanya mengelola Inventco, Mada juga dipercaya mengelola versi online PassionMagz.com. Menurut pria yang menjabat Chief Editior ini, awalnya memang berbentuk majalah yang dikelola oleh sebuah agency. Tapi Januar Darmawan, sang pemilik, memutuskan untuk menutup majalah tersebut dan mengganti menjadi online.
Jika dicermati hampir sebagian besar bidang yang digeluti Mada selalu berkutat dengan media, khususnya online. “Passion saya memang di online,” tegasnya. Lantas apa yang ingin dicapai. “Tergetnya tidak terlalu muluk. Saya hanya berharap Inventco bisa menjadi perusahaan internet marketing terbesar yang bakal diperhitungkan,” pungkas Mada yang juga menjadi mengelola online lintasalumni.com tersebut.

Jika ingin mengutip atau menyebarluaskan artikel ini harap mencantumkan sumbernya.s8





Nasib Membubung Bersama Ikan Asap
Sejauh ini, ikan masih dipandang kalah gengsi dibandingkan ayam, sapi, kerbau, dan kambing. Tapi, setelah diolah menjadi ikan asap ala Amril, lauk siap makan ini mampu menembus pasar swalayan besar, bahkan melanglang buana. Russanti Lubis
Sebagian besar anggota masyarakat berpikir bahwa makan daging ayam, sapi, kambing, atau kerbau lebih bergengsi dibandingkan makan daging ikan, mengingat harga daging keempat hewan tersebut di atas jauh lebih mahal daripada daging ikan. Padahal, meski lebih murah, ikan juga sama gurih dan lezatnya dengan ayam, sapi, kambing, dan kerbau.
Selain itu, ikan juga mengandung sejumlah khasiat bagi tubuh karena mengandung di antarnya omega-3 yang merupakan komponen penting dalam pembentukan otak dan omega-6 yang dapat menurunkan risiko serangan jantung dan stroke.
Di sisi lain, di luar sana telah terjadi pergeseran menu makanan yaitu dengan beralih ke makan ikan. Untuk itu, agar orang-orang mau makan, satwa air ini diolah menjadi berbagai menu makanan. Bukan sekadar dibakar, digoreng, digulai, atau dipepes melainkan juga diolah menjadi ikan asap. Bertolak dari hal itulah, H. Amril Lubis mengolah ikan asap di “pabriknya” yang terletak di Citayam, Bogor.
Namun, berbeda dengan pengolahan ikan asap pada umumnya yang masih bersifat home industry dan memakan waktu 24 jam–26 jam, ikan asap hasil karya Amril hanya membutuhkan waktu empat jam demi alasan efisiensi, tanpa mengurangi kelezatan rasanya. Keuntungan lain dari hasil karyanya ini yaitu rasio ikan yang dihasilkannya yaitu 1:1,8 (1 kg ikan asap dihasilkan dari 1,8 kg ikan segar) padahal aslinya 1:5 (1 kg ikan asap dihasilkan dari 5 kg ikan segar). “Tapi, dengan alasan ekonomis, biasanya saya 1:3 (menghasilkan 1 kg ikan asap dari 3 kg ikan segar). Dengan cara ini, kadar gizi ikan asap saya juga lebih tinggi,” jelasnya.
Pada dasarnya, ia melanjutkan, semua jenis ikan dapat diasapi, terutama yang berdaging tebal, seperti ikan patin dan ikan lele (ikan tawar) serta ikan marlin, ikan tuna, dan ikan cakalang (ikan laut). “Ikan-ikan segar yang kami ambil dari Muara Angke dan Muara Baru tersebut, kami olah secara tradisional. Dalam arti, tidak menggunakan bahan kimia dan bumbu apa pun, sehingga ikan yang dihasilkan asli rasa ikan tersebut. Singkat kata, ikan asap itu lezat karena daging ikan itu memang enak. Nah, untuk menambah kelezatannya, saya sarankan untuk menyantapnya cukup dicocolkan ke sambal instan atau sambal kecap,” ujarnya.
Lauk siap makan ini, juga mampu bertahan selama setahun dan aman atau terbebas dari bau busuk, sebab disimpan dalam lemari pendingin bersuhu –15° C. Untuk menyantapnya harus dipanaskan dalam oven/microwave atau dikukus terlerbih dulu. Dengan merek dagang Aneka Ikan Asap Citayam yang diproduksi oleh Petikan Cita Halus, produk ini dapat dijumpai di UKM Center Tanah Abang, Jakarta Pusat, dan Giant-Hero dengan harga Rp48 ribu–Rp80 ribu/kg (dalam bentuk curah), Rp15 ribu–Rp20 ribu (untuk kemasan 205 gr).
Namun, dengan pemasaran ke seluruh Indonesia melalui pasar swalayan tersebut dan Uzbekistan, Kyoto, serta Kuala Lumpur, omset yang dikumpulkan Amril jauh lebih kecil dari yang diharapkan. “Sebagai UKM, saya masih membutuhkan dukungan dana dan pemasaran,” kata Amril, yang dalam waktu dekat ini produknya juga dapat dijumpai di Makro dan Carrefour.
Merunut ke belakang, setelah pensiun dari sebuah perusahaan perminyakan (tahun 2001), Amril ingin membuka usaha pembenihan ikan di 11 kolam ikannya yang masing-masing seluas 23 m² x 13 m². Di kolam-kolam tersebut, ia menebarkan benih-benih ikan emas, patin, gurame, bawal, nila, lele, dan tembakang, masing-masing sebanyak 10.000 benih. Sekadar informasi, waktu itu, harga 10.000 benih ikan hanya Rp1 juta.
“Saya bukan ahli perikanan tetapi cuma ingin berbisnis pembenihan ikan. Imbasnya, saya terkaget-kaget ketika 8–9 bulan setelah benih ditebarkan, saya harus memanen 5 ton ikan. Meski sudah dimanfaatkan dengan berbagai macam cara dan dibagikan kepada para tetangga, ikan-ikan ini tetap tidak habis,” tutur alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi YAPPAN, Jakarta, ini.
Untuk mendapatkan nilai tambah, pada pesta ulang tahun putrinya (tahun 2002), ia mengolah ikan-ikan tersebut menjadi ikan asap yang sebagian dibagikan kepada para tetangga. Komentar mereka, ikan asap itu enak. Selanjutnya, ia membagikan ikan-ikan asapnya ke mantan teman-teman kantornya. “Hasilnya, mereka langsung memesan 2 kg–3 kg,” ujar kelahiran Lubuk Sikaping, Sumatra Barat, 62 tahun lalu itu.

Kabar tentang kelezatan ikan asapnya sampai di telinga tetangganya yang lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB). Selanjutnya, pada tahun 2003, Amril diajak untuk bertemu dengan dosennya guna mempresentasikan ikan asapnya. “Saya berharap dengan pertemuan tersebut, bila nantinya saya akan mengkomersialkan ikan asap ini dan ada konsumen yang komplain, maka saya bisa memberikan jawaban,” katanya. Hasilnya, ia diangkat menjadi 43 UKM binaan IPB dan beberapa hari kemudian ia diundang untuk mengisi stand dalam acara ulang tahun IPB.
Pada tahun 2004, dengan modal nekad, Amril mengikuti pameran produk ekspor di Kemayoran. Dalam acara tersebut, brosur dan kartu namanya sampai ke tangan ajudan Megawati yang waktu itu menjabat presiden dan membuka pameran itu. Tiga hari kemudian, ia diundang secara resmi untuk menghadiri acara yang dihadiri para atase perdagangan RI di luar negeri.
Pada akhirnya, usaha main-main ini berubah menjadi bisnis keluarga, yang menyerap 25 tenaga kerja dari kalangan anak-anak putus sekolah dan mantan anak jalanan. Dengan bantuan mereka dan empat dapur pengasapan, usaha ini setiap hari mampu memproduksi 1 ton ikan asap. Sayangnya, tidak semuanya dapat diserap pasar. “Hingga akhirnya pemerintah memberi saya tempat di UKM Center Tanah Abang ini agar dapat diketahui masyarakat luas,” ungkapnya.
Sekitar Bulan Juli/Agustus 2005, ketika ia diundang Departemen Koperasi dan UKM untuk mengikuti pameran di Gedung SPC, salah seorang staf Giant-Hero mengambil brosur produknya. Selanjutnya, ia diundang ke sana. “Berdasarkan kesepakatan, saya harus memasok ikan pari asap sebanyak 5 kwintal per minggu,” ujarnya. Tapi, karena pasar swalayan ini tidak mampu menjualnya, permintaan akan ikan pari asap hanya berjalan tiga bulan dan selanjutnya diganti dengan berbagai ikan asap lain, seperti ikan marlin, cakalang, tuna, dan kakap merah. Selain itu, Amril juga akan mengirim pesanan ke Belanda sebanyak 5 ton lele asap per bulan dan 18 ton semua jenis ikan asap ke Timur Tengah melalui Singapura.
Apa pun kendalanya, ikan asap yang dianggap produk etnik oleh masyarakat mancanegara ini, memiliki masa depan sangat bagus. Apalagi trend masyarakat sekarang yang tidak hanya makan makanan yang enak tetapi juga sehat. Jadi tidak salahnya menjadikan ikan asap sebagai solusinya.
Keunggulan Ikan Asap Olahan Amril
- Ikan asap ini hanya membutuhkan waktu pengolahan empat jam (umumnya 24–26 jam).
- Rasio ikan yang dihasilkan 1:3 (1 kg ikan asap dari 3 kg ikan segar), umumnya 1:5 (1 kg ikan asap dihasilkan dari 5 kg ikan segar). Dengan cara ini, kadar gizinya lebih tinggi.
- Ikan asap ini tidak menggunakan bahan kimia dan bumbu apa pun, sehingga kelezatan rasa ikan yang dihasilkan asli dari rasa enak ikan tersebut.
- Lauk siap makan ini mampu bertahan selama setahun dan aman atau terbebas dari bau busuk, sebab disimpan dalam lemari pendingin bersuhu –15° C.
Jika ingin mengutip atau menyebarluaskan artikel ini harap mencantumkan sumbernya.


Ban dan Sparepart RC Dari Cibarusah
Lewat tangan dingin Asep, kini pehobi radio control bisa menikmati aksesoris dengan harga kompetitif. Produk Pro Champ nya kini telah diekspor ke-23 negara.
Wiyono
Radio control (RC) sebagai wahana mainan bergengsi bagi kalangan menengah ke atas kini semakin populer saja. Tidak hanya di Jakarta, mainan miniature mobil, pesawat hingga kapal ini sudah menjalar ke berbagai kota seperti : Semarang, Bandung, Medan, Denpasar, Solo, Jogyakarta, Surabaya, Batam, Cirebon, Makassar dan lainnya. Para pehobi jenis yang satu ini pun tidak segan-segan merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah sebelum ikut bermain atau berpacu di arena kejuaraan. Pasalnya, meskipun yang di pakai bukanlah mobil atau kendaraan sungguhan, semua mafhum harganya cukup mahal karena hamper seluruh produknya dari mancanegara. Biaya perawatannya juga bisa dibilang tidak sedikit.

Lantaran masih banyaknya produk impor ini, membuat Asep Tomy T, Manager Engineering and Quality Control Division PT Sanoh--perusahaan komponen otomotif asal Jepang yang khusus memproduksi pipa karet rem, power steering--gerah. Dia melihat banyak sekali peluang yang bisa digarap dibalik permainan hobi itu. Salah satunya, yakni membuat ban mobil RC, komponen plastic, berikut velg serta aksesoris lainnya. “Sejak menerjuni hobi RC sekitar 4 tahun lalu, hampir rata-rata pehobi RC sebulan sekali harus ganti ban. Padahal asal tahu, satu set ban berikut pelek impor seperti Proline. Bow Tie harganya di atas Rp 500 ribu,” tuturnya.
Dari pengalaman kurang nyaman itu membawa Kang Asep--begitu sapaan akrabnya—mencoba membuatnya sendiri. Pengalamannya selama sepuluh tahun bergelut dengan karet, adalah modal yang sangat berharga dalam menekuni bisnis barunya. ‘Awalnya saya coba menganalisa sampai akhirnya saya familiar dengan jenis bahan karet untuk ban RC. Setelah saya mulai membuatnya hingga keluar produk pertama,” tuturnya.

Proses trial ini berlangsung hampir tujuh bulan dengan biaya tak kurang dari Rp 100 juta. Menurut Asep, karet agak sulit tidak seperti plastik dalam proses pencampurannya. Selain uji coba di laboratorium, dia juga langsung uji coba produk tersebut di lapangan. “Saya sampai menghabiskan tiga mesin untuk uji coba tersebut,” kenangnya. Beberapa teman dia, sesama pehobi RC juga disuruh untuk memakai produknya. Dalam setiap kesempatan, dia juga berpromosi kepada sesam pehobi RC mancanegara yang kebetulan sedang bermain di Indonesia. Produk yang belum diberi label itu, ternyata cocok dengan kondisi track RC baik di Eropa, AS, Jepang, Thailand. Mereka memuji produk ban buatannya. Akhirnya, setelah merasa yakin dengan kualitas produk tersebut, Asep memberi brand produk bannya itu Pro Champ yang merupakan akronim dari Profesional Champion.

Menurut Kang Asep, ada peristiwa yang menarik sejak ban yang belum diberi nama itu go internasional, meski masih dalam rangka promosi gratis. Salah satu produsen aksesoris terkenal mancanegara meniru produknya. Dan, celakanya, produk tersebut lebih dulu beredar di pasar domestik. Namun, dia tak khawatir dengan produk tiruan tersebut. Sebab, kualitasnya berbeda. Motif ban atau tekstur memang bisa dijiplak. Namun, hasilnya pasti tidak bakalan sama apabila formula materialnya berbeda. “Yang tahu formulanya kan saya. Terus terang produk Pro Champ tidak bisa mengkilap seperti produk kompetitor, sebab kalau mengkilap tidak ada magnetnya,” imbuhnya. Inilah perbedaan Pro Champ dengan kompetitor.

Sebelum berbisnis sprare part RC, Asep telah menekuni bisnis plastik yakni boks kain sarung yang akan diekspor atau dipasarkan di dalam negeri. Hampir seluruh produsen sarung di Tanah Air, mulai dari Bandung, Pekalongan hingga luar Jawa adalah konsumennya. Hanya, produksi boks tersebut terbatas, mengingat ada jeda yang cukup panjang antara produk yang dijual dengan pesanan. “Kadangkala pesanan datang dalam jumlah besar. Lalu vacuum selama 4 bulan. Baru menjelang Lebaran datang pesanan lagi. Begitu seterusnya,” katanya.
Model ban yang pertama keluar dinamai Astom (Asep Tomy), tidak lain kepanjangan dari namanya sendiri. Seterusnya menyusul model-model yang lain berikut aksesorisnya meliputi velg, spoiler (sayap belakang), clutch( kanvas kopling), seal shock absorber, seal manifold—karet pelindung antara mesin dan knalpot, sehingga totalnya mencapai 20 item produk. Semua produk tersebut bermerek Pro Champ.
Khusus untuk ban, Kang Asep sengaja membuat 3 varian yakni soft, medium, hard dan 2 buah varian medium dan hard untuk velg, tujuannya tidak lain supaya menjangkau semua karakter sirkuit. “Untuk yang ahli saya keluarkan Pro Champ World yang dapat membuat mobil RC lebih agresif. Tetapi jika terlalu agresif, bisa pakai ke DiggerTF. Bila ternyata masih liar pemain bisa pakai Astom. Saya yakin mobil pasti diam. Sedangkan Pro Lime untuk track basah,” paparnya tentang beberapa tipe ban produknya. Pro Champ meluncurkan 10 item produk.
Semula, Asep mengaku pada awalnya merasa belum terlalu yakin terhadap animo pembeli, mengingat pehobi RC disini yang cenderung brand minded. Pada waktu itu pria 37 itu malah belum berani mencantumkan label ‘Made in Indonesia’ pada ciptaannya tersebut. Launching produk pertama pada bulan Maret 2006 lalu dengan membagi-bagikan sample gratis kepada peserta dilakukan di Bandung bukan di Jakarta. Maksudnya agar citranya tidak terlanjur menyebar luas apabila masih terdapat kekurangan.
Ternyata, seperti diceritakan, respons yang diperoleh cukup menggembirakan. Sebelum menentukan besar jumlah produksi Asep mengaku melakukan semacam intelijen marketing, di beberapa kejuaraan RC. Siapa yang memaki produk Pro Champ. Berapa produk Pro Champ yang menang dan sebagainya. Sementara di pemasaran ia juga tidak segan-segan memberikan sample produk gratis kepada banyak relasi diluar negeri dan mengharap kesediaan mereka sebagai agen distributor. Selain sudah menyebar di seluruh hobby shop lokal saat ini agen penjualan Pro Champ sudah terdapat di negara-negara seperti AS, Afrika Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, maupun Philipina. Pro Champ kini telah beredar di 23 negara di dunia. Sekarang, Asep tengah memenuhi permintaan produk ban RC dari sebuah perusahaan di Australia. “Material dari saya, desain dan merek milik mereka. Saat ini tengah proses penandatanganan MOU,” akunya.

Selama kurang lebih setahun, dalam sebulan Asep rata-rata mampu memproduksi 300-400 set (1 set @ 4 pieces) ban. Ban khusus untuk mobil buggy beserta pelek dilempar dengan harga Rp 300 ribu untuk tipe Astom. Harga ini sedikit bervariasi. Namun lebih murah ketimbang ban RC impor yang Rp 400 ribu-an. Untuk jenis Truggy yang baru akan di-launching misalnya, direncanakan harga ritelnya sekitar Rp 400- ribuan.
Saat ini, penjualan yang paling meledak adalah seal atau karet manifold. Begitu keluar di pasaran kini sudah terjual sekitar 15.000 pcs atau 7.500 set dengan harga Rp 25 ribu. Maka dengan total investasi sekitar Rp 200 juta dan rata-rata omset penjualan mencapai Rp 80-90 juta per bulan, Asep mengaku telah balik modal. “Mungkin sudah lebih ya. Sedangkan keuntungannya saya investasikan lagi,” kilahnya.
Kepada mitra bisnisnya, khususnya toko hobi (hobby shop) RC yang menjadi distributor Pro Champ Asep menerapkan sistem jual putus ketimbang konsinyasi. Sedangkan untuk pengiriman ke luar negeri dia mensyaratkan minimal order sebanyak 50 set dengan syarat tambahan tidak boleh pilih-pilih item produk. Artinya, kuantitas berbeda tidak masalah tetapi semua item harus ada.

Sampai saat sekarang Asep masih memanfaatkan jasa orang kedua untuk melakukan produksi atau semacam makloon. Dia optimistis bahwa prospek usahanya akan cerah. Sekarang dia tengah membangun workshop sendiri di dekat rumahnya, di Kawasan Cibarusah, Jabar. Rencananya, selain toko, disitu juga disiapkan arena bermain RC elektrik dan mesin, mulai dari mobil hingga helikopter. Bangunan tersebut tengah dipersiapkan dengan dana lebih dari Rp 1 miliar. Kelak, dengan selesainya tempat tersebut dia ingin menerapkan konsep one stop shopping di bisnis RC. “Yang jelas dengan keluarnya Pro Champ, pehobi bisa menyalurkan kesenangannya dengan harga yang murah,” ujarnya sedikit bangga.
Asep kini senang karena dia bisa menyalurkan hobi RC nya lewat bisnis yang kini tengah mekar. Kini, dia tak perlu lagi merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk hobi yang satu ini. Dan, satu lagi pehobi RC di Tanah Air pun boleh senang, karena sparepart RC bisa didapat dari merek lokal dan sudah pasti dengan harga lokal pula.

MULAI DARI TUTUP BOTOL

Asep memang dilahirkan dari keluarga pebisnis. Dua tahun lalu, kendati masih sebagai professional, dia memulai bisnis pengadaan tutup botol air minum dalam kemasan (AMDK) di Bandung. “Saya melihat peluang yang cukup besar dengan memproduksi tutup botol tersebut,” katanya. Ketrampilannya dan pengetahuannya dalam mencampur plastik, sangat mendukung bisnis ini. Banyak produsen AMDK di Bandung hingga sekarang masih mengorder tutup minuman buatannya.

Tak lama kemudian, setelah sukses di bisnis tutup botol, Asep diversifikasi ke cover sarung—kotak khusus sarung tenun--untuk ekspor. Bungkus sarung yang terbuat dari plastik itu banyak dipesan oleh beberapa produsen sarung dari Pekalongan, Bandung dan sekitarnya. Bahkan, tambah dia, produk cover ini juga dipesan oleh pabrik sarung di Malaysia. Asep mampu memproduksi rata-rata 150 ribu pieces cover plastic per bulannya. Dengan harga rata-rata Rp 13 ribu, omset mencapai lebih dari Rp 200 juta-an/bulan.

Sukses di bisnis ini tak menyurutkan langkah Asep untuk terus berkreasi. Hobi main radio control(RC) ternyata membawa berkah tersendiri. Dia melihat peluang, yakni dengan memproduksi aksesoris RC. Keahliannya di bidang plastik dan pengetahuannya di bidang karet, ternyata mampu menghasilkan produk local yang tidak kalah dengan produk impor. Bahkan, produknya kini beredar
di banyak Negara dan dipakai oleh pehobi RC kelas dunia.

Prospek Cerah Dari Tepung Darah



Selama ini limbah darah di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dibuang percuma. Dengan sentuhan inovasi, Alif mengubahnya menjadi tepung darah yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak. Wiyono

Darah. Perasaan ngeri atau bahkan jijik segera muncul saat membayangkan kata satu ini. Adalah lumrah apabila benda cair berwarna merah itu kemudian dianggap hanya sebagai limbah di setiap rumah pemotongan hewan (RPH). Karena masuk kategori barang buangan seringkali pemanfaatannya tidak maksimal atau terbuang percuma begitu saja. Asal tahu, sejatinya darah buangan itu masih memiliki nilai ekonomi yang lumayan tinggi. Bukan untuk kita konsumsi memang, tetapi setelah diolah menjadi tepung darah dapat dijadikan sumber pakan ternak atau pun pupuk tanaman. Pasalnya selain sebagai sumber protein yang amat bagus untuk penggemukan, kandungan nitrogen alami cukup tinggi sehingga bermanfaat sebagai pupuk organik.

Alif Nuranto adalah salah seorang yang memanfaatkan darah limbah RPH menjadi tepung. Kisahnya awalnya saat berniat membuka usaha pembuatan pakan ikan ia tahu bahwa salah satu bahan bakunya adalah tepung darah. “Saya tertarik untuk mengembangkan produk ini setelah orang tua saya menciptakan mesin yang dapat mengolah produk cair menjadi tepung. Di samping itu pemanfaatan darah dari limbah-limbah RPH saya lihat belum maksimal padahal darah akan bernilai ekonomis yang tinggi jika dibuat tepung,” tuturnya.

Selanjutnya darah cair akan berubah menjadi serbuk atau tepung setelah diproses menggunakan mesin spray dryer. Selain kandungan protein yang tinggi, keuntungan lainnya, butirannya sangat ringan, halus seperti powder sehingga amat mudah dicerna.
Sekadar informasi, Alif menjalankan bisnis orang tuanya Tanda Teknik - mengangkat nama daerah tempat tinggal mereka yaitu TANggulan DAgo -, workshop yang khusus membuat alat-alat dan mesin untuk keperluan laboratorium serta industri. Perusahaan ini dibangun pada tahun 1997. Pada awalnya workshop ini untuk melayani pembuatan alat/ mesin untuk skala laboratorium dan penelitian di ITB, kemudian dalam perkembangannya banyak menerima pesanan dari beberapa perguruan tinggi yang memiliki fakultas teknik di seluruh Indonesia.

Sedangkan kapasitas produksi tepung darah yang dihasilkan Alif selama sebulan sesuai kapasitas
mesin adalah sekitar 500 Kg. Harga produk di pasaran Rp 30.000/kg. Dikatakan, target pasar produk tersebut adalah para pelaku bisnis di sektor agro industri terutama di bidang peternakan dan pertanian. Saat ini konsumen yang membeli produk dari bapak satu anak ini berasal dari Bandung, Tangerang, Bogor, dan Subang. “Pernah ada permintaan dari Jepang tetapi karena keterbatasan kemampuan modal kami tidak dapat memenuhi,” akunya.

Soal bahan baku, dikatakan, ia tidak menemui kendala dan jumlahnya cukup melimpah. Namun untuk saat ini karena alasan keterbatasan modal usaha sehingga produksi hanya dikerjakan berdasarkan pesanan. Padahal ia amat yakin bisnis ini menurutnya merupakan bisnis masa depan yang mempunyai prospek yang cerah. “Produk yang memiliki berbagai manfaat seperti kualitas yang baik, efisiensi dan nilai yang tinggi tentunya akan sangat dibutuhkan di masa yang akan datang apalagi sektor agribisnis merupakan basic perekonomian negara kita,” tukasnya.

Diungkapkan lulusan Teknik Planologi ITB itu, untuk sementara waktu pembuatan pakan ikan dengan bahan baku utama menggunakan tepung darah itu masih dilakukan sendirian saja. Tetapi jika nanti seiring permintaan tepung darah terus meningkat maka ia siap bekerja sama dengan investor.
Sayangnya, Alif enggan menyebutkan dengan pasti besarnya investasi untuk usaha ini termasuk besarnya modal awal pada saat riset pembuatan mesin spray dryer sehingga dapat berjalan dengan baik. Yang jelas saat ini dia memiliki karyawan berjumlah 10 orang, terdiri 3 orang tenaga ahli, 4 orang operator , 2 orang administrasi dan 1 orang pembantu umum. Ia juga telah dimintai memasok produk pellet yang menggunakan tepung ikan kepada para petani tambak di bendungan Jatiluhur dan Subang.


Tempe Pun Sampai ke Mancanegara

Dengan memodifikasi bahan baku dan eksperimen produk Zaeni berhasil mengembangkan tempe nya ke Australia dan Jepang. Kiatnya? Russanti Lubis

Orang bule makan tempe? Ya, makanan yang menurut sejarah berasal dari Jawa, khususnya Surakarta dan Yogyakarta, ini kini tidak hanya dikonsumsi masyarakat Indonesia, tetapi juga masyarakat mancanegara. Karena, lauk pauk yang kaya akan protein nabati dan serat seperti : kalsium, vitamin B serta zat besi ini dapat dijadikan sebagai pengganti daging, sehingga sangat digemari dan dicari oleh—terutama--kaum vegetarian di seluruh dunia.
Mengetahui hal ini, sebuah perusahaan ekspor impor makanan menggandeng Zaeni, pengusaha tempe di kawasan Buaran, Jakarta Timur, untuk mengekspor tempe ke Australia dan Jepang, pada 1997 lalu. Pengapalan makanan yang terbuat dari kacang kedelai yang difermentasikan ini, dilakukan dua kali dalam setahun, masing-masing sebanyak 5 ton kedelai atau kira-kira setara dengan 15 ribu bungkus tempe.

“Awalnya, sebuah perusahaan ekspor impor makanan ingin mengeskpor tempe. Lalu, perusahaan tersebut mencari ‘perusahaan’ tempe yang bukan cuma produknya yang memenuhi standarisasi sebuah usaha, melainkan juga tempat usahanya. Kebetulan, seorang kenalan dari Departemen Perindustrian menawarkan kerja sama tersebut ke saya. Peluang itu saya, ambil,” kata Zaeni, pengusaha tempe ekspor.
Sebelum tempe diekspor, Zaeni harus melakukan riset secara bertahap untuk memastikan bahwa produk tersebut aman dikonsumsi oleh masyarakat mancanegara. Selama setahun, dia harus melakukan berbagai eksperimen. Sesudah itu, baru dikirimkan ke Australia dan Jepang. Mula-mula 5 kg/bulan untuk masing-masing negara, kemudian 10 kg/bulan, dan akhirnya 5 ton/negara setiap setengah tahun. “Proses itu berlanjut sampai sekarang,” ujar Zaeni, mengisahkan ekspor tempenya.

Apa sih hebatnya tempe Zaeni sehingga mampu diekspor? “Saya menggunakan kedelai yang lebih berkualitas dan melalui proses seleksi yang ketat. Hanya kedelai yang berwarna putih bersih yang saya gunakan. Karena itu, tempe saya mampu bertahan selama setahun, sedangkan yang untuk pasar lokal hanya bertahan 2 sampai 3 hari. Selain itu, tentu saja harganya lebih mahal, dua kali lipat daripada yang untuk konsumsi setempat,” ujarnya. Sekadar informasi, untuk tempe mendoan, Zaeni menjualnya dengan harga Rp500/bungkus, untuk yang dibacem atau digoreng biasa Rp150/bungkus, dan yang dikemas dalam plastik dengan berbagai ukuran Rp2.500,- hingga Rp4.000,- per kemasan.

Selain membuat tempe, Zaeni yang membangun usahanya sejak 1978 juga membuat susu kedele sebagai alternatif susu untuk bayi. Namun, karena mahalnya biaya produksi, susu tempe ini masih disimpan di laboratorium dan belum diproduksi serta dipasarkan. Di samping itu, saat ini ia juga sedang menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan untuk memproduksi dan mengembangkan kerupuk tempe, yang nantinya dipasarkan ke luar negeri. “Sebenarnya, apa yang saya lakukan itu hanyalah bagian dari percobaan-percobaan untuk membuktikan bahwa tempe bukan cuma dikonsumsi dengan cara yang begitu-begitu thok, melainkan juga dapat dikembangkan sama halnya dengan terigu, sehingga orang tidak jenuh makan tempe,” jelasnya.
Zaeni optimistis pasar tempe masih terbuka luas. Apalagi kalau mau terus menekuni dan belajar. Ide-ide baru dicoba, inovatif, “saya yakin pasar untuk tempe selalu ada.” Karena, sama halnya dengan bisnis-bisnis pada umumnya, dalam bisnis tempe, tidak cukup sekadar mengetahui bagaimana caranya membuat tempe, melainkan juga segala tetek bengek usaha ‘pertempean’ seperti bagaimana caranya membuat konsumen tidak membeli tempe sekali saja dan dalam jumlah sedikit, tetapi berkali-kali dan dalam jumlah banyak. Bukan cuma sudah merasa mampu membangun bisnis tempe, melainkan juga siap mental dan modal. Bukan hanya fokus pada produksi, melainkan juga menguasai pasar. “Semua ini bagian dari pemasaran juga loh,” katanya.

Selain itu, tambah dia, di satu sisi, usaha tempe juga sangat menolong mereka yang putus sekolah dan tidak berpeluang menjadi karyawan. Sebab, tempe merupakan bisnis dengan modal kecil dan bahan baku gampang. Di sisi lain, merajalelanya penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh daging, flu burung misalnya, bisa mendongkrak penjualan tempe hingga 10%. “Jika dalam satu pasar terdapat kira-kira 40 pengusaha tempe dan masing-masing memproduksi 100 kg kedelai/hari, total dalam sehari diproduksi 4 ton kedelai. Dengan adanya kenaikan penjualan 10%, berarti terjadi kenaikan produksi 400 kg kedelai/hari. Sebuah bisnis yang murah meriah, bukan?” imbuhnya.

Zaeni sendiri membangun bisnis ini dengan modal Rp1 juta dan omset harian 200 kg kedelai atau setara dengan Rp 800 ribu/hari. Setiap hari, dia dan lima karyawannya memproduksi 200 kg sampai 300 kg kedelai atau sama dengan 600 bungkus tempe dengan berbagai ukuran dan kemasan. “Kami berproduksi setiap hari, tidak ada istilah libur di sini. Karena, orang juga tidak pernah libur makan tempe, bukan?” timpalnya. Selanjutnya, tempe-tempe itu dibawa ke pasar. Di samping menjual eceran untuk konsumen, tempe itu juga dijual secara grosiran atau memasok ke para tukang sayur, yang dianggap sebagai agen. Kepada para agen, saya menjual lebih murah sekitar 40%,” ujar Zaeni yang mengembangkan usaha tempenya di home industry sekaligus rumah tinggalnya seluas 225 m².

Kedepannya, Zaeni berencana mengembangkan pasar tempenya lebih luas lagi. Selain pasar domestik, dia masih mencari peluang pasar mancanegara lainnya, di luar Jepang dan Australia. Ibarat plesetan motto sebuah media, tempe (memang) enak dimakan dan perlu, menjanjikan omset menggiurkan pula.


Menggebrak Pasar Lewat Produk Minuman Speciality
Yuki,Vizone dab Extra Tozz, adalah produk minuman baru yang diluncurkan oleh PT Adrian Trans Retailindo. Penjualan bagus, di sektor ritel dan lewat jaringan rumah sakit.
Sepintas, bangunan yang terletak di Kawasan Taman Tekno, BSD City itu hanya berupa ruko, lazimnya gedung-gedung yang berdiri megah di kompleks tersebut. Namun, bila Anda masuk ke dalam, disitu Anda akan menjumpai sebuah proses produksi beberapa produk minuman kesehatan mulai dari pengisian hingga pengemasan. Jumlah karyawannya tidak banyak. Hanya 20 orang. Tapi, siapa sangka dengan jumlah SDM yang terbatas ini, produk minuman yang dihasilkan telah merambah ke berbagai daerah di Tanah Air, mulai dari Sumatera hingga Papua. Tempat itu adalah milik PT Adrian Trans Retailindo (ATR), produsen minuman merek Vizone, Yaki dan Ektra Tozz.
ATR lahir hasil dari pengamatan pasar yang masih menjanjikan, terutama bagi bisnis minuman kesehatan. Selain populasi penduduk yang besar atau pasar yang potensial, bidang consumer goods masih memberikan keuntungan yang lebih besar ketimbang hanya menjadi distributor atau toko ritel. Demikian aku Sulanto Tarino, Direktur ATR, pendiri sekaligus pembuat ketiga minuman tersebut. “Semula kami hanya distributor produk minuman tertentu. Namun, marjin yang kami peroleh sangat tipis. Lalu kami banting stir dengan membuat brand sendiri,” ujarnya.
Membuat minuman kesehatan bukanlah hal sulit. Apalagi bagi Sulanto. Pengalaman 12 tahun dibidang distributor bahan baku minuman kesehatan dan susu, telah menjadikannya piawai dalam hal mengolah minuman dan makanan ini. Pengalamannya makin bertambah lantaran pihak prinsipal sering mengundangnya untuk pelatihan, baik di pabrik di Perancis, Australia maupun Kanada. “Ilmu yang saya peroleh ini coba saya aplikasikan dengan membuat brand minuman sendiri,” katanya.

Pada Februari 2007 lalu, dengan modal Rp 250 juta hasil patungan dengan rekannya, Sulanto mendirikan pabrik minuman sendiri. Selain memproduksi dan memasarkannya sendiri, dia juga merekrut ahli-ahli riset dan pengembangan (R&D/research and development) untuk membuat beberapa jenis minuman. Vizone, Yaki dan Ektra Tozz adalah hasilnya
Dan, pasar pun tampaknya merespons kehadiran ketiga merek minuman tersebut. Sejak diluncurkan pertama kali Februari lalu penjualan cukup bagus. Meski tidak melonjak secara drastic, penjualan tumbuh cukup signifikan. Permintaan di beberapa daerah maupun distributor cukup lumayan. Disamping itu, ATR juga menjalin kerjasama dengan beberapa rumah sakit untuk jaringan pemasarannya. Total produksi sekarang mencapai 280 ribu karton/bulannya. “Saya yakin dalam bulan-bulan mendatang jumlah itu akan bertambah, seiring dengan makin meratanya jaringan pemasaran kami,” tutur Sulanto.

Optimisme ini juga didukung karena, produk-produk minuman ATR memilik kekhasan tersendiri dibanding dengan minuman kesehatan sejenis. Baik Yaki, Vizone atau Ektra Tozz, adalah minuman tidak hanya termasuk minuman kesehatan saja, tapi mengarah ke minuman speciality. Untuk produk Yaki, misalnya, tambah Sulanto, mungkin baru satu-satunya minuman kesehatan yang didalamnya terdapat gel (agar-agar). Jika dilihat dari kemasannya, minuman itu terlihat biasa saja. Tak terlihat endapan ataupun bahan lain di dalamnya. Tapi, jika diminum seolah-olah ada agar-agar didalamnya. “Untuk itulah maka kami memakai tagline feel the unscreen,” tambahnya. Minuman yang termasuk dalam kategori fiber ini dikemas dengan teknologi tertentu yang bagus untuk pencernaan. Fungsinya, membantu penyerapan lemak yang akan dibuang ke tinja. “Minum Yaki Anda akan terasa kenyang.” Beberapa rumah sakit, kabarnya telah menggunakan produk minuman ini untuk pasien tertentu.
Di samping itu, dari segi kemersial, baik Yaki, Vizone maupun Ektra Tozz, memiliki kemasan yang berbeda. Differensiasi yang dicanangkan manajemen ATR tidak hanya pada urusan rasa atau sebagai minuman kesehatan saja, namun dalam botol dan harga. Ketiga minuman itu memang diposisikan pada segmen menengah bawah dengan harga mulai seribu hingga tiga ribu rupiah. ”Bandingkan dengan produk sejenis, pasti harga kami lebih murah. Meski murah, tapi kami tidak mengurangi kualitas produk minuman itu,” ujar Sulanto lagi.

Sulanto mengakui, sampai saat ini ketiga produk minuman itu belum masuk di toko swalayan atau dept store terkenal. Baginya, itu hanya masalah waktu. Karena, disamping produk baru, pihaknya lebih berkonsentrasi membangun jaringan terutama di sektor ritel bawah, mengingat segmen yang dibidik adalah menengah bawah. Tapi dia optimistis dalam waktu dekat baik Vizone, Ektra Tozz maupun Yaki, akan beredar di toko-toko swalayan terkenal.





Selai Rosella, Sehat dan Kaya Khasiat
Anda suka menambahkan selai pada roti yang hendak hendak dihidangkan pada saat sarapan? Tak ada salahnyauntuk mencoba selai rosella. Rasanya hampir sama dengan selai strawberry, tapi selai ini juga memiliki khasiat mencegah berbagai macam penyakit. Anita Surachman
Banyak sekali tanaman khas negeri kita yang enak disantap sekaligus mujarab untuk dijadikan obat. Salah satunya rosella (Hisbiscus sabdariffa), yang sudah dikenal oleh sebagian masyarakat Indonesia. Belakangan tanaman unik ini terus melejit pamornya. Tak lain karena rosella banyak diburu untuk dikonsumsi karena kaya khasiat. Sejumlah peneliti mengungkapkan rosella merupakan jenis tanaman herbal yang bisa digunakan sebagai obat maupun minuman kesehatan. Bahkan tak sedikit yang memanfaatkannya sebagai penambah aroma makanan.
Rosella, memiliki banyak sekali kegunaan untuk mencegah berbagai penyakit. Diantaranya, menjaga dan meningkatkan stamina, menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kekentalan darah (viskositas), menurunkan asam urat, menurunkan kadar gula, menurunkan kolesterol dan memperbaiki metabolisme. Tanaman ini juga memiliki sifat sebagai penetral racun, baik juga untuk mencerdaskan otak, melangsingkan tubuh, mencegah kanker, maag menahun, mengatasi gangguan pencernaan, serta memperlancar buang air besar.
Anda mungkin akan terkagum-kagum dengan khasiat tanaman ini. Selain sederet khasiat yang dimiliki rosella juga berguna membantu memulihkan dari ketergantungan obat, mengatasi gangguan kencing dan ginjal serta penyakit yang berhubungan dengan empedu, menyembuhkan batuk, dan masih banyak lagi.
Menyadari begitu tingginya khasiat yang terkandung pada tanaman tersebut, masyarakat kini mulai banyak yang mengembangkan tanaman rosella menjadi tambahan bahan makanan. Salah satunya adalah membuat selai dari rosella. Ide untuk menekuni bisnis semacam ini muncul dari Solikin, pria kelahiran Tulungagung 42 tahun silam. Ia merintis usahanya sejak tahun 2007, dengan dibantu oleh 2 orang karyawannya. Modal awal yang ia gelontorkan tidaklah besar. Hanya sekitar 40 juta yang ia gunakan untuk sewa lahan sebesar Rp35 juta dan sisanya dijadikan modal usaha.
Dari sebungkus teh merah rosella yang ia peroleh dari seorang rekannya, Solikin mendapat inspirasi untuk membangun sebuah bisnis. Kendati awalnya hanya dimanfaatkan sebagai minuman herbal, tapi ketika ia mengetahui khasiatnya yang begitu besar, Solikin berinisiatif untuk menanam tumbuhan tersebut. Sebagai uji coba ia memanfaatkan halaman rumah sebagai media untuk bercocoak tanam. Tak disangka usahanya berhasil, pendapatan pun mulai mengalir ke koceknya.
Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 93/April 2009.

Miniatur Moge, Bahan Murah Hasilnya Mewah


Ditangan orang-orang kreatif, barang yang tadinya tak berguna sekalipun bisa diubah menjadi tinggi nilai kegunaanya. Sendok dan garpu bekas misalnya, dalam sentuhan Aji Ali Syabana dapat bermetamorfosis menjadi miniatur Harley Davidson. Anita Surachman
Saat bersantap di meja makan, sendok dan garpu merupakan peralatan yang biasa akan Anda temui. Ya, bagi yang tak terbiasa bersantap dengan tangan, sendok dan garpu punya peran penting. Tapi pernahkan Anda terpikir peralatan tadi bisa menginspirasi munculnya sebuah kreatifitas yang unik? Lewat tangan-tangan terampil dari satu komunitas yang bernama Jabar Enterpreneur Community (JEC) –yang terletak di Jalan Karawitan No. 9, Bandung-- tercipta produk seni unik “hand made” berupa prototipe Harley Davidson (HD) dengan bahan baku sendok dan garpu.
Menurut pendiri JEC, Aji Ali Syabana, produk yang dihasilkan sebenarnya bukan hanya berupa prototipe HD saja melainkan hampir semua jenis prototype kendaraan dengan tingkat kesulitan masing-masing. Spesifikasi untuk satu prototipe HD biasanya menghabiskan enam setengah lusin sendok dan garpu. Rinciannya, untuk rangka memerlukan 10 sendok/2garpu, rangka velg 2 sendok/8garpu, cakram 4 sendok, knalpot 2 sendok, teng 4 sendok, stang 2 garpu, dop mesin 4 sendok/2garpu, lampu 2 sendok, sepakbor 4 sendok, dan aksesoris lainnya. Untuk membentuk miniatur motor gede ini digunakan peralatan tak ubahnya pertukangan misalnya, tang, gunting, gegep, paku, mur atau pemotong plat stainless dan lainnya.
Meski hanya sendok dan garpu bekas tapi bukan sembarang jenis yang digunakan. Tipe yang dipakai adalah sendok dan garpu Cina yang sebagian permukaannya bertekstur serta sendok tipe 509 polos. Jenis ini mempunyai tekstur yang lembut dan lebih efektif untuk dikreasikan. Bahan stainless sendok membuatnya tidak mudah karatan, serta perawatannya pun sederhana. Cukup dengan menggunakan kain dan pembersih stainless serta menambahkan semir sepatu untuk rodanya.
Rupanya Aji mempunyai alasan khusus memilih sendok dan garpu sebgai media kreatifitasnya. Selain unik, hingga saat ini belum ada produk kerajinan yang dibuat dari bahan itu. Melalui JEC ini Aji mencoba menyampaikan ‘pesan’ mengenai isu ramah lingkungan. Dari limbah-limbah sendok dan garpu yang tak terpakai, Aji, mencoba menyulapnya menjadi produk seni bernilai tinggi. “Bisa dibayangkan bila limbah sendok garpu rumah tangga yang dihasilkan tiap tahun dibuang percuma mungkin suatu saat menjadi bukit sendok garpu yang mengerikan sama halnya seperti sampah organik,” kata Aji.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 92/Maret 2009.

Kaos Kaki Soka, Menembus Pasar Global
Kreatifitas selalu menciptakan peluang. Aman Suparman membuktikannya dengan melakukan inovasi pada produk kaos kaki yang dihasilkannya. Permintaannya melonjak bahkan mampu menembus pasar ke manca negara. Wiyono
Jika disodorkan pertanyaan mengenai kata kaos kaki, orang akan langsung terpikir itu merupakan pelengkap bersepatu. Padahal siapa orangnya yang tidak memiliki sepatu? Maka ketika logika tersebut kemudian dibalik, kesimpulannya orang yang bersepatu pasti butuh kaos kaki. Boleh jadi satu orang (pria) cukup memiliki 2 atau 3 pasang sepatu. Tapi, tiap pasang sepatu biasanya butuh lebih dari sepasang kaos kaki. Tujuannya agar kita bisa sering gonta-ganti kaos kaki. Jika tidak, jangan tersinggung jika tetangga sebelah akan terus-terusan memencet hidung. Alasan lain dikarenakan masa pakai kaos kaki yang biasanya berumur lebih pendek alias cepat bolong jika dibandingkan dengan masa pakai sepatu.
“Saya tertarik menggeluti usaha kaos kaki karena punya pangsa pasar yang sangat besar. Apalagi saya punya kebiasaan memakai kaos kaki dengan model terbaru. Saya berpikir, pasti orang lain juga banyak yang punya kebiasaan seperti saya. Sehingga kebutuhan kaos kaki akan tetap tinggi,” ujar Aman Suparman, Direktur Utama PT Mitra Niaga Internasional (MNI). Perusahaan yang berpusat di Bandung ini merupakan spesialis produsen kaos kaki dengan mengusung merek Soka.
Dalam dunia bisnis, kota Bandung sudah sejak lama dikenal banyak melahirkan ide-ide kreatifdan potensial. Hebatnya, tidak sedikit industri kreatif disana dimotori oleh anak-anak muda. Termasuk kaos kaki Soka. Usaha yang sudah berjalan sekitar 5 tahunan --didirikan tanggal 24 Mei 2004-- tersebut juga dimotori sekelompok anak muda berusia sekitar 22 tahun. Nama Soka, menurut Aman, dipilih juga karena berarti ‘muda’ sesuai tagline Fresh Generation.
Dengan kata lain Soka merupakan merk dagang PT MNI di mana Aman Suparman bertindak sebagai direktur utamanya sekaligus pemegang saham terbesar. Selain memproduksi Soka Kaos Kaki Original, yaitu kaos kaki standar untuk wanita dan laki–laki, terdapat pula Soka Kaos Kaki Jempol serta Soka Kaos Kaki Wudhu. “Keunikan dan kelebihan kaos kaki Soka yaitu produk kami selalu inovatif dan memenuhi selera atau keinginan konsumen. Desain produk inovatif itu didapat dari masukan atau keluhan konsumen yang menginginkan produk yang sesuai selera konsumen dan hasil riset tim R&D internal perusahaan,” ujar Aman.
Kaos Kaki Jempol misalnya, produk tersebut sejatinya lebih sesuai ditujukan untuk konsumen wanita, terutama perempuan muslim. Bagi muslimah yang kesehariannya mengenakan jilbab maka kaos kaki telah menjadi pelengkap. Tambahan jempol pada kaos kaki membuat lebih nyaman dipakai ketika sedang memakai sandal tali ketimbang model biasa. Demikian pula dengan kaos kaki wudhu, yaitu pembungkus kaki yang desainnya memungkinkan pemakai dapat membasuh kaki saat mengambil air wudu tanpa harus dilepas.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 93/April 2009.

Paket Usaha Digital Yang Layak Dijajal
Dengan sentuhan teknologi terkini, mug digital yang banyak beredar dipasaran kini dipoles menjadi colour changing mug atau biasa disebut mug bunglon. Karena bentuknya yang unik pangsa pasarnya pun kain menarik. Wiyono
Anda tentu kenal dengan mug digital, sebuah produk cetak digital dengan menggunakan mug (sejenis cawan tempat minum) sebagai medianya. Desain gambarnya bisa dipesan sesuai keinginan sehingga produk ini biasa digunakan sebagai media promosi atau sekadar untuk merchandise pribadi. Karena banyak yang memproduksi, maka tak heran jika produk ini akan dianggap 'biasa' saja.
Tapi bisa jadi Anda akan dibuat terkesima setelah melihat produk colour changing mug atau sering disebut mug bunglon --sebab bisa berubah warna. Cara kerjanya, mug yang semula warnanya tampak polos, ketika diisi air panas tiba-tiba memunculkan sebuah gambar. Ini hanya salah satu produk unggulan Otak Encer Digital Paddock (OEDP).
OEDP yang bergerak di bidang usaha cetak digital terbilang masih baru. Launching pertamanya belum genap setahun, yaitu pada saat mengikuti Pameran "Jogja Fair" pada tanggal 15 sampai 23 November 2008. Namun menurut pemiliknya, Ardit Wikusumahadi Alrahman, respon pasar cukup baik dan antusias karena desain produknya menarik dan berbeda. Unik dan masih jarang dijumpai di pasaran atau bahkan belum terdapat dipasaran, khususnya di Yogyakarta.
Ketika itu ia menyiapkan 7 macam produk, mulai dari foto tiga dimensi, mug digital, liontin, laminasi foto, produk merchandise berupa gantungan kunci, paket usaha peralatan serta bahan baku. Meski baru, selama 9 hari pameran Ardit memperoleh omset sekitar Rp10 juta. Sebanyak 150 pcs mug bunglon seharga @ Rp45 ribu yang disediakan ludes terjual bahkan masih kurang.
Pria kelahiran Solo, 20 November 1983 yang kini bekerja di sebuah kantor akuntan publik di Jakarta itu mengaku ide awal usaha didapat melalui internet. Rahasia produk-produk unik dan langka tersebut karena sebagian besar bahan bakunya harus diimpor. Demikian pula dengan software pengolah gambar yang dipakai, ia pun khusus memesan program dari luar negeri.
Terkait brand perusahaannya yang terdengar unik, Ardit menjelaskan otak encer mempunyai makna mendesain sesuatu perlu memakai otak serta menuangkan hasilnya dengan sesuatu yang encer. Selain bermakna, nama ini dipilih karena mudah di ingat, simple, easy listening, dan berkesan kreatif. Sedangkan Digital Paddock menggambarkan bidang usaha digital. Kata 'Paddock' sendiri merupakan simbol suatu tempat mangkalnya teknologi terkini dengan SDM yang kompeten dan sangat kompetitif untuk menghasilkan produk yang optimal.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 93/April 2009.

Laris Karena Tuah Pitik Rambut Syetan dan Sambel Iblis

Setelah sukses mengembangkan rumah makan steak Ben Tuman, Ajeng Astri Denaya berhasil mengelola rumah makan Mbah Jingkrak. Keduanya kini dikembangkan dengan model waralaba. Haris RK

Jalan-jalan ke kota Semarang, kurang lengkap rasanya bila tidak menikmati pitik rambut syetan atau sambel iblis. Jangan kaget dulu, belakangan menu yang terkesan menyeramkan itu memang sedang popular di ibu kota propinsi Jawa Tengah ini. Untuk mendapatkannya tidak perlu laku ritual, tapi cukup datang ke Rumah Makan Mbah Jingkrak.
Rumah makan yang berada di kawasan Jl. Taman Beringin tersebut, memang sedang naik daun. Itu karena kepintaran pengelolanya dalam menyajikan menu-menu yang membuat penasaran para pemburu makanan enak.“Selain penasaran dengan nama menu, mereka cocok dengan makanan yang kami sajikan, “ kata Ajeng Astri Denaya, pemilik restoran tersebut.

Dalam jagad bisnis resto, nama Mbah Jingkrak bisa dibilang pendatang baru. Ia baru muncul setahun belakangan ini. Hebatnya dalam tempo yang terbilang singkat itu, ia telah memiliki pelanggan fanatik. Menariknya, mereka justru berasal dari kalangan menengah ke atas, yang sebenarnya tidak dibidik secara khusus pada awal pendirian rumah makan ini. “Semula kami membidik pasar semua lapisan, tapi ternyata yang muncul justru kalangan menengah ke atas, padahal harga menu kami sangat terjangkau kalangan mana pun,” tutur ibu tiga anak ini.
Kemunculan rumah makan ini, memang terbilang fenomenal. Ia melesat cepat bak meteor. Maklum dalam waktu yang relatif singkat, telah berhasil menarik hati masyarakat. Tak mengherankan, bila dalam tempo tidak sampai sebulan pengelola rumah makan ini mengklaim telah berhasil mengembalikan modal yang ditanamkannya. “Kami sangat bersyukur karena tidak genap sebulan, modal yang kami tanam langsung balik,” imbuh Ajeng.

Menurut pengakuan Ajeng, Mbah Jingkrak baru resmi beroperasi sejak akhir 2005 lalu. Pendirian rumah makan ini, merupakan pengembangan bisnis resto yang telah dijalaninya sejak tahun 1997 silam. Wanita penghobi masak ini, sebelumnya memang telah berhasil mengembangkan bisnis jasa boga. Ia tercatat sebagai pemilik Warung Steak Ben Tuman, yang berada di Semarang dan kini telah berkembang di Jakarta.. “Setelah warung steak berkembang, saya kok pengin mengembangkan rumah makan dengan menu makanan tradisional,” ungkapnya.
Ajeng berterus terang bahwa pendirian rumah makan Mbah Jingkrak terinspirasi dari beberapa warung makan tradisional yang ada di Yogyakarta dan Solo. Dia melihat ada beberapa warung di kedua kota tersebut yang cukup laris walaupun tempat dan cara penyajiannya sangat sederhana. Mereka laris bukan karena tempat tapi karena menu yang disajikan dirasakan cocok bagi kebanyakan orang, termasuk dari kalangan menengah.
Namun ada sebagian besar kaum berduit yang merasa malu makan di tempat seperti ini, walaupun mereka sebenarnya merasa cocok dengan menu yang disajikan.”Mereka sebenarnya mau, tapi juga malu apalagi yang biasa jaga image atau sok gengsi,” tandas Ajeng.

Melihat fenomena banyaknya warung makan tradiosional yang cukup laris, Ajeng merasa ada peluang pasar yang bisa diraihnya. Ia tertarik membuat rumah makan dengan menyajikan menu tradisional, tapi disajikan di tempat yang representative sehingga bagi kalangan menengah ke atas tidak sungkan untuk datang menikmatinya.
Bila melihat menu yang disajikan di rumah makan Mbah Jingkrak, memang terasa tidak asing lagi. Karena semua bisa ditemukan di warung-warung makan lain. Hanya saja yang membuat berbeda, Ajeng menamakan beberapa menunya dengan nama yang nyleneh seperti pitik rambut syetan, sambel syetan, sambel iblis, es tobat, dll. Sambel iblis, sebenarnya hanya sambel biasa tapi dibuat dari cabe rawit, yang terasa pedas sekali. Siapa pun yang menikmati tentu akan merasa kepedasan. Penamaan menu-menu aneh tersebut, memang menjadi strategi promosi untuk membuat konsumen penasaran. Dan strateginya memang membuahkan hasil , karena setiap muncul menu baru selalu ada yang merasa penasaran dan ngin mencobanya. “Biasanya setelah mencoba mereka akan ketagihan, nah membuat orang ketagihan ini yang sulit,” paparnya.
Pernyataan Ajeng, memang tidak berlebihan. Nyatanya, dengan nama-nama menu yang terkesan “sangar” tersebut, ternyata telah mengangkat citra Rm Mbah Jingkrak, hingga cepat dikenal masyarakat. “Kami memang sengaja membuat menu aneh yang bikin penasaran konsumen,” katanya lagi.
Nama Mbah Jingkrak itu, sendiri menurut Ajeng diperoleh secara tidak sengaja. Itu terjadi ketika dia bersama sang suami, Henry Pramono hendak pergi ke sebuah desa di Kecamatan Munggi, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Di desa itu ada sebuah warung makan yang sangat terkenal karena menyajikan menu nasi beras merah dan sayur lombok tempe. Dalam perjalanan tersebut, Ajeng tidak ingat nama rumah makan yang akan ditujunya. Tiba-tiba sang suami nyebut nama “Mbah Jingkrak”, padahal yang dimaksud adalah desa Jirak. “Saya mendadak punya inspirasi untuk menamakan Mbah Jingkrak menjadi nama rumah makan, ini kayaknya pas sekali,” tutur Ajeng.
Sejak itulah, ia merasa mantap menggunakan nama Mbah Jingkrak di rumah makan yang kemudian dibukanya di Semarang hanya beberapa hari sepulang dia menyempatkan makan di Gunungkidul. Nama ini sangat cocok karena dalam bahasa Jawa, jingkrak berarti melompat-lompat karena kegirangan.
Masih menurut Ajeng, untuk mendirikan rumah makan tersebut, ia hanya mengggunakan modal Rp 40 juta. Modal ini digunakan untuk penyiapan alat dan promosi. Tanpa dinyana modal sebanyak itu ternyata langsung balik dalam tempo tidak sampai satu bulan. “Padahal perhitungan saya, modal paling tidak baru bisa balik selama tiga bulan,” ujarnya.
Tidak mengejutkan bila, dalam tempo singkat Ajeng berhasil mengembangkan Mbah Jingkrak. Maklum ia memang sudah paham betul strategi apa yang harus dilakukannya, salah satunya adalah strategi promosi. Ketika pertama buka, ia langsung memblow up promosi lewat media lokal dan menghubungi semua relasi bisnis yang telah dimilikinya.

Bagi Ajeng, menjalankan bisnis rumah makan agaknya sudah menjadi jalan hidupnya. Ia kini bisa dibilang meraih kesuksesan hidupnya karena bisnis jasa boga yang digelutinya. Saat ini Ajeng tercatat mengelola dua rumah makan, Ben Tuman dan Mbah Jingkrak. Keduanya berlokasi di tempat yang sama.
Sekedar informasi, sebelum sukses menggeluti bisnis resto, Ajeng tercatat sebagai karyawan sebuah perusahaan garmen di Semarang. Tekad untuk pindah kuadran menjadi pengusaha memang sudah bulat. Itu karena kondisi ekonomi yang mendorong semangat berbisnisnya bangkit. “Bayangkan mas saya harus menanggung tiga anak, sementara saya single parent,” tutur wanita bertubuh kuning langsat ini.
Restoran Ben Tuman yang secara khusus menyediakan menu steak dirintisnya sejak 1997 silam. Modal awalnya hanya Rp 14 juta yang digunakan untuk sewa tempat dan persiapan peralatan produksi. Ia mengaku tertarik membuka warung steak setelah melihat bisnis makanan asal Eropa ini cukup digemari dan menjadi trend bisnis di kota Jakarta dan Bandung. “Saya memang suka masak dan mencoba makanan apa saja ,” jelasnya.

Ben Tuman bisa dibilang pelopor bisnis steak di Semarang. Ketika itu, Ajeng juga sudah menggunakan nama menu yang aneh seperti, Sapi bingung dan ayam linglung. “Ternyata menu yang aneh bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk membuat orang penasaran,” katanya.
Ia mengawali usaha di kawasan Jl Kiai Saleh dengan mengontrak tanah seluas 100 meter persegi. Modal awalnya hanya Rp 14 juta yang merupakan uang tabungan. Bisnis berkembang bagus, sehingga tak mengherankan bila dalam tempo singkat, modalnya segera kembali dan ia membuka cabang lagi di tempat lain. Bahkan dalam perjalanannya, ia berhasil mengembangkan modal sebanyak itu menjadi asset ratusan juta dalam tempo tiga tahun. Ini terbukti dengan keberhasilannya membeli tanah sendiri yang digunakannya membuka cabang baru senilai Rp 750- juta.

Awalnya, Ajeng mencoba membidik pasar mahasiswa. Tentu saja, steak yang dijualnya telah melewati proses modifikasi baik dari rasa maupun harga. Ia meramu bumbu sendiri dan membuat harga yang terjangkau untuk kalangan mahasiswa. “Ternyata banyak lidah orang Semarang yang juga gemar dengan steak,” katanya.
Dalam perjalanannya, ternyata yang datang ke Ben Tuman justru berasal dari kalangan menengah ke atas. Padahal semula, ia tidak membidik pasar ini secara khusus. Yang diinginkannya justru pasar dari kalangan menengah ke bawah. “Tapi yang datang ternyata mereka yang bermobil dan kini justru malah anak-anak orang kaya,” tukasnya.
Menurut Ajeng bisnis makanan di Semarang terbilang tidak gampang. Sekali salah melangkah, katanya, bisnis bisa hancur. Karena itulah, sebelum memulai bisnis ini, pengetahuan tentang karakter masyarakat mutlak dikuasai.” Kebetulan saya orang Semarang, jadi sudah paham dengan keinginan mereka,” katanya.

Sejak awal, Ajeng memang berusaha menjual steak tersebut dengan harga yang bisa dijangkau masyarakat dan terbilang murah. Ia menyediakan menu antara Rp 12.750 hingga Rp 30.000-an. “Harga ini murah dibandingkan dengan harga di restoran besar,” ungkapnya.
Untuk penamaan menu, Ajeng juga menggunakan nama yang aneh-aneh, seperti Merapi Meletus Sapi Bingung Steak, Ayam Mabuk Steak, Ben Tuman Spesial Steak, dan Aborigin Beef Steak. Pemberian nama ini, terkesan asal comot, tapi ternyata sangat menguntungkan. Karena membuat konsumen tersenyum bila membaca, paling tidak mereka bisa terkesan dibuatnya. Nama merapi meletus terinspirasi oleh letusan Gunung Merapi yang melontarkan batu-batuan. Hujan abunya menyebar ke daerah sekitar.
"Batu-batuan dari Gunung Merapi itu saya ibaratkan kentang yang dibungkus dengan alumunium foil. Makanya, (daging) sapinya bingung, kok ada kentang dibungkus kertas. Di sekelilingnya terdapat sayur wortel, buncis, dan saus yang seperti meleleh," katanya sambil tertawa.

Secara ekonomi, Ajeng memang sudah terbilang sukses. Yang menarik, ia kini sering diundang ke beberapa forum pelatihan kewirausahaan untuk menjadi nara sumber. Keberhasilannya mengelola kedua rumah makan tersebut, kayaknya memang patut ditularkan kepada calon pebisns lain untuk menirunya.”Dengan senang hati, kami menularkan ilmu agar mereka bisa mengikuti jejak kami,” tuturnya.
Ajeng tidak hanya mengembangkan bisnis di Semarang,.Ia telah melebarkan sayap ke Jakarta. Ben Tuman dan Mbah Jingkrak sudah merambah ke ibukota Negara ini dengan cara waralaba. “Kebetulan ada kawan-kawan yang tertarik, karena itulah saya mencoba mengembangkan dengan cara waralaba,” imbuhnya.
Saat ini, Ajeng menjual waralaba untuk Ben Tuman sebesar Rp 150 juta. Sedangkan untuk Mbah Jingkrak, hanya sebesar Rp 50 juta.” Yang minta untuk membuka sudah banyak, kami masih mengkaji kelayakannya,” tuturnya
Nur Wahyono, Budaya Jepang Sebuah Inspirasi Bisnis Untuk mengantisipasi jia kelak tak lagi sebagai pegawai kantoran, Nur Wahyono memilih mendirikan bisnis. Pilihannya jatuh pada Little Tokio yakni oulet yang menjual pakaian tradisional Jepang berikut pernak-perniknya. Renny Arfiani
Berawal dari kesenangannya pada budaya Jepang, Nur Wahyono atau biasa disapa Iyon mencoba hokinya pada bisnis penjualan pakaian tradisional Jepang khusus untuk anak-anak. Bapak satu anak ini merasa budaya Jepang banyak memiliki nilai-nilai baik yang patut diajarkan kepada anak-anak. Maka lewat fesyen Jepang itulah Iyon bersama sang istri membuka outlet bernama Little Tokio yang menjual pakaian tradisional Jepang berikut pernak-perniknya. “Jika mereka menyukai fesyen ala Jepang tak menutup kemungkinan mereka mencari tahu tentang budaya Jepang dan lebih mudah bagi kita sebagai orang tua menerapkan nilai-nilai baik budaya Jepang itu sendiri,” jelas Iyon.
Little Tokio memang baru berdiri Oktober silam. Namun Iyon sudah lebih dulu menjual produk-produknya dengan cara penjualan online. Jadi bisa dikatakan outlet yang terletak di Jalan Bangka, Jakarta Selatan tersebut dibangun untuk memudahkan pelanggannya melihat produk-produk Little Tokio secara langsung.
Kecintaannya pada budaya Jepang coba ia tularkan kepada sang buah hati. Bukan semata-mata ingin memaksakan ego dirinya yang menyukai hal-hal berbau Jepang. Tapi Iyon percaya berpenampilan dengan gaya pakaian tradisional Jepang sedikit banyak turut merubah perilaku seseorang. Dalam arti ketika orang memakai busana semacam yukata atau kimono maka perilaku pemakainya akan menyesuaikan dengan perilaku orang Jepang yang santun.
“Memang sedikit banyak ketika orang mengenakan pakaian tradisional khas Jepang ada pengaruhnya. Antara lain berupa perilaku seperti orang Jepang misalnya memberi salam hormat dengan membungkukkan badan, jalan teratur, dan bahasa tubuh yang sopan,” ujar Iyon. Setidaknya lewat busana Iyon mencoba mengenalkan sifat santun, disiplin, hormat kepada orang tua serta peduli lingkungan yang hampir hilang dari karakter anak- anak generasi sekarang.
Iyon yang masih berstatus sebagai karyawan di sebuah perusahaan asing milik Jepang itu mengakui bisnis yang ia lakoni sekarang semata-mata sebagai bentuk antisipasi dirinya jika suatu saat nanti ia tak lagi jadi pekerja kantoran. “Saya memilih untuk punya profesi sambilan lantaran saya berpikir tak selamanya saya akan bekerja ‘nine to five’. Masa saya sebagai pekerja kantoran akan habis dan ketika itu tiba jika saya tak punya pegangan misalnya usaha sambilan tadi, saya tak akan punya pemasukan,” ujarnya gamblang. Jika ia menegaskan Little Tokio sebagai usaha sambilannya, bukan berarti ia tak serius menangani bisnisnya tersebut.
Lebih lanjut Iyon menjelaskan, double profesi yang ia jalani dilakukan secara adil dan tak ada yang berat sebelah. Iyon pun berusaha untuk tetap profesional. Ketika ia berstatus karyawan, ia menjalani sepenuhnya pekerjaan sebagai penulis naskah iklan. Namun ketika berstatus pengusaha ia juga total melayani pembeli-pembelinya. “Tak ada yang dicampur-campur dalam arti saya tak mengganggu jam kerja untuk usaha sebaliknya saya juga total berbisnis di luar jam kerja,” tegas alumnus IISIP jurusan advertising ini.
Iyon mengaku, dirinya memang sengaja memilih bidang bisnis yang sama dengan bidang pekerjaannya. Ini dimaksudkan agar usaha sambilan dan pekerjaannya bisa berjalan beriringan. “Saya ingin usaha dan pekerjaan saya saling mendukung satu sama lain. Ketika ide kreatif saya menemui jalan buntu, saya bisa menjadikan bisnis saya sebagai sumber idenya, begitu juga dengan usaha sambilan ini. Pekerjaan saya bisa dijadikan sumber modalnya,” papar Iyon.
Ia cukup beruntung bisnisnya berjalan lancar meski baru beberapa bulan berdiri. Pria kelahiran 21 Juni ini juga tak merasa khawatir jika pihak kantor tempatnya berkarya mengetahui usaha sambilannya. “Saya sangat terbuka dengan orang kantor jadi tak perlu khawatir selama saya tak menutup-nutupinya. Bahkan orang kantor setuju-setuju saja toh yang saya sebar-luaskan juga kebudayaan mereka, jadi tak ada masalah” terang Iyon.
Adapun produk-produk yang di jual di Little Tokio berupa pernak-pernik Jepang. Antara lain kipas, bakiak, sendal, boneka, kaos, mainan edukasi, kurumie (lukisan tiga dimensi, red), jinbei (pakaian tradisional Jepang musim panas untuk anak laki-laki, red), yukata (pakaian tradisional Jepang musim panas untuk anak perempuan, red), tas dan lain-lain. Untuk desain jinbei dan yukata berikut urusan produksi rutinnya, sang istri yang memiliki peranan.
Demi memenuhi permintaan pelanggan, setidaknya Iyon harus menyetok 50 pieces baju per bulannya. “Karena kita baru berdiri jadi masih sedikit, tidak menutup kemungkinan akan bertambah kedepannya,” kata Iyon. Jinbei dan yukata yang dijual di Little Tokio memang dibuat sendiri. Iyon mengimpor kainnya langsung dari Jepang. Maka jika harga jualnya cukup mahal tampaknya cukup setimpal dengan kualitas yang didapat pelanggan. Iyon membandrol harga jinbei dan yukata mulai dari Rp110 ribu sampai Rp275 ribu.
Sementara untuk pernak-pernik mulai dari Rp8 ribu sampai Rp100 ribu. Tidak semua pernak-pernik yang dijual Iyon adalah barang impor. Memang sebagian barang diimpor dari Jepang namun ada juga yang dibuat sendiri oleh Iyon. Seperti notebook, kurumie (lukisan tiga dimensi, red) dan origami Iyon memproduksinya sendiri, ia mengkaryakan tenaga ibu-ibu yang ada di komunitas pecinta budaya Jepang. “Untuk pernak-pernik yang dibuat sendiri, saya meminta bantuan ibu-ibu di komunitas dan belum memperkerjakan tenaga khusus,” lanjut Iyon. Tak hanya pernak-pernik saja yang dijual, Iyon juga menjual mainan-mainan edukasi untuk balita dan anak-anak. Jadi mereka tak hanya bergaya namun juga belajar.
Untuk mencapai ambisinya memberikan pengaruh baik pada generasi muda, Iyon bertekad akan membuka satu outlet di setiap kota besar. “Kedepannya saya ingin membuka outlet lagi, inginnya di setiap kota ada satu outlet Little Tokio,” tutur Iyon penuh harapan.
Selain bisnis penjualan baju-baju tradisional Jepang khusus untuk anak-anak yang ia bangun dengan menginvestasikan dana sebesar Rp100 juta, Iyon juga memiliki bisnis lain yang ia lakoni. Masih dalam lingkup bisnis kreatif, Iyon menjajal peruntungannya sebagai fotografer untuk bayi dan anak-anak. Ia tertarik pada bidang tersebut lantaran Iyon memang gemar memotret. Tak ayal bisnis fotografi yang lebih dulu ia jalani jauh sebelum mendirikan Little Tokio, turut meyokong finansialnya. Diakui Iyon meski tak terlalu serius menjalani bisnis tersebut, profesi sebagai forografer tetap berjalan lewat dunia maya.
Jika ingin mengutip/menyebarluaskan artikel ini mohon mencantumkan sumbernya.s02
Kecipir, Jangan Dicibir! Proteinnya 12 Kali Lipat daripada Daging
Sapi
Kecipir sering dianggap sepele, padahal ia memunyai segudang manfaat. Bahkan, kandungan proteinnya jauh lebih hebat ketimbang daging . Russanti Lubis

Anak-anak dalam masa pertumbuhan sekaligus juga pada masa belajar, membutuhkan asupan gizi, khususnya protein nabati, yang cukup. Tapi, jika kondisi keuangan orang tua mereka tidak memungkinkan, mengingat harga daging sapi, sebagai salah satu sumber protein nabati, tidaklah murah, tentu saja kebutuhan itu tidak akan terpenuhi. Kepala Sekolah (kepsek) dan para guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) Rengas, Ciputat Timur, Tangerang, tidak kekurangan akal. Dua kali dalam sebulan, mereka memberi makanan tambahan bergizi berupa bubur kacang hijau kepada para murid mereka, gratis.
Ternyata, kegiatan mulia para guru ini belum memberi hasil yang memuaskan. Hingga, suatu ketika, Adi Kharisma, pemilik bisnis tempat makan berbasis ketela ungu, Sweet Purple (artikel tentang Sweet Purple dapat dilihat dalam Majalah Pengusaha edisi Oktober 2008, red.), berkunjung, ngobrol, dan menawarkan SDN yang menampung anak-anak dari kalangan menengah ke bawah ini, untuk menanam kecipir.
Mengapa kecipir? “Berdasarkan beberapa literatur tentang kecipir yang saya baca, dikatakan bahwa olahan biji buah kecipir yang telah matang, memiliki kandungan protein nabati 12 kali lipat lebih banyak daripada daging sapi,” kata Adi.
Tentu saja, hal ini sangat menarik perhatian para pahlawan tanpa tanda jasa di SDN ini. “Kami pun menanamnya sejak empat bulan lalu. Lantas, kami mencoba mengolah biji-biji buahnya yang sudah menua (berwarna hitam, red.) menjadi susu. Ternyata, anak-anak suka.

Pecel Ponorogo Bu Tari, Namanya Menggema lewat Konsep Waralaba
Pecel merupakan makanan tradisional masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Makanan yang dalam beberapa maskapai penerbangan nasional diperkenalkan sebagai Indonesian Salad ini, terdiri dari rebusan bayam, tauge, kacang panjang, dan beberapa sayuran lain, tergantung selera pembuatnya.
Selanjutnya, makanan yang di Jakarta disebut pecel sayuran (sekadar untuk membedakannya dengan pecel lele atau pecel ayam, red.) ini, dihidangkan dengan siraman sambal pecel (orang Jakarta mengistilahkannya bumbu kacang, red.). Sedangkan sambal pecel itu sendiri terbuat dari kacang tanah dan cabe rawit, yang dicampur dengan daun jeruk purut, bawang, asam Jawa, merica, serta garam. Lalu ditumbuk atau dihaluskan.
Biasanya, makanan sehat dan bebas vetsin ini, disajikan dengan nasi putih hangat dan rempeyek (peyek). Demikian pula dengan Pecel Ponorogo Bu Tari (PPBT), yang didirikan pasangan suami istri Sukadi dan Lestari Mujiasih, di Surabaya. Di samping itu, PPBT juga memiliki rasa bumbu yang khas, rempeyek yang renyah, higienis, pelayanan yang ramah, dan desain outlet yang menarik.
Awalnya, PPBT yang didirikan pada Agustus 2003, hanya bertujun untuk mengurangi pengangguran sebagai imbas PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan mengatasi dampak krisis ekonomi. Di samping itu, juga untuk mengangkat pamor makanan tradisional, dengan cara masuk ke pasar atau kalangan eksekutif.
Dalam perkembangannya, PPBT yang dibangun dengan modal awal Rp20 ribu itu, semakin digemari. Terbukti dari jumlah konsumen yang dari waktu ke waktu semakin bertambah banyak, hingga mampu membukukan omset mencapai Rp60 juta/bulan atau setara dengan 300 porsi.
“Melihat animo masyarakat yang terbilang luar biasa itu, pada awal 2009 kami memutuskan untuk mewaralabakan PPBT,” kata Lestari Mujiasih. Selain itu, melalui waralaba ini, PPBT juga berharap dapat mengurangi pengangguran dengan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya dan mengangkat produk tradisional (asli dalam negeri), sehingga bisa bersaing dengan produk mancanegara.
PPBT yang memiliki outlet di Jln. Nginden Intan Barat I (Depan RS Surabaya Internasional), Jln. Rungkut Mapan I (Sebelah Timur Yakaya Swalayan), dan Jln. Raya Caman No.13 Jatibening, Bekasi, ini juga menerapkan konsep waralaba. Dengan mengembangkan konsep ini maka brand PPBT akan lebih menggema dan dikenal luas oleh masyarakat. Ada empat tipe konsep waralaba yang disediakan PPBT, yaitu tipe gerobak, booth, food court dan tipe resto.
“Untuk tipe gerobak, investasinya dimulai dari harga Rp45 juta (sudah termasuk peralatan lengkap), untuk booth dimulai dari harga Rp75 juta (sudah termasuk peralatan lengkap), dan untuk food court dimulai dari Rp50 juta (sudah termasuk peralatan lengkap). Sedangkan investasi untuk tipe resto dimulai dari harga Rp90 juta (sudah termasuk peralatan standar). Masing-masing berlaku selama lima tahun dan dengan royalty fee sebesar 5% dari omset per bulan. Sementara, BEP (Break Even Point) dapat dicapai dalam kurun waktu 12 bulan–16 bulan,” jelas perempuan, yang akrab disapa Bu Tari itu.
Dengan nilai investasi sebesar itu, Bu Tari menambahkan, franchisee akan memperoleh peralatan lengkap standar, training karyawan, SOP (Standard Operating Procedure), survai lokasi, paket bahan baku awal, jaminan supply bahan, pendampingan pasca opening, dan quality control. “Bahan baku utama di-supply dari pusat, sedangkan untuk bahan yang lain bisa dibeli di sekitar outlet sesuai standar,” ujar kelahiran Blitar, Jawa Timur, 47 tahun lalu itu.
Di samping itu, untuk menjadi franchisee, PPBT mensyaratkan agar yang bersangkutan, pertama, memiliki kejujuran, semangat, optimis, dan tidak mudah putus asa. Kedua, mematuhi standarisasi dan peraturan yang telah ditetapkan pusat. Ketiga, memiliki investasi dana yang cukup. Keempat, lulus seleksi franchisee.
“Dengan menjadi franchisee PPBT, yang bersangkutan akan memiliki ilmu dan pengalaman di bisnis makanan, tidak perlu memulai bisnis dari nol, memperoleh komitmen dan support dari pusat, dan mendapatkan laba yang sesuai,” pungkasnya. Sebuah bisnis yang menjanjikan, bukan? Russanti Lubis. s4

Outlet Gerobak Rp. 45 Juta

Outlet Dine In Rp. 65 Juta


Outlet Foodcourt Rp. 65 Juta

Outlet Resto Rp. 125 Juta
Info franchise:
Kompleks Ruko Wisma Mukti Lantai 3
Jln. Arif Rahman Hakim 14-A, Surabaya
Hotline : 081230174766
Telp/fax : 031-5930369
Email : pecel.butari@gmail.com
Website : www.pecelbutari.com

Potensi Besar Singkong Raksasa
Selain dimanfaatkan sebagai bahan makanan, singkong raksasa juga dapat diolah menjadi gasohol –bahan pengganti BBM. Potensi bisnisnya masih terbuka, karena belum banyak yang tertarik mengembangkannya. Wiyono
Pada tahun 60-an orang mengenal nama singkong mukibat, persilangan pohon singkong secara okulasi antara varietas singkong biasa dengan singkong karet. Hasilnya berupa ubi kayu berumbi besar akan tetapi kandungan senyawa sianida (HCN) rendah dan tidak pahit sebagaimana singkong karet, jadi aman buat dikonsumsi. Setiap hektar kebun singkong biasa setahun rata-rata mampu menghasilkan 30 ton umbi segar, sedangkan singkong hasil silangan itu bisa mencapai 66 ton/tahun atau sekali masa panen. Sayangnya, kemudian seiring waktu akhirnya singkong mukibat nyaris tidak terdengar kabar beritanya lagi.
Sejatinya potensi singkong untuk dijadikan komoditas tidak boleh dianggap remeh. Peluang bagi pengembangan usaha budi daya singkong sangat terbuka sebab beragam jenis industri memanfaatkan singkong sebagai bahan baku. Kurang lebih terdapat 14 macam produk turunan dibuat dari produk olahan berbahan dasar singkong, baik gaplek, chips, pellet, maupun tepung tapioka.
Kebutuhan pasar dalam negeri misalnya pada industri makanan dan minuman (kerupuk, sirup), industri tekstil, industri bahan bangunan (gips, keramik), industri kertas, serta industri pakan ternak. Sedangkan peluang ekspor dengan tujuan negara-negara Masyarakat Ekonomi Eropa, Jepang, Korea, China, Amerika Serikat, Jerman, digunakan sebagai bahan baku farmasi, bahan baku industri lem, bahan baku industri kertas, bahan baku industri pakan ternak, atau malah sebagai bahan baku BBM alternatif biofuel.
Seperti diketahui, penelitian tentang bahan pengganti BBM salah satunya dari ubi kayu atau yang dikenal dengan sebutan gasohol atau gasoline-alkohol sedang giat dilakukan. Menguragni ketergantungan pada BBM yang diyakini bakal habis ditambang dapat dilakukan dengan mencampur etanol kedalam bensin. Etanol mengandung 35 % oksigen yang meningkatkan efisiensi pembakaran dan juga menaikkan oktan. Kelebihannya, etanol bisa terurai sehingga mengurangi emisi gas buang berbahaya. Sebagai gambaran, pada tahun 2004 konsumsi bensin 15 juta kilo liter. Jika 20 % saja diganti dengan gasohol BE-10, berarti penghematan 3 juta kilo liter bensin. Apabila satu liter bioetanol dihasilkan dari 6,5 kg singkong, artinya butuh 2 juta ton singkong dari lahan 100.000 Ha.

Sekarang pun di daerah Lampung, seperti halnya di Sulawesi Selatan serta di beberapa daerah lainnya sudah ada beberapa pengusaha yang mulai serius menggarap budi daya singkong tersebut. Masing-masing luas lahan dapat lebih dari 500 ha/kebun atau bahkan mencapai ribuan hektar. Bibit singkong yang ditanam umumnya juga merupakan bibit unggul seperti Manggi (dari Brasil) dengan hasil rata-rata 16 ton/Ha, Valenca (dari Brasil) dengan hasil rata-rata 20 ton/Ha, Basiorao (dari Brasil) dengan hasil rata-rata 30 ton/Ha, Muara (dari Bogor) dengan hasil rata-rata 30 ton/Ha, Bogor (dari Bogor) dengan hasil rata-rata 40 ton/Ha, jenis unggul dan genjah (cepat dipanen), Malang-1 dan Malang-2 dengan hasil rata-rata 37 ton/Ha dan 35 ton/Ha. Bahkan seorang pengusaha dari Sukabumi, Tjutju Juniar Sholiha, juga telah mengembangkan jenis ubi kayu varietas unggul yang dinamakan singkong Darul Hidayah (DH).
Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 89/2008.


Kencur, Pasarnya Terbuka Lebar
Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan salah satu jenis empon-empon atau tanam-an obat. Tanaman mungil yang tergolong suku temu-temuan (Zingiberaceae) ini, juga termasuk komoditas yang memiliki prospek pasar sangat baik. Sebab, ia termasuk bahan baku penting dalam industri negeri ini, seperti obat tradisional, kosmetika, obat herbal terstandar, saus rokok, bumbu, bahan makanan, dan minuman penyegar. Bahkan, dalam industri jamu, kencur (jahe, kunyit, dan temulawak) diibaratkan sebagai nasinya. Russanti Lubis

Kelebihan kencur bukan cuma sampai di situ. Ia juga pandai menabung. Misalnya, ketika akan dipanen (10 bulan setelah benihnya ditanam, red.), ternyata harganya sedang jatuh, maka ia tidak perlu dipanen dan tetap dibiarkan di dalam tanah hingga berumur tiga tahun. Kondisi ini tidak akan mengurangi manfaatnya, bahkan jumlah produksinya akan bertambah banyak. Sebab, dari satu rimpang (batang di dalam tanah yang membesar, red.) kencur akan tumbuh rimpang berikutnya di atas rimpang sebelumnya dengan bentuk yang lebih kecil, setiap tahun. Dengan bertambahnya umur, patinya pun akan semakin tinggi tapi ia tidak dapat dijadikan bibit, karena kualitasnya sudah menurun. Selain itu, dalam kondisi basah, kencur yang dipanen saat berumur lebih dari 10 bulan dapat disimpan dalam gudang selama 3–4 bulan. Sedangkan dalam kondisi kering, dapat disimpan di gudang selama 3–4 tahun dengan kegunaan yang sama dengan kencur segar. Bahkan, harganya jauh lebih mahal, meski bentuknya menyusut, kadar airnya berkurang, dan baunya berubah.
Namun, produktivitas tanaman yang memiliki bau khas ini di tiga provinsi produsen utama yaitu Jawa Barat (Bogor, Bekasi, Sumedang, Sukabumi, Subang), Jawa Tengah (Boyolali, Karanganyar), dan Jawa Timur (Madiun, Malang, Ponorogo, Pacitan), masih sangat rendah, cuma 6,1 ton/ha. “Kemungkinan hal ini terjadi karena gagal panen, gangguan musim, atau petani kencur beralih ke komoditas lain ketika harga sedang jatuh, dan adanya permainan pasar. Di sisi lain, petani tanaman obat pada umumnya hanya memiliki lahan seluas pekarangan dan kencur sekadar ta-naman sisipan (tumpangsari), sehingga produksinya ya cuma segitu. Selain itu, sejauh ini, mereka masih menanam kencur dengan cara tradisional,” kata Otih Rostiana, Peneliti Madya Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatropika (Balittro), yang bermarkas di Bogor.
Menurut sebuah majalah, untuk memenuhi kebutuhan kencur Indonesia masih harus mengimpor dari Cina, Malaysia, dan Thailand yang mutunya kurang memenuhi standar industri besar tanah air. Tapi, Otih melanjutkan, kebenaran berita ini masih diragukan, sebab tidak pernah ada data yang menjelaskan tentang itu. Untuk mengatasi kondisi ini, Balittro berupaya mengubah pola tanam dari tradisional menjadi menurut Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Kencur yang ditanam secara tradisional berarti menggunakan bibit asal-asalan, sehingga kencur yang dihasilkan tidak seragam. Juga memakai pupuk seadanya atau pupuk kandang (pukan) dengan takaran sekenanya. Dengan cara semacam ini, sentra produksi kencur rata-rata hanya mampu menghasilkan 6–8 ton/ha. Sebaliknya, kencur yang ditanam mengikuti SOP berarti menggunakan bibit terpilih, cara berbudidaya dan cara pengolahan yang lebih baik sehingga terjadi peningkatan minimal sebesar 30%,” ujar perempuan bergelar doktor itu.

Bibit terpilih yang dimaksud adalah varietas unggul kencur yang dinamai Galesia (Galanga Indonesia) 1, Galesia 2, dan Galesia 3. Sekadar informasi, kencur dalam Bahasa Inggris adalah Indian Galanga. Dengan Galesia ini terjadi peningkatan produksi hingga mencapai lebih dari 10 ton/ha. Bahkan, Galesia 1 yang menggunakan pukan, mampu menghasilkan 16 ton/ha. Di samping itu, Galesia yang memiliki asal muasal yang jelas, diharapkan nantinya dapat diekspor karena telah memenuhi Good Agricultural Practice atau standar internasional untuk ekspor tanaman obat.
“Galesia 1, Galesia 2, dan Galesia 3 dibedakan dari bentuk rimpangnya. Bentuk rimpang Galesia 1 lebih besar dan mampu berproduksi lebih banyak daripada Galesia 2 dan Galesia 3. Sedangkan Galesia 2 dan Galesia 3 memiliki kandungan minyak atsiri lebih tinggi dan relatif lebih mudah beradaptasi di daerah baru diban-dingkan Galesia 1. Selain itu, Galesia 1 cenderung lebih baik digunakan untuk minuman kesehatan, sedangkan Galesia 2 dan Galesia 3 untuk jamu dan kosmetika,” jelasnya.

Di samping itu, ketiganya rentan terhadap penyakit bakteri layu. “Sejauh ini, kami belum dapat mengantisipasinya, sebab belum ada kerabatnya. Sekadar informasi, untuk menciptakan varietas unggul yang tahan penyakit, varietas tersebut harus dikawinkan dengan varietas lain atau kerabatnya yang tahan penyakit. Yang bisa kami rekomendasikan yaitu pertama, ja-ngan membeli bibit yang sudah berbentuk rimpang atau sudah dipanen, tapi belilah yang masih di dalam tanah. Kalau terpaksa membeli yang sudah dipanen, seleksilah satu persatu dengan cara dibaui atau dipatahkan. Kedua, jangan menggunakan lahan yang bekas dipakai menanam temu-temuan, terutama yang ada penyakitnya. Karena, bakteri layu ini mudah menular. Bila kedua hal ini sudah dilakukan tapi kencur tetap terkena bakteri layu, cepat cabut dan bakar atau semprot dengan bakterisida,” ujarnya.
Bakteri layu ini juga menyebabkan gagal panen. Sebab itu, lahan hanya diperbolehkan dua kali ditanami kencur dan temu-temuan lain. Setelah itu, harus diistirahatkan atau dirotasi de-ngan tanaman lain selama 2–3 tahun, untuk mematikan penyakit tersebut (untuk mengetahui lebih jauh tentang tata cara berbududaya kencur, lihat boks, red.).
Kebangkitan Ketiga Komoditi Ketela (Pohon)

Singkong secara umum adalah tanaman yang dipandang sebelah mata. Tetapi karena bisa diubah menjadi bio etanol, pamor singkong kembali menggeliat. Russanti Lubis
Selama ini kita mengenal ubi kayu sebagai tanaman yang mudah didapat bibitnya dan gampang dibudidayakan (dapat ditanam di lahan yang kurang subur sekali pun, risiko gagal panen 5%, dan tidak memiliki banyak hama, red.). Di sisi lain, dibandingkan tanaman pangan pada umumnya yang rata-rata hanya berumur empat bulan, sumber energi yang kaya karbohidrat tapi miskin protein ini, umurnya lebih panjang yaitu tujuh hingga 12 bulan. Selain itu, harga jualnya terbilang rendah dan dianggap sebagai tanaman yang menguruskan tanah, karena boros mengambil unsur hara. Padahal, kondisi ini sangat tergantung kepada kesuburan tanah, produktivitas, dan pemupukan.
Sisi baik dan buruk yang dimiliki umbi atau akar pohon yang bernama lain singkong ini, menjadikannya dipandang sebelah mata oleh banyak pihak, bahkan oleh petaninya. Saking disepelekannya, tanaman yang dianggap tanaman marjinal karena biasanya tumbuh di lahan marjinal ini, tahun lalu secara nasional hanya mampu berproduksi 20,05 juta ton dengan luas panen 1,24 juta ha. Ini berarti tingkat produktivitasnya hanya 16,2 ton/ha. Sementara produksi singkong di Thailand sebanyak 21,44 juta ton yang didapat dari lahan seluas 1,06 juta ha atau dengan tingkat produktivitas 20,28 ton/ha.
“Tingkat produksi tersebut memang terbilang rendah. Karena, sebenarnya masih bisa ditingkatkan menjadi 25 juta ton hingga 40 juta ton,” kata Zonda Sani, Kepala Sub Direktorat Ubi Kayu, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Departemen Pertanian. Hal ini terjadi, sebab petani menanam ketela pohon secara apa adanya, dalam arti, begitu ditanam langsung ditinggalkan begitu saja. Pemupukan pun dilakukan sekadarnya, misalnya menggunakan sisa pupuk tanaman jagung yang ditanam sebelumnya di lahan yang sama. Di sisi lain, situasi ini harus dimaklumi mengingat para petani ubi kayu pada umumnya berpenghasilan rendah, sehingga tidak mampu membeli pupuk yang harganya dari waktu ke waktu semakin mahal. “Jadi ya pintar-pintarnya mereka melakukan pemupukan,” lanjutnya.
Memang tidak pernah diketahui, berapa sebenarnya kebutuhan negara ini akan ubi kayu. Setiap tahun, para petani ubi kayu hanya diarahkan untuk memenuhi target yang telah ditetapkan. Misalnya, untuk tahun ini, ditargetkan 20,6 juta ton. Tapi, sejauh ini baru berhasil diproduksi sebanyak 19,5 juta ton. “Jadi, ya memang harus terus ditingkatkan mengingat kebutuhan akan singkong itu sebenarnya sangat besar, baik untuk bahan pangan, industri farmasi, kimia, bahan bangunan, kertas, maupun yang sedang marak saat ini yaitu industri biofuel (baca: bio-etanol, red.). Bahkan, turunan-turunannya pun masih berguna, misalnya untuk pakan ternak, saus, dan sebagainya,” jelas Zonda.
Berkaitan dengan bio-etanol, energi alternatif pengganti bahan bakar minyak untuk kendaraan ini merupakan etanol atau bahan alkohol hasil proses fermentasi singkong. Studi terhadap bio-etanol di Indonesia sudah dilakukan sejak 1983, bertepatan dengan produksi singkong di Lampung yang ketika itu melimpah ruah. “Brasil menggunakan tebu sebagai bahan baku etanol, sedangkan Amerika Serikat memakai jagung. Indonesia masih menggunakan campuran antara singkong (8%), pepes tebu (1%), dan sorgum (1%). Tapi, nantinya hanya akan menggunakan singkong. Nah, kalau produksi singkong kita bisa mencapai 25 juta ton/ha dan harga per kilonya Rp350,-, tentu terjadi peningkatan pendapatan yang sangat besar bagi petani, meski sudah dikurangi biaya produksi. Di sisi lain, pihak industri akan dapat terus beroperasi karena bahan bakunya terpenuhi sepanjang musim,” ungkapnya. Sekadar informasi, Lampung sebagai sentra ketela pohon, tahun lalu menyumbang produksi ubi kayu sebanyak 5,5 juta ton dari luas panen 2,8 ribu ha.
Lalu, ubi kayu yang bagaimana yang bagus untuk bio-etanol? “Pada dasarnya, ubi kayu mempunyai banyak varietas, tapi baru 10 yang berhasil diteliti di Indonesia. Nantinya, akan dilepaskan lagi beberapa varietas sehubungan dengan industri bio-etanol. Berbeda dengan yang dikonsumsi manusia, singkong untuk bio-etanol harus memiliki kadar pati yang tinggi yaitu 25% sampai 45%. Dan, biasanya itu ubi kayu yang berasa pahit (melalui proses pencucian yang benar, ketela pohon ini pun dapat dimakan manusia, red.),” jelasnya. Sekadar informasi, menurut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi cq Balai Besar Teknologi Pati Lampung Maret 2006, dari 6,5 kg ubi kayu segar dapat dihasilkan 1 liter etanol berkadar 95%, dengan harga jual Rp3.500,-/liter. Bila diperhitungkan dengan ongkos tenaga kerja, transpor, dan sebagainya maka harga jualnya akan menjadi Rp4.350,-/liter.
“Singkong sebagai bahan baku utama bio-etanol, mungkin merupakan tanda kebangkitan ketiga itu telah datang, setelah kebangkitan pertama singkong diubah menjadi gaplek dalam kaitannya dengan sumber bahan pangan alternatif dan kebangkitan kedua atau ketika singkong diolah menjadi tapioka,” tegas Zonda. Nah, tidakkah Anda berminat pula membudidayakan lumbung pangan alternatif ini?
Analisa Usaha Tani Ubi Kayu
(per hektar)
A. Total biaya tenaga kerja Rp1.685.000,-
B. Sarana produksi
Bibit (10.000 stek @ Rp30,-) Rp 300.000,-
Pupuk kandang Rp ---
Pupuk buatan Rp 495.000,-
Pestisida Rp ---
Lain-lain pengeluaran Rp 540.000.- +
Total biaya (A + B) = Rp3.020.000,- Rp1.335.000,-

C. Hasil penjualan (tingkat petani)
(25.000 kg @ Rp300,-) Rp7.500.000,-
Pendapatan bersih (hasil penjualan – total biaya) = Rp4.480.000,-
R/C (hasil penjualan : total biaya) = 2,48
Catatan: Analisa usaha ini dilakukan tahun lalu, dengan demikian telah terjadi beberapa perubahan baik di biaya tenaga kerja, biaya sarana produksi, maupun hasil penjualan. Harga jual singkong untuk setiap propinsi juga berbeda-beda, misalnya di Lampung Rp350,-/kg sedangkan di Jawa Rp600,-/kg.

Manfaatkan Garasi, Hasil Bisa Rp 7,5 Jeti!
Orang sering dipusingkan dengan persoalan lahan ketika akan membudidayakan suatu tanaman. Tetapi dengan Kantung Semar Anda cukup memanfaatkan garasi rumah. Russanti Lubis
Tahukan Anda, bila Kantong Semar yang selama ini kita abaikan, telah lama dibudidayakan di Belanda dan Jerman? Tahukah Anda, jika bibit Kantong Semar itu berasal dari negara kita? Tahukah Anda, kalau Kantong Semar yang selama ini menghiasi teras kita, yang notabene adalah tanaman pribumi, harus kita beli sebagai tanaman impor? Sehingga, harga tanaman ini pun membubung menjadi jutaan rupiah per potnya, padahal sebenarnya bila kita budidayakan sendiri hanya seharga Rp30 ribu, untuk setiap potnya.
Kantong Semar (Latin: Nepenthes, red.) merupakan nama tanaman hias yang tidak asing lagi di telinga kita. Tapi, baru setahun terakhir ini namanya menjadi buah bibir, terutama di kalangan kolektor dan hobiis tanaman hias. Imbasnya, banyak penjual Kantong Semar mengambil langsung dari hutan dan lalu menjualnya. Padahal, tanaman ini memiliki akar yang sensitif sehingga 80% akan mati sebelum sempat dibudidayakan.
Lantas apa sih hebatnya tanaman yang nama Latinnya diambil dari nama gelas anggur ini? Selidik punya selidik, ternyata tanaman merambat ini mempunya banyak kelebihan, lebih tepatnya keunikan, dibandingkan dengan tanaman-tanaman hias lain, hingga Muhammad Mansur pun menjulukinya tanaman hias unik. Sekadar informasi, dulu tanaman hias hanya dibagi menjadi tanaman hias daun dan tanaman hias bunga.
“Kemudian, setelah saya menemukan dan mengembangbiakkan Kantong Semar pada 1997, saya memasukkannya ke dalam kelompok tanaman hias unik. Sebab, sama halnya dengan bunga bangkai yang cuma memiliki bunga, kantong pada Kantong Semar merupakan modifikasi dari sebagian daunnya,” jelas pemilik Thalita Nursery ini. Kantong ini terbentuk secara evolusi sebagai upaya untuk bertahan hidup, mengingat tanaman tahunan ini tumbuh subur di tanah yang miskin unsur hara (gersang).
Di bibir kantongnya yang licin itu, Mansur menambahkan, terdapat nektar (sejenis madu, red.) yang mengeluarkan bau khas yang memancing serangga untuk mendatanginya. Serangga yang mendekat nantinya akan tergelincir masuk ke dalam kantongnya. Di dalam kantong itu, juga terdapat enzim pengurai yang akan menguraikan binatang-binatang tersebut sampai membusuk, larut, dan akhirnya diserap sebagai bahan makanannya.
“Karena itulah, Kantong Semar digolongkan sebagai tanaman karnivora (pemakan daging, red),” katanya. Sekadar informasi, dulu, Kantong Semar hanya dikenal sebagai tanaman pemakan serangga atau berbagai binatang berukuran kecil. Tapi, seiring dengan semakin tingginya ukuran tanaman yang diperkirakan berasal dari Asia Timur ini yaitu mencapai 20 meter, kini ia juga mampu memangsa tikus.
Keunikan tanaman yang banyak dijumpai di Kalimantan dan Sumatra ini bukan cuma itu. “Ia memiliki lima macam bentuk kantong dan aneka warna, tergantung habitatnya. Cairan di dalam kantongnya yang masih tertutup dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai obat diare atau batuk. Sedangkan para petualang menggunakannya sebagai sumber air minum. Akarnya dapat digunakan untuk mengobati demam dan batangnya dimanfaatkan sebagai pengganti tali. Selain itu, juga dapat digunakan sebagai indikator iklim,” ujar peneliti dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Bogor, ini.
Tanaman yang kini memiliki 121 jenis ini (lebih dari 50%-nya tumbuh di Indonesia, red.), juga dapat diperbanyak dengan mudah baik dengan cara stek batang, menyemai bijinya, maupun memisahkan anakan. Cara paling gampang yaitu dengan stek batang. Sebab, untuk menyemai biji akan terhalang oleh sulitnya mendapatkan bijinya, mengingat sampai sekarang belum ada yang menjual bijinya.
“Bagi pemula, saya sarankan untuk membudidayakan Kantong Semar dengan cara stek batang dan menggunakan bibit hasil budidaya. Karena, bibit yang diambil dari habitat aslinya belum beradaptasi, sehingga mudah mati (hanya mampu bertahan hidup seminggu, red.),” jelas Mansur, yang menjalankan bisnis Kantong Semar ini sejak 2004.
Manfaatkan Garasi, Hasil Bisa Rp 7,5 Jeti!

Meski demikian, untuk membudidayakan tanaman yang disebut orang bule tropical pitcher plant ini, kita harus memahami apa maunya dengan mengenal empat poin penting yaitu jenis (tumbuh di dataran rendah, dataran menengah, atau dataran tinggi), kelembaban udara (di atas 50%), pencahayaan, dan media tanam (bukan tanah, karena padat dan cepat busuk).
“Hebatnya, Nepenthes adalah tanaman yang bisa tumbuh tanpa diberi pupuk. Karena, tanaman yang sangat peka dengan zat kimia ini, lebih mengandalkan kantong daripada akarnya,” kata pria yang dari penjualan Kantong Semar-nya meraup penghasilan Rp5 juta–Rp10 juta per bulan ini. Sedangkan dari nursery terbesar di Bogor dan beberapa supermarket, yang secara teratur menerima pasokan tanaman ini, ia membukukan pendapatan Rp3 juta/bulan. Sekadar informasi, Mansur pernah menjual tanaman ini seharga Rp1,5 juta/pot. Nah, tidakkah Anda tertarik untuk tidak sekadar menjadi kolektor Kantong Semar?
7 Keunikan dan Kegunaan Kantong Semar
- Kantung Semar merupakan tanaman pemakan daging (karnivora)
- Memiliki lima macam kantong dan aneka warna, tergantung habitatnya
- Cairan dalam kantong bisa dimanfaatkan sebagai obat diare atau batuk
- Sumber air minum bagi para petualang
- Akarnya bisa digunakan sebagai obat demam
- Batangnya bisa digunakan sebagai tali
- Kantong Semar bisa digunakan sebagai indikator iklim
Analisa Bisnis Budidaya Nepenthes(stek)
Untuk lahan seluas garasi mobil atau teras rumah, dibutuhkan 10–20 pot bibit Gracilis minimal setinggi 1 meter, yang harganya berkisar Rp100 ribu–Rp150 ribu. Selanjutnya, bibit Nepenthes ini dipotong-potong hingga menghasilkan 20–30 pot. Setelah enam bulan, bibit-bibit ini dapat dijual dengan harga minimal Rp30 ribu per pot.
Investasi
Pembelian bibit sebanyak 10 pot @ Rp150.000,- Rp. 1.500.000,-
Biaya Produksi ----- +
Rp. 1.500.000,-
Hasil Penjualan
1 pot = 30 pot @ Rp30.000,-
(10 pot = 300 pot x Rp30.000,-) Rp. 9.000.000,- -

Laba Kotor Rp. 7.500.000,-
Catatan:
- Pada tahap awal, risiko keberhasilan 50%. Dalam perkembangannya, risiko ini akan meningkat.
- Harga yang tertera merupakan harga untuk Gracilis hijau. Sedangkan untuk Gracilis yang paling
diminati konsumen yaitu yang berwarna merah dan hitam, dijual dengan harga Rp75 ribu–Rp100
ribu per pot.
- Gracilis dipilih karena ia merupakan jenis Kantong Semar yang mudah tumbuh atau bersifat umum.
- Sedangkan, untuk yang bersifat tidak umum atau sulit tumbuh dan tidak dijumpai di hutan,
biasanya merupakan hasil persilangan (hibrid) seperti Miranda yang dengan tinggi ½ meter, dijual
dengan harga Rp1,5 juta–Rp3 juta untuk setiap potnya.
- Biaya produksi dianggap tidak ada, karena dapat dikerjakan sendiri dan tanaman ini tidak
memerlukan bahan pembantu lain untuk tumbuh.
Beras Hitam, Si Buruk Rupa Bernilai Jual Tinggi
Hitam seringkali berkonotasi negatif, tetapi tidak dengan beras hitam. Dari sisi manfaat ia berkhasiat obat, dari sisi bisnis nilai jualnya lebih tinggi. Russanti Lubis
Beras putih, tentu Anda sudah mengenalnya. Beras merah, Anda pasti juga sudah pernah menyantapnya. Bagaimana dengan beras hitam?
Kata beras mengacu pada bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisahkan dari sekam. Salah satu tahap pemrosesan padi menjadi beras yaitu gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling dengan mesin, sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah yang disebut beras.
Biji padi ini memiliki warna yang berbeda-beda, seperti putih, kemerahan, ungu, dan hitam. Warna ini terbentuk karena adanya perbedaan gen yang mengatur warna aleuron (lapis terluar yang seringkali ikut terbuang dalam proses pemisahan kulit), warna endospermia (tempat sebagian besar pati dan protein beras berada), dan komposisi pati pada endospermia. Misalnya, karena hanya memiliki sedikit aleuron dan kandungan amilosa (pati dengan struktur tidak bercabang) sekitar 20%, maka padi itu menjadi beras putih.

Memeras Untung dari Susu Jagung
Tidak ada susu sapi, susu jagung pun jadi. Bahan bakunya murah, namun isi kandungan tidak kalah. Anita Surachman
Minum susu kedelai adalah hal yang biasa, tetapi kalau minum susu dari jagung manis seperti apa ya rasanya? Bagi anda yang belum pernah merasakan tidak ada salahnya untuk mencoba. Sekali anda mencoba pasti akan suka. Karena dari segi rasa susu jagung tidak kalah enak dibanding susu kedelai atau susu sapi. Bahkan belakangan ini sebagian masyarakat sudah mengkonsumsi sebagai pengganti produk susu biasa. Susu jagung juga dapat dijadikan alternatif pengganti susu hewan yang belakangan santer diberitakan harganya melonjak naik.
Untuk mengenal dan menikmati susu jagung manis alangkah baiknya kita memahami dulu tentang manfaat dan kandungan gizi yang terdapat pada jagung manis. Jagung manis (zea mays saccharata) biasa digunakan sebagai bahan baku jagung bakar, sayur mayur, juga dapat dibuat susu jagung manis atau tempe jagung manis.
Susu jagung manis dikenal pula dengan sebutan corn milk, adalah produk inovasi baru dengan rasa unik. Dari segi kelebihan, minuman ini dapat memulihkan energi atau stamina dalam waktu cepat dan menjaga kesehatan mata, hati, lambung, usus serta diyakini sebagai minuman bebas kolesterol. Kandungan seratnya yang tinggi memperlancar pencernaan dan kadar gula yang rendah sehingga cocok untuk diet. Juga dapat mengobati penyakit diabetes dikarenakan jagung manis mengandung gula alami.
Hal inilah yang kemudian dikembangkan oleh Ahsan Abduh Andi Sihotang. Mahasiswa Tekhnologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB). Ahsan sebagai pemilik ide tidak sendirian, bersama keempat rekannya Ary Try Purbanyanto, Nadiyah Khaeriyyah, Muhammad Akhlis Mustaghfiri dan Linda Mikowati berhasil meramu susu jagung. Susu yang dijual seharga Rp 1.500/cupnya ini diberi nama O-Thanx mengutip potongan dari nama belakang Ahsan. Susu ini ternyata sudah sangat terkenal dikalangan mahasiswa IPB, produk O-Thanx sangat sering mengisi bazaar di IPB. Produk susu jagung karya lima mahasiswa ini pernah meraih juara II dalam ajang bergengsi Young Entrepreneur Awards 2007 yang diselenggarakan Bisnis Indonesia dengan mengalahkan ratusan peserta lain.
Ahsan, salah satu mahasiswa yang terlibat dalam pengembangan produk susu tersebut mengatakan, awal mula usaha ini masih berkaitan dengan latar belakang pendidikan dan jurusannya di mana dalam hal ini mereka ditekankan untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditi-komoditi pertanian. Dari pembagian komoditi pertanian yang ada pilihan Ahsan jatuh pada jagung dari situlah ia mulai konsen. Sampai akhirnya terpikir untuk meningkatkan nilai tambah jagung tersebut, terbesit dibenaknya susu dari kedelai maka tergeraklah Ahsan untuk mencoba membuat susu olahan tapi terbuat dari jagung. Karena pada jagung terdapat kandungan pati yang sama dengan kedelai. Tak hanya itu, jagung juga merupakan salah satu komoditi yang banyak dan murah harganya terutama ketika panen, sehingga jika diolah akan banyak sekali keuntungannya.
Ide mengolah jagung menjadi susu ini kemudian diwujudkan dalam bentuk proposal dan diikutsertakan dalam lomba program kreatifitas mahasiswa yang diselenggarakan oleh Dirjen DIKTI (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi). Berselang kemudian proposal yang diajukan pun lolos sampai akhirnya mereka mendapatkan bantuan dari Dikti sebesar Rp4,5 juta. Dana yang cair itu digunakan sebagai modal awal untuk memulai usaha susu jagung yang berdiri pada Januari 2007. Modal awal penelitian ini digunakan untuk membeli alat-alat seperti blender, kompor, cup-sieler, ice box, kemasan, thermometer, panci, saringan, baskom dan bahan baku pembuat susu.
Cara membuat minuman susu jagung ini ternyata tidaklah sulit. Sebelumnya pilihlah jagung manis yang nampak segar, tidak terlalu tua juga tidak terlalu muda, bentuknya masih bagus dan tidak keriput, jagung itu dibersihkan, direbus sampai matang lalu ditiriskan, kemudian didinginkan. Biji jagung dipipil sehingga terpisah dari bonggolnya dengan menggunakan pisau tajam, setelah itu diblender, tambahkan air hangat yang telah dicampur gula, untuk pengental Ahsan menambahkan CMC (Carboxymethylcellulose), tapi sekarang CMC diganti dengan susu skim. “Supaya kandungan proteinnya bertambah,” terang Ahsan.
Hasil dari blender tadi lantas diperas dan disaring untuk diambil sarinya, setelah dipasteurisasi selanjutnya dikemas kedalam gelas plastik ukuran 200 ml dan dimasukkan ke lemari pendingin agar tahan lebih lama, biasanya ketahanan bisa sampai satu minggu.
Dalam menjalankan usahanya, mahasiswa angkatan 42 semester VI ini mengaku kerap kali masih ada kendala yang dihadapi. “Setiap usaha pasti tidak lepas dari kendala, yang paling krusial sejauh ini tentang masalah bahan baku, karena kita belum bisa menyetoknya. Sebab jagung manis yang dibeli dengan jumlah banyak dan disimpan beberapa lama kadar gulanya akan menurun drastis. Sifat alami gula memang seperti itu, gula jagung yang teroksidasi akan menurun kadarnya. Sedang, industri yang baik itu harus memiliki stok. Tapi permasalahannya, bahan baku tidak bisa disimpan dalam jangka waktu lama, jadi dari segi penyimpanan itulah yang masih jadi kendala. Untuk kendala lain adalah masalah efisiensi dan efektifitas produksi, karena kapasitas alat produksinya kecil, ke depannya kita ingin punya alat yang lebih besar, jadi lebih dapat menampung kapasitas, dengan begitu hasil produksi jadi efektif dan efisien,” ungkapnya.
“Harapan kedepannya ada penelitian yang berbasis jagung, supaya ditemukan cara penyimpanan jagung manis agar awet dalam waktu beberapa bulan ke depan. Selain itu, untuk masalah legalitas industri ini dimudahkan dan dibantu pendampingannya, melalui institusi atau pemerintah dan koperasi setempat. Juga ada dana bergulir untuk industri kecil. Harapannya mudah-mudahan bisnis ini bisa sukses dengan didukung oleh semua elemen sehingga kita bisa menjadi generasi-generasi mandiri, generasi yang berbasis pada entrepreneur dan job creator,” Ahsan menambahkan.
Karena permintaan untuk marjin dari retail yang terlalu besar, O-thanx susu jagung ini belum masuk ke toko-toko. Produk susu jagung ini dipasarkan dengan sistem order, Ahsan ingin produknya merambah ke ritail atau swalayan, dalam jangka waktu dekat ingin juga masuk ke perumahan dosen yang mau berlangganan. Tentunya dengan kemasan yang berbeda yakni kemasan botol kaca. Hal tersebut akan masuk ke dalam rencana pemasarannya. “Untuk itu sudah ada rencana buat kedepan mau coba masuk ke retail itu, tapi segmentasi pasarnya kita yang atur, jadi positioning-nya juga memang barang ekslusif dengan harga yang relatif terjangkau,” kata remaja berumur 19 tahun ini.

Kenapa Susu Jagung?
- Dapat memulihkan energi atau stamina dalam waktu cepat
- Menjaga kesehatan mata, hati, lambung, usus serta diyakini sebagai minuman bebas
kolesterol.
- Kandungan seratnya yang tinggi memperlancar pencernaan dan kadar gula yang rendah cocok
untuk diet.
- Dapat mengobati penyakit diabetes dikarenakan jagung manis mengandung gula alami.

Lilin Raksasa Imlek - Pemain Berkurang, Peluang Membesar
Kebutuhan lilin besar untuk perayaan Imlek sempat turun sehingga pemainnya susut. Kini kebutuhan kembali meningkat. Suatu peluang bagi pemain yang masih eksis. Niesky Hafur P
Pergantian tahun dalam penanggalan cina atau yang biasa disebut Tahun Baru Imlek identik dengan pernak pernik berwarna merah. Dan seakan sudah menjadi keharusan bagi setiap etnis keturunan Tiong Hoa, di hari itu melakukan sembahyang di wihara dan kelenteng. Tidak seperti hari-hari biasanya, menjelang perayaan Imlek, sejumlah kelenteng dan wihara di berbagai daerah mulai bersolek. Salah satu yang menarik perhatian, adalah lilin ukuran raksasa berwarna merah yang ditempatkan di beberapa sudut ruangan tempat peribadatan tersebut. Semakin jarangnya kelenteng dan wihara memakai lilin ukuran itu, maka tidak banyak pula orang yang membuat lilin setinggi orang dewasa itu.
Salah satu tempat pembuat lilin itu terdapat di pedalaman kota Tangerang, tepatnya di Kampung Gupo, Teluk Naga, Tangerang. Kebanyakan, pembuat lilin tersebut juga etnis keturunan Tiong Hoa, seperti Ko Aseng. Pria berdarah Pontianak ini mengaku sudah tiga tahun, membuat lilin besar itu. Tak seperti membuat lilin ukuran kecil, untuk membuat lilin tersebut dibutuhkan modal yang tak sedikit.
Walaupun terbilang pemain baru dalam usaha ini, pria bernama lengkap Can Yau Seng ini tak takut akan persaingan dengan para pemain lama. “Usaha lilin ini sudah saya jalani sejak tahun 2002. Tapi untuk lilin ukuran 1000 kati ini baru saya lakoni sejak tahun 2005, hasilnya lumayan. Saya sudah mempunyai langganan tetap,”katanya mengawali pembicaraan. Kati adalah ukuran dalam lilin. Ketertarikan untuk membuat lilin besar tersebut, bermula saat Ko Aseng melihat makin banyaknya lilin berukuran 1000 kati itu menempati sudut kelenteng ditempat biasanya ia sembahyang.
Dari situlah, pria yang juga pernah menekuni bisnis kertas untuk sembayang di wihara ini tak ragu lagi dan berniat membuat lilin besar. “Saya melihat kelenteng Petak Sembilan di Glodok, dari tahun-tahun ketahun jumlah penyumbang lilin 1000 kati makin meningkat. Otomatis peminat lilin besar itu juga bertambah, saya berfikir peluang untuk bermain lilin ini juga bagus,”urainya.
Pertama kali membuat lilin besar, tak mudah bagi Ko Aseng untuk mencari langganan tetap. Namun berkat kegigihan dan kejelian mempromosikan lilin buatannya, pria berusia 54 tahun ini bisa menyakinkan ke sejumlah konsumen, kalau lilin buatannya bisa bersaing dengan yang lain.
“Sebelum membuat lilin 1000 kati, terlebih dulu saya survei ke wihara di Jakarta dan Tangerang. Berapa banyak yang memakai lilin besar, dan sebagai pemain baru kita harus pandai-pandai merayu pihak wihara,” katanya santai.
Perlahan tapi pasti, setelah tahun pertama pembuatannya, Ko Aseng mulai dipercaya pihak kelenteng Petak Sembilan sebagai pemasok tetap lilin ukuran 1000 kati. Sudah tiga kali perayaan imlek ini, dirinya selalu menerima pesanan lilin besar dan jumlahnyapun terus meningkat.
“Pada imlek tahun 2005 saya hanya mendapat pesanan 12 buah lilin yang ukuran besar, tapi saat imlek tahun-tahun berikutnya pesanan meningkat sampai 28 buah lilin,”tutur pria kelahiran 7 Maret 1954 ini.
Ko Aseng mengaku, untuk imlek tahun ini pesanan lilin yang berukuran 1000 kati menurun dibanding Imlek Tahun 2007 lalu. “Tahun lalu pesanan lilin besar mencapai 28 buah. Tapi tahun ini, hingga sehari menjelang imlek, pesanan hanya 18 buah. Hal ini pengaruh dari banjir yang menggenangi jalan-jalan di Jakarta menjelang imlek,” katanya.
Berbeda dengan pembuatan lilin berukuran kecil yang diproduksi setiap hari, lilin yang mempunyai tinggi1,80 cm dan berdiameter 52 cm ini hanya diproduksi empat kali dalam setahun.
Oleh karena itu, untuk mensiasati agar karyawannya tak menganggur saat lilin tak berproduksi, Ko Aseng juga mempekerjakan karyawannya membuat hio(semacam bambu untuk sembahyang red)
“Selain lilin kita juga memproduksi hio, kalau hio ini produksinya setiap hari. Habis kalau lilin nggak jalan, mereka (karyawan) ini mau makan apa. Bisa-bisa mereka semua pada bubar,”terang Ko Aseng yang baru setahun memproduksi hio ini.
Berbicara mengenai omset, Ko Aseng sendiri tak bisa memperinci dengan jelas keuntungan yang didapat perbulan. Pasalnya,menurut Ko Aseng, usaha yang dijalaninya ini belum tertata dengan rapi. “Wah, kalau omsetnya itu tidak bisa dihitung perbulan. Tapi kalau dihitung keseluruhan, bisa mencapai 150 juta pertahunnya,”jelasnya.
Untuk modal sepasang lilin yang berukuran 1000 kati, dibutuhkan biaya modal mencapai Rp 6 juta dan dijual seharga Rp 8 juta sepasang. Di tengah mahalnya bahan-bahan untuk membuat lilin saat ini, Ko Aseng mensiasatinya dengan bahan bekas lilin yang sudah terpakai.

Saat ini, dirinya membuat lilin dengan perbandingan 30 persen bahan baru dan 70 persen bahan bekas dari lilin yang sudah terpakai. Hal tersebut dilakukan, guna memperkecil pengeluaran.
Jurus Ko Aseng Berbisnis Lilin Imlek:
- Melakukan survei-survei di wihara
- Ketika tren kebutuhan lilin besar Imlek meningkat, Ko Aseng langsung menggeluti bisnis ini
- Melakukan pendekatan ke wihara-wihara
- Untuk menekan biaya, ia mengkombinasikan bahan baku bekas dan bahan baku dengan
perbandingan 70:30
- Karena permintaan lilin besar bersifat musiman (setahun hanya empat kali), maka ia memproduksi
hio untuk rutinitasnya

Harga Lilin berukuran besar :
Ukuran 100 kati (panjang 1,35 meter diameter 35 cm) sepasang Rp 800.000,-
Ukuran 200 kati (panjang 1,60 meter diameter 38 cm) sepasang Rp 160.0000,-
Ukuran 300 kati (panjang 1,60 meter diameter 40 cm)sepasang Rp 320.0000,-
Ukuran 500 kati (panjang 1,80 meter diameter 42 cm)sepasang Rp 640.0000,-
Ukuran 1000 kati(panjang 1,80 meter diameter 51 cm) sepasang Rp 800.0000,-
Mengatasi Sampah Tanpa Masalah
Sampah menjadi persoalan besar bagi kota-kota besar. Keprihatinan Yotty mendorong dirinya memodifikasi tempat pembakaran keramiknya menjadi incinerator . Ada peluang yang bisa ditangkap. Russanti Lubis
Bandung Lautan Sampah. Kini, bertambah satu lagi julukan ibukota Provinsi Jawa Barat itu. Sampah-sampah, baik yang menumpuk hingga membentuk bukit maupun yang bertebaran di sudut-sudut jalan, di kota yang mendapat julukan Parijs van Java itu, tentu saja menimbulkan bau yang tidak sedap dan mengundang lalat untuk mengerumuninya. Ironisnya, sampah-sampah ini berdekatan dengan pasar, warung makan, dan bahkan rumah sakit.
Kondisi lingkungan yang tidak sehat ini, menimbulkan keprihatinan tersendiri di hati Siti Djuhro, seorang pengrajin keramik Kondisi tersebut juga memunculkan ide di benaknya, untuk memodifikasi tempat pembakaran keramiknya menjadi tempat pembakaran sampah. “Kalau keramik saja dapat saya bakar dengan tempat pembakaran keramik, masa sih sampah nggak bisa? Padahal, tidak berbeda cara pemasangan burner, cerobong, dan relnya,” ujar, perempuan yang akrab disapa Yotty ini.
Lantas, empat tahun lalu, ia melalukan trial and error berulang kali, untuk menemukan bentuk yang pas berikut spesifikasi tempat pembakaran sampah, seperti yang ia mau. Setelah itu, ia menuangkannya dalam sketsa sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk nyata. Langkah terakhir yaitu menjelaskan kepada konsumen tentang apa itu incinerator (tempat pembakaran sampah, red.) tersebut, apa saja fungsinya, apa saja bentuknya, secepat apa mampu membakar sampah menjadi abu, dan sebagainya.
“Kami juga berkreasi dalam bentuk sehingga tidak monoton dan konsumen pun menyukainya. Di samping itu, masing-masing tipe incinerator buatan kami memiliki kelebihan,” jelas Yotty, yang telah bergelut dengan bisnis keramik printing selama hampir 30 tahun. Sekadar iniformasi, incinerator yang berbahan bakar gas dan listrik ini, dibuat oleh perusahaannya yaitu PT Global Cilegon Banten, memiliki aneka bentuk, seperti kubus, silinder, dan persegi empat. Sedangkan cerobongnya dapat ditempatkan di tengah atau di pinggir, sesuai dengan keinginan konsumen.
Incinerator ini, ia melanjutkan, mampu membakar sampah dalam suhu tinggi yaitu 1.500° C hingga 2.500° C. “Tapi, titik leburnya macam-macam, tergantung dari sampah apa yang akan dibakar. Misalnya, sampah yang berwujud ganja, cukup dibakar dengan suhu 700° C. Sedangkan ekstasi membutuhkan suhu 1.000° C untuk melumatkannya,” ungkapnya. Incinerator yang berkapasitas satu hingga empat ton ini, juga dapat digunakan untuk memusnahkan sampah rumah sakit (khususnya sisa-sisa organ tubuh), sampah basah, sampah kering, sampah organik, sampah non organik, penyakit tumbuhan (yang mungkin tidak berbahaya bagi manusia, tapi mematikan bagi tanaman-tanaman lain), serta bangkai binatang dan kotorannya yang mengandung virus atau bakteri berbahaya (virus flu burung, misalnya).
Untuk membakar sampah pada umumnya, ia menambahkan, dibutuhkan waktu maksimal lima jam. Sedangkan untuk sampah narkoba, diperlukan waktu satu hingga dua jam. “Dengan ketentuan, jika akan membakar sampah basah, jangan semua sampah basah dimasukkan ke dalam incinerator. Sebab, akan susah dibakar. Yang harus dilakukan yaitu mencampurnya dengan sampah kering dengan kapasitas sampah kering lebih banyak. Selanjutnya, susunannya diatur sedemikan rupa, sehingga api dapat membakar dengan sempurna,” katanya.
Di samping itu, ia melanjutkan, sebaiknya tabung hanya diisi ¾ dari kapasitasnya. “Bila sampahnya banyak, setelah melakukan pembakaran pertama dan sisa pembakaran diambil, biarkan incinerator beristirahat selama satu jam dengan cara didinginkan dengan blower yang terdapat di dalam alat ini juga. Sesudah itu, gunakan untuk membakar sampah berikutnya. Demikian seterusnya,” jelasnya.
Sisa pembakaran dapat digunakan sebagai pupuk tanaman. Tapi, hal ini tidak berlaku bagi sisa pembakaran narkoba yang bentuknya seperti abu rokok itu. “Saya sarankan untuk dikubur saja, karena tidak ada manfaatnya,” ujarnya. Sedangkan asapnya setelah keluar sebagai hasil pembakaran pertama, akan dibakar lagi dengan suatu alat yang juga terdapat dalam cerobong itu, sehingga ternetralisasikan dan tidak berbahaya lagi. Sekadar informasi, khusus tentang asap dari hasil pembakaran narkoba ini, telah mengalami uji coba dari Kementerian Lingkungan Hidup dan dinyatakan tidak mengandung apa pun lagi alias aman.
Incinerator yang dibuat oleh Yotty dibantu enam orang yang ahli dalam bidang casing, batu, kayu, burner, pemasangan cerobong, serta umum, dan beberapa karyawan lain ini, ditawarkan dengan harga minimal Rp1 milyar, berikut garansi lima tahun untuk body frame, dan setahun untuk bahan bakunya yang masih diimpor. “Menurut perkiraan saya, incinerator saya ini akan mampu bertahan 50 tahun. Sebab, saya membuat casing-nya dengan besi terbaik. Buktinya, ketebalan besi casing tempat pembakaran keramik saya hanya 3 mm dan sampai sekarang (hampir 30 tahun) masih berfungsi dengan baik. Sedangkan incinerator saya memiliki ketebalan besi 10 mm. Batunya saya letakkan vertikal dengan ketebal 20 cm, padahal biasanya horizontal dengan ketebalan 5 cm. Lebih dari itu semua, untuk membakar keramik dibutuhkan suhu 1.250° C, sedangkan untuk sampah maksimal hanya 1.000° C,” jelasnya, tanpa bermaksud promosi.
Tidak ada kendala? “Mungkin kendala justru muncul dari para pemakainya, yang kurang paham bagaimana memakainya, meski peraturan pemakaian sudah saya tempelkan pada incinerator tersebut. Mungkin juga pada harganya yang terbilang tidak murah, sehingga tidak memungkinkan perusahaan-perusahaan kecil, terutama rumah sakit, untuk membelinya. Padahal, di luar kasusnya sebagai produk saya, incinerator ini sangat bermanfaat. Bukankah sampah itu selalu ada?” kata wanita, yang dua tahun lalu mendapat pesanan dua unit incinerator dari BNN (Badan Narkotika Nasional).
Incinerator Buatan Yotty
- Memiliki aneka bentuk, seperti kubus, silinder, dan persegi empat. Sedangkan, cerobongnya dapat
ditempatkan di tengah atau di pinggir, sesuai dengan keinginan konsumen.
- Mampu membakar sampah dalam suhu tinggi yaitu 1.500° C hingga 2.500° C, tapi karena setiap
sampah memiliki titik lebur yang berbeda-beda, sehingga tidak selalu harus setinggi itu suhunya.
- Dapat digunakan untuk membakar narkoba (ganja, ekstasi), sampah basah/kering, sampah
organik/non organik, sampah rumah sakit, penyakit tumbuhan, serta bangkai binatang dan
kotorannya yang mengandung virus berbahaya.
- Hasil pembakaran sampah (bukan dari narkoba) dapat digunakan sebagai pupuk.
- Asap yang keluar dari pembakaran narkoba tidak lagi berbahaya, karena mengalami dua kali
pembakaran.
- Kapasitasnya 1–4 ton.
- Sampah biasa membutuhkan waktu pembakaran maksimal lima jam, sedangkan sampah narkoba
sekitar 1–2 jam.
- Garansi lima tahun untuk body frame dan setahun untuk bahan bakunya.
- Dapat digunakan untuk membakar sampah sebanyak apa pun dalam sehari, masing-masaing
dengan masa istirahat/pendinginan selama sejam.
- Berbahan bakar gas dan listrik.
Mengulik Alarm Rumah Made in Gresik
Kondisi perekonomian yang semakin sulit meningkatkan angka kriminalitas, utamanya pencurian dan perampokan. Alarm lokal dengan harga murah, bisa menjadi salah satu solusi untuk membantu kewaspadaan Anda. Wiyono
Di tengah meningkatnya angka kriminalitas, siapa pun sadar akan pentingnya sistem keamanan lingkungan. Belakangan ini pencurian atau bahkan perampokan kerap terjadi bukan hanya pada saat rumah atau bangunan ditinggal kosong penghuninya. Sehingga, terutama ketika hendak bepergian, berbagai cara ditempuh demi selamatnya harta benda kita. Mulai dari sekadar dititipkan pada tetangga sekitar, menyewa jasa keamanan, atau pun dengan memasang alat-alat pendeteksi elektronik yang kini banyak beredar.
Sayangnya, produk-produk elektronik semacam itu, sekalipun cukup efektif, namun biasanya cukup dalam menguras saku. Contohnya harga untuk sebuah alarm rumah, di toko bisa mencapai jutaan. Malahan terdapat alarm rumah produk impor disertai teknologi wireless seharga Rp 15 juta. Tetapi, ternyata terdapat pula produk lokal dengan fungsi sama bisa diperoleh hanya dengan Rp 30 ribu. Maklum, perancangnya sendiri mengatakan, produk tersebut memang sengaja membidik kalangan menengah ke bawah. Dengan alasan, pangsa ini belum banyak digarap oleh produsen-produsen alarm kaliber internasional.
Alarm rumah murah-meriah itu tidak lain buatan M. Fahni, pengusaha Gresik dengan bendera usaha Indo Alarm, sejak sekitar setengah tahun belakangan. Pemuda 24 tahun itu mengaku memulai bisnis tersebut menggunakan uang semester kuliah sebagai modal usaha. Hal itu dilakukan semata-mata dorongan tekad yang ingin menunjukkan bahwa untuk menjadi seorang pengusaha tidak usah menunggu usia tua/ pensiun terlebih dahulu. “Pada saat itu saya sedikit berbohong pada orang tua, uang kuliah yang seharusnya saya bayarkan untuk UAS (ujian akhir semester) malah saya gunakan untuk berbisnis,” aku Fahni namun enggan merinci berapa jumlahnya.
Dia pun tertarik mengembangkan suatu produk yang dianggap bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Pilihannya jatuh pada produk alarm rumah, dan seperti dikatakan, itu dikarenakan peristiwa kriminalitas seperti perampokan dan pencurian tampak semakin merajalela. Dan celakanya, menurutnya tindak kejahatan sekarang ini tidak hanya terjadi di kawasan perumahan-perumahan mewah di daerah perkotaan saja, melainkan sudah merambah hingga ke rumah-rumah di perkampungan. “Inti atau tujuan dari perusahaan kami adalah menjadi perusahaan yang memproduksi alarm rumah dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat luas,” tandasnya.
Alarm rumah yang dimaksud, yakni alarm berbentuk portabel dengan dimensi mungil sehingga bisa dipasangkan di banyak tempat, seperti pintu, jendela, almari, laci dan lain-lain. Penggunaannya terbilang praktis dan mudah, pada sisi belakang alat ini dilengkapi double tip sebagai perekat, sehingga pada saat pemasangan tidak perlu merusak daun pintu atau jendela. Sedangkan cara kerjanya pun tergolong simple. Dijelaskan, alat tersebut memiliki dua komponen utama, yakni terdiri atas sepasang transmitter dan receiver. Pada saat instalasi keduanya harus diletakkan/ dipasang sejajar. Maka posisi on (tombol hidup), alarm tersebut akan mengeluarkan bunyi keras apabila kedudukannya sudah tidak sejajar. Dengan kata lain, manakala terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki, misalnya pada saat pintu dibuka paksa atau dicongkel, lengkingan suara yang ditimbulkannya bakal menarik perhatian orang-orang di lingkungan sekitar sehingga diharapkan penjahat akan merasa jerih dan terbirit-birit.
Sejauh ini, menurut Fahni, produk yang pembuatannya dikerjakan bersama 17 orang karyawan ini masih sebatas melayani permintaan pesanan. Ada pun untuk pemasaran produk, saat ini terutama menjangkau wilayah Sumatera dan Kalimantan melalui dua orang agen tetap di kedua wilayah tersebut, ditambah lagi sebuah agen di Jayapura yang saat ini tengah dijajagi. Sedangkan untuk pemasaran di Jawa, khususnya di Jakarta, disebutkan, ternyata justru baru sekadar melayani permintaan perorangan atau toko tertentu. Sementara itu produk yang terjual dalam sebulan, pada awal-awal kurang lebih sekitar 250 buah, namun seiring waktu jumlahnya terus bertambah.
“Karena memang masih baru jadi kami hanya melayani pesanan. Dan perlu diketahui bahwa kami tidak memproduksi alarm ini dari bahan baku (awal), melainkan dari bahan setengah jadi, kemudian kami rakit dan modifikasi sesuai dengan pesanan,” jelasnya. “Biasanya ada pula yang minta ditambahi wireless remote, dan lain-lain,” imbuh pengusaha yang juga menjalankan bisnis penjualan pakaian import, produksi dan distribusi garmen on-line, serta peralatan/ gadget-gadget unik yang masih jarang di pasaran, dan juga mendirikan CV. Gemini Tech Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang pabrikasi antenna WI-FI.
Selain melakukan promosi above the line, strategi penjualan yang dilakukan Fahni yaitu pemasaran produk melalui kerja sama dengan para developer perumahan. Biasanya mereka itu menyambut baik penawaran kerjasama seperti itu sebab, seperti dikatakan, dengan menambahkan tool berupa alarm artinya dapat memberikan value added dan mengangkat brand image dari rumah-rumah yang akan dijual oleh pengembang yang bersangkutan.
Peraih penghargaan Pemuda pelopor 2007 Kabupaten Gresik itu menjelaskan pula, selain alarm rumah dia akan mengembangkan beberapa produk lain, semisal alarm pengaman yang diperuntukkan bagi pengendara kendaraan bermotor. Terlebih melihat fenomena peningkatan jumlah pengguna kendaraan bermotor ia sangat yakin bahwa kebutuhan akan peralatan pengaman kendaraan bermotor akan tetap berprospek cerah dalam beberapa tahun mendatang. “Insya Allah bulan depan kami akan mengeluarkan produk alarm anti kantuk untuk pengemudi kendaraan bermotor, di mana alarm ini akan bekerja/ mengeluarkan bunyi keras apabila pengemudi dalam keadaan terserang kantuk berat saat berkendara,” ujarnya menyebutkan rencananya menjual produk tersebut tetap dengan harga terjangkau, berkisar antar Rp 20 ribu-Rp 25 ribu.
Kelebihan produk Indo Alarm:
- Memiliki bentuk desain portable yang mungil, ditambah kemudahan instalasi.
- Memanfaatkan teknologi dengan sistem kerja sederhana tetapi cukup efektif.
- Desain, fitur dan fungsinya dapat disesuaikan menurut keinginan/ pesanan.
- Ditawarkan dengan harga terjangkau masyarakat luas.

Bikin Kopling dari Besi Puing
Memanfaatkan besi bekas untuk membuat kopling pada motor bebek standar. Pelanggan Nana sudah tersebar di seluruh Indonesia. Andry Yurianto
ika membicarakan bisnis yang berhubungan dengan otomotif khususnya kendaraan motor roda dua pastilah tidak akan ada habisnya. Selalu saja ada ide-ide baru yang bermunculan untuk bisa memenuhi animo dan keinginan masyarakat. Entah itu untuk menjadikan kinerja sepeda motornya lebih bagus, ataupun sekadar untuk mempercantik tampilan tunggangan mengikuti trend yang sedang digandrungi.
Karena setiap tahun bahkan setiap harinya jumlah kendaraan roda dua terus bertambah maka selalu ada celah bisnis bagi siapa saja yang berminat menggelutinya. Mulai dari bengkel yang menyediakan jasa servis, pengadaan spare part, penjualan aksesoris untuk mempercantik kendaraan, sampai dengan bengkel modifikasi bagi bikers yang ingin menyalurkan hobinya.
Sekalipun hanya lulusan Sekolah Dasar, Nana, salah satu dari sekian banyak orang yang berhasil membaca peluang yang ada tersebut. Bermodalkan uang pinjaman Rp 10 juta, bapak tujuh anak ini membuka bengkel las, yang mengkhususkan diri membuat dan memasang kopling.
Bisnis ini berawal dari rasa keingintahuannya mengenai cara kerja motor berkopling. Pada saat itu belum ada motor bebek 4 tak yang menggunakan kopling. Dan, dalam benak Nana, langsung terbersit sebuah peluang bisnis membuat dan memasangkan kopling pada motor bebek standard (tidak menggunakan kopling).
Tanpa lelah beruji coba, akhirnya Nana berhasil membuat dan memasang koling pada motor bebek standar. Tak disangka-sangka, modifikasi kopling pada motor bebek standar saat itu hingga kini sangat digandrungi pengendara motor. Trend sekaligus fungsi kopling yang membuat perpindahan gigi terasa smooth membuat jasa yang ditawarkan Nana langsung disambut pelanggan dengan antusias tinggi.
Tanpa harus bersusah payah, dan tanpa promosi, bengkel Nana banyak dikunjungi “anak-anak motor dan para pembalap jalanan.” Dan ternyata pelanggannya tidak hanya di seputaran Jakarta, melainkan sudah merambah sampai luar Pulau Jawa. Ada yang berasal dari Bali, Medan maupun kota-kota lainnya di Indonesia. “Bisa dibilang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia,” katanya kalem, tanpa bermaksud jumawa.
Pria yang juga pernah bekerja di bengkel bubut dan motor ini mengaku untuk membuat dan memasangkan kopling ia memanfaatkan limbah yang dibelinya dari tukang besi kiloan (besi bekas atau puing). “Tentunya saya melakukan seleksi,” ujarnya seraya mengimbuhkan biaya yang dikenakan kepada para konsumen bervariasi antara Rp150 ribu-Rp175 ribu, tergantung dari tingkat kesulitan dan jumlah bahan yang digunakan.
Dalam menjalankan usahanya yang terletak di bilangan Asem Reges ini, Nana dibantu oleh beberapa anak buah. Untuk pengerjaannya, Nana hanya menggunakan mesin giling bubut dan matres (cetakan yang terbuat dari besi yang dibuat sendiri). Sementara, waktu yang di butuhkan dalam pemasangannya ke dalam blok mesin motor kurang lebih 30 menit.
Untuk menjaga kepuasan konsumen, Nana mengerjakan sendiri pesanan dari para pelanggannya. Tetapi untuk tahapan finishing, ia menyerahkan pengerjaannya kepada anak buah. Dari jasa pemasangan kopling ini Nana bisa meraup omset rata-rata Rp1 juta per harinya. “Bahkan kalau order sedang ramai bisa mencapai Rp2 juta” ujarnya menambahkan.
Sekalipun usahanya sudah membuahkan hasil, bahkan beberapa anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi, namun Nana mengaku bisnisnya masih memiliki beberapa kendala. Selain, bengkel-bengkel sejenis mulai bermunculan, terbatasnya dana membuat ia tidak bisa meng-up grade. Ujung-ujungnya perluasan usaha hanya bisa dilakukan secara setahap demi setahap. “Asetnya memang berkembang lebih besar. Kira-kira Rp200 juta,” ungkap Nana dengan tersenyum.
Secara umum bisnis bengkel khusus kopling ini masih cerah. Karena sejumlah pabrikan motor terus mengeluarkan sepeda motor bebek terbaru. Namun, sejauh ini pabrikan masih mengeluarkan motor bebek standar tanpa koling tangan.


Firman Tjandra, Jajal Pasar Dengan Produk Mesin Lokal Dengan kreatifitas dan inovasinya Tjandra berhasil membuat mesin lokal dari A-Z. Kualitasnya tak kalah dengan produk impor. Wiyono

Firman Tjandra mengaku sudah terlalu tua untuk tetap bergelut di bisnis IT sehingga lulusan Fakultas Teknik Universitas Atmajaya tahun 1975 ini memutuskan beralih ke habitat semula, menjadi pengembang mesin lokal. Kini PT Canadera yang ia rintis sejak sekitar lima tahun silam itu dikenal sebagai manufacturing bermacam-macam mesin peralatan yang diperuntukkan di bidang pertanian, industri pengolah makanan serta beberapa peralatan laboratorium.

Mesin-mesin bidang pertanian dan pengolah makanan hasil kreasinya antara lain berupa pemipil jagung, pengering jagung, pemipih emping jagung, mesin perajang bawang, singkong, pisang atau lainnya, serta perajang tembakau. Ada pula jenis vacuum frying untuk membuat aneka keripik buah, peniris sentrifugal bagi segala macam hasil gorengan, mesin destilator minyak atsiri, bunga atau air suling, liquid smoke atau mesin pembuat asap cair, mesin penghasil tepung jagung, beras, pemipih emping melinjo, pembersih sabut kelapa, pencacah sampah organik, pencacah plastik, screw press atau mesin pemeras dengan sistem ulir, serta puluhan lagi jenis mesin-mesin yang di desain untuk keperluan industri.

Sedangkan contoh alat untuk keperluan laboratorium buatan Tjandra di antaranya membuat lemari asam, lemari steril, maupun shaker incubator. Lemari asam, misalnya, digunakan sebagai tempat saat akan memulai sebuah reaksi kimia yang menimbulkan gas-gas berbahaya. Rahasia alat ini adalah pintu yang dibuat model naik-turun. Secara sederhana di dalamnya disertai bandul pemberat untuk penyeimbang agar pintu terasa ringan ketika hendak dibuka-tutup. Sementara uap atau gas beracun segera dinetralisir dan disedot keluar sehingga aman bagi manusia dan lingkungan.

Tjandra menyebutkan, latar-belakang usahanya itu adalah ingin menyediakan produk lokal di pasaran yang memanfaatkan teknologi tepat guna dengan harga yang pasti jauh lebih murah dari pada produk impor. Chopper atau mixer adonan kue impor memang banyak dijual di toko-toko namun dengan harga lebih mahal. Sementara hasil rakitannya tidak kalah dalam soal kualitas dan konsumen memperoleh barang dengan selisih harga 30%-50% lebih rendah. “Atau kalau terdapat alat yang unik dari luar negeri atau susah diperolehnya maka dapat kami buatkan sesuai contoh,” tambahnya.

Mantan pegawai selama 20 tahun di bidang IT ini memiliki keyakinan semua jenis alat bisa dibuat karena pada prinsipnya tinggal merangkai-rangkai berbagai sistem kerja berdasarkan logika dan ilmu fisika. Sebuah mesin sederhana misalnya mesin pencabut bulu ayam. Prinsip kerjanya, setelah ayam disembelih dan dicelupkan ke dalam air panas 80% C lalu dimasukkan ke dalam mesin pencabut bulu. Bentuknya berupa tabung yang dapat diputar dan di dalamnya terdapat karet-karet. “Sehingga saat dijalankan, karetnya seolah-olah memukul-mukul ayam mengakibatkan bulu-bulunya terlepas,” jelasnya.



Dari peralatan sederhana seperti itu seterusnya dikembangkan hingga yang memiliki konsep lebih rumit, yakni mesin-mesin yang diperuntukkan bagi industri besar. Maka di samping mengerjakan desainnya sendirian ia juga mengandalkan tim untuk saling berkonsultasi terutama pada waktu mengerjakan jenis mesin baru.
Tjandra memiliki dua buah workshop dengan 30 orang teknisi di Bandung dan Jogjakarta. Dikatakan, rata-rata sebuah mesin ukuran sedang dikerjakan oleh 3 orang selama 2 minggu. Sehingga rata-rata dalam sebulan dapat menggarap 10 buah mesin. Omset tidak dapat ditentukan secara pasti karena nilai jual masing-masing sangat bervariasi mulai dari Rp 2 juta, Rp 3 juta hingga ratusan juta.

Meskipun sudah berjalan kurang lebih sejak lima tahun silam, tetapi Tjandra mengaku baru fokus ke pemasaran setahun belakangan. Biasanya konsumen selama ini mengenal jasa ini hanya lewat mulut ke mulut. Walau begitu, dikatakan, selain mencakup daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat, permintaan datang dari berbagai daerah yang lain mulai Aceh sampai Papua dan bahkan luar negeri.
Lebih lanjut, bapak satu putra ini mengatakan pasar yang dibidik mencakup semua kalangan karena costumer sangat beragam, petani kecil, industri rumahan, sampai dengan industri besar. Disebutkan, untuk para petani ia telah merancang semacam alat untuk menanam biji kacang. Maka begitu dimasukkan ke dalam tanah sudah bercampur dengan pupuk dan lain-lain. Demikian pula alat pengulit kacang tanah, kacang kedelai dan sebagainya.

Sementara di bidang industri yang saat ini sedang populer seperti misalnya mesin pembuat VCO dengan sistem sentrifugal atau tanpa melalui proses fermentasi, pembuat biodiesel, serta pembuat asap cair untuk mengolah batok kelapa maupun limbah kelapa sawit menjadi produk asap cair menjadi bahan pengawet makanan. “Jadi siapa saja yang memerlukan bisa datang. Kita punya produk-produk untuk membantu para petani dan semua orang dari pada mereka membeli produk impor,” ujarnya.

Tjandra mengaku sengaja tidak melakukan stok alias berproduksi berdasarkan pesanan saja. Setiap pesanan tidak dibatasi oleh minimum order tetapi ia mensyaratkan uang muka paling tidak 50%. Karena bila perlu, untuk jaminan, pesanan yang memiliki resiko batal tinggi maka persekotnya juga harus lebih besar. “Sebab peralatan yang besar-besar dengan harga ratusan juta, misalkan tidak jadi dibeli terus mau dibuang ke mana?” ia berkilah. “Tetapi untungnya itu tidak pernah terjadi,” imbuhnya segera.

Sedangkan mengenai kendala yang dialami, saat ini semakin banyak pemain yang menyediakan jasa serupa sehingga menyebabkan sering terjadi persaingan harga. Tetapi ia menyatakan lebih memilih menjaga kualitas, seperti selalu mengembangkan inovasi yang menyediakan berbagai kemudahan dan tetap memakai bahan logam dari baja. “Biar lebih murah, besi tidak awet, lebih mudah karatan, sehingga perawatannya juga lebih susah,” kilahnya.

Langkah berikutnya, ia berencana mengembangkan produk terutama peralatan yang berukuran lebih besar berupa mesin-mesin industri yang berproduksi secara kontinyu semisal pengolah kopra menjadi CPO, termasuk beberapa mesin peralatan untuk industri kimia. Ia yakin asalkan mampu membuat produk-produk inovatif, berkualitas, dan harga bersaing, mesin lokal buatannya bakal tetap diminati.

Tissue Bukan Hanya Untuk Ngelap
Tissue memang diproduksi sebagai pembersih (ngelap). Tetapi tiga ibu rumah tangga ini menyulapnya menjadi pernak-pernik cantik. Russanti Lubis

Tahukah Anda bila tisu bukan hanya berfungsi untuk membersihkan? Terbukti, di tangan terampil tiga ibu rumah tangga yaitu Adhika, Mia, dan Siana, lap yang mirip kertas ini dapat berubah menjadi aneka pernak-pernik cantik pengisi rumah sekaligus menambah pundi-pundi keuangan, seperti tempat tisu, tempat kartu nama atau memo, nampan, tempat sampah kering, tempat pensil, talenan, dan sebagainya. Tetapi, tisu yang digunakan bukan sembarang tisu melainkan tisu buatan Jerman, demikian pula dengan teknik pembuatannya.

“Teknik pembuatan hasta karya dengan media utama tisu ini berasal dari Jerman yaitu servietten. Sedangkan, tisu yang digunakan memang produk Jerman, karena tisu ini bermotif, misalnya bunga, binatang, kartun, dan lain-lain. Sayangnya, di Indonesia tisu semacam ini tidak ada, padahal yang ingin kami tonjolkan adalah motif-motifnya, sehingga otomatis kami menggunakan tisu buatan Jerman ini.
Sebenarnya, tisu semacam ini juga diproduksi oleh Amerika Serikat (AS), Australia, dan Jepang, namun yang buatan Jerman memberikan hasil yang lebih bagus, mudah menyatu dengan media yang ditempelinya sehingga tampak mirip dengan sablon atau lukisan, relatif tahan air, dan mudah dibersihkan yaitu cukup dilap dengan kain basah, serta memiliki motif yang lebih beragam. Hal ini juga didukung oleh lem buatan Belanda seharga Rp85 ribu/botol dan pernis produk AS seharga Rp300 ribu/kaleng, yang kami gunakan,” kata Mia, mewakili rekan-rekannya.

Tisu berukuran 33 cm x 33 cm yang mirip kertas kado tetapi jauh lebih tipis ini, terbagi menjadi tiga lapisan. “Yang bermotif terletak di lapisan atas, sehingga hanya bagian itu yang kami ambil. Dua lapisan di bawahnya yang kebetulan polos, kami kembalikan ke fungsi dasarnya. Sedangkan benda yang ditempeli terbuat dari kayu MDV (sejenis kayu lokal mirip tripleks, red.) yang bentuknya kami desain sendiri,” lanjutnya. Hasilnya berupa 50 item pernak-pernik rumah tangga yang dilabeli Tangan dan ditawarkan dengan harga Rp65 ribu sampai lebih dari Rp200 ribu. Bila konsumen berminat membeli atau memesan, dapat datang ke markas mereka di Jalan Yado, Radio Dalam, Jakarta Selatan, mengunjungi bazar yang diadakan oleh Yayasan Aussi (yayasan yang membawahi sekolah-sekolah Katholik perempuan, red.), atau Rebo-an di Citos (Cilandak Town Square).

Sayang, mereka tidak selalu dapat mengikuti bazar-bazar tersebut sebab belum mampu berproduksi masal. “Kami belum memiliki karyawan, sehingga bila harus menerima pesanan dalam jumlah banyak, kami cukup mengkaryakan anggota keluarga kami sendiri. Di samping itu, kami merasa bahwa ini adalah karya seni buatan tangan yang mementingkan kepuasan batin, sehingga kalau harus berproduksi masal, semuanya itu akan menghilang. Saat ini, kami masih dalam taraf ingin berkreasi dan memamerkan kreasi kami,” kilahnya. Tetapi, tidak berarti mereka tidak ingin memiliki toko sendiri atau menitipkan produk mereka yang telah merambah seluruh Jakarta, Yogyakarta, dan Malaysia (buyer, red.) ke pihak-pihak lain. “Untuk sementara, kami ingin lebih aktif lagi mengikuti Rebo-an, sebab di sini hasil penjualan kami meningkat dua kali lipat,” imbuhnya.

Kendala lain yang muncul yaitu tisu seharga paling mahal 5 Euro/pak (1 Euro = Rp11.800,-, red.) ini mengalami perubahan motif yang sangat cepat. “Sehingga, kami harus memesan terlebih dulu dan itu butuh waktu relatif lama. Bila pelanggan ingin memesan dengan motif tertentu, mau nggak mau harus menunggu dulu apakah pesanan yang dimaksud masih tersedia atau tidak,” ujarnya. Sekadar informasi, Tangan dibuat dengan menggunakan tisu seharga 3,95 Euro/pak hingga 4,3 Euro/pak dan hanya memerlukan satu pak (1 pak = 20 lembar, red.).
Untuk mengatasi kendala ini, jauh-jauh hari pelanggan harus sudah memesan, sehingga mereka pun bisa mengecek ketersediaan tisu di negara asalnya. Selain itu, hasta karya ini juga sangat tergantung pada sinar matahari. Sebab, sinar sang surya ini mampu membuat produk ini benar-benar kering dan meninggalkan hasil tempelan yang bagus.

Tangan dibangun dengan modal Rp6 juta. Pada musim panen “bisnis” yang dimulai secara iseng pada tahun 2003 dan diseriusi setahun kemudian ini, mampu meraup onmset minimal Rp2 juta/bulan, sedangkan pada musim paceklik hanya Rp500 ribu/bulan. Omset ini diluar pesanan di mana dalam sebulan mereka menerima pesanan dari lima pelanggan yang masing-masing memesan minimal dua atau tiga produk seharga minimal Rp125 ribu. “Tapi, pada perayaan keagamaan, kami bisa mendapat pesanan hingga 50 produk,” Siana, menambahkan.
Apa sih istimewanya Tangan? “Kami tahu bahwa selain Tangan, ada beberapa pelaku bisnis sejenis. Kami juga mengenal mereka kok. Kami menyikapi keberadaan mereka dengan terus maju selangkah ke depan. Kami tidak bilang bahwa produk kami lebih bagus daripada hasil karya mereka. Tapi, setelah melihat produk mereka, kami berusaha membuat produk kami lebih baik dan lebih rapi daripada buatan mereka, mengkombinasikan warna cat, mengkombinasikan tisu yang satu dengan yang lain, serta menyelaraskan antara tisu dengan warna cat, sehingga nilai jual Tangan pun lebih bagus,” ucapnya.

Di samping secara teratur berproduksi, mereka juga membagi keterampilan ini kepada siapa saja yang berminat dengan tarif Rp430 ribu untuk dua kali pertemuan, masing-masing selama 2,5 jam dan dijamin segera mahir. “Mereka mendapat tisu dan segala peralatan untuk membuat hasta karya secara gratis. Karya mereka juga boleh dibawa pulang,” katanya. Selain itu, tisu ini juga dijual secara terpisah dengan harga Rp15 ribu/pak (1 pak = 4 lembar). Tertarik?

Kreasi Pecahan Kaca Diminati Hingga Mancanegara
Siapa sangka, pecahan kaca bisa disulap menjadi beberapa jenis kerajinan eksklusif seperti asbak, meja hias, vas bunga bahkan minatur menara Pisa dan Petronas. Penasaran? Fisamawati

Tidak selamanya kerajinan kertas, kayu, bambu atau keramik menjadi monopoli demi perolehan keindahan dan kecantikan suatu ruangan. Kerajinan kaca pun ternyata bisa menambah keapikan bahkan kemewahan dekorasi sebuah ruang. Dengan berbagai cara, kaca bening dan warna, setelah diolah serta dipadukan menjadi sebuah seni kerajinan, dipastikan akan mampu melahirkan daya pikat tersendiri.
Ketika mendengar kata pecahan kaca, hal yang terlintas adalah membuang jauh-jauh benda tersebut karena ketajaman kaca bisa mengakibatkan luka. Tetapi, tidak di tangan kreatif Johan Prasetio, pecahan kaca mampu membawa rezeki tersendiri. “Saya berniat membuka usaha sendiri karena alasan sulitnya mencari pekerjaan setelah lulus kuliah. Bahkan modal yang saya gunakan adalah sisa uang dari pendaftaran kerja di Semarang,” ungkap Sarjana Pendidikan ini.

Awalnya, Johan menekuni usaha dengan mendaur ulang limbah seperti kertas, karton dan daun kering untuk diolah menjadi souvenir, kartu undangan hingga pernak-pernik hiasan rumah tangga, furniture, frame foto dan sebagainya. “Sejak memulai usaha pada tahun 90-an, produk yang saya buat adalah undangan dan souvenir-souvenir berbahan limbah kertas dan sejenisnya. Dengan bahan tersebut maka modal yang diperlukan pun tidak terlalu besar,” Jo mengaku mengeluarkan modal awal sebesar Rp 70.000,-.
Namun, kreasi produk terus dikembangkan Jo-begitu ia disapa, dengan mengolah bahan limbah pecahan kaca. "Saya tertarik membuat kerajinan dari limbah kaca karena bahan baku kaca tidak ada masalah dan bahan selalu tersedia. Sedangkan harganya murah," ungkap Johan. Ia pun menambahkan, limbah kaca tersebut dibelinya dari sebuah perusahaan pembuat kaca di Tegal.

Jo menceritakan, proses pembuatan kerajinan pecahan kaca memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Pertama, harus dibuat kerangka utama sebagai acuan model item yang akan dibuat, lalu kaca dipotong dengan ukuran satu sentimeter. Sebelumnya kaca harus dibersihkan terlebih dahulu. Tahap selanjutnya, potongan-potongan kaca disusun mengikuti kerangka dengan bantuan lem perekat. “Untuk menghindari luka tangan akibat pinggiran potongan kaca maka item itu digerinda (diamplas,red),” imbuh suami Evi Nufiati ini.
Dalam produksi, Jo dibantu oleh beberapa masyarakat sekitar lingkungan tempat tinggalnya. “Jadi selain gallery ini, ada tempat workshop yang dikhususkan untuk produksi berat seperti pemotongan kaca yang dilakukan masyarakat sekitar. Biasanya upah yang saya terapkan tergantung dari tingkat kesulitan produk tersebut. Semakin sulit maka semakin tinggi upahnya,” terangnya.

Lalu berapa harga yang ditawarkan untuk produknya? “Harganya sangat bervariasi, kisaran harganya dimulai dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Untuk asbak ukuran kecil dijual dengan harga Rp. 12.000,-, lampu seharga Rp. 250.000,- dan miniatur menara Pisa berbobot setengah kilogram dijual dengan harga Rp. 500.000,-.Bila dilihat dari modal untuk pembuatan memang tidak seberapa tapi di sini saya juga menjual nilai seni,” ucap pria kelahiran 28 Juni 1978 ini.
Kini Jo telah menghasilkan kurang lebih 200 item kerajinan pecahan kaca di bawah naungan lebel “Jo Art” dengan omset mencapai Rp. 40 juta per bulan. Bahkan ia memiliki ide untuk membuat miniatur tujuh keajaiban dunia dan sejumlah bangunan bersejarah di dunia dari limbah kaca. “Baru-baru ini saya telah membuat miniatur Twin Towers Malaysia (Menara Petronas, red) seharga tiga juta yang secara khusus dipesan untuk Malaysia,” ungkapnya.

Pembeli tak hanya sebatas konsumen dalam negeri saja, negara ASEAN pun melirik kerajinan pecahan kaca bernilai seni tinggi tersebut. “Umumnya mereka mengetahui produk-produk kami dari acara pameran yang kami ikuti. Kemudian mereka datang dan langsung memesan,” kata Jo ketika diwawancarai di gallerynya yang terletak di Jalan Setia Budi No. 11, Tegal.
Ia mengaku, produk-produk yang ada di gallerynya sifatnya limited edition yang sengaja didesain sendiri untuk memenuhi standar kepuasan pembeli. “Pesanan bentuk apa pun dapat dikerjakan asalkan ada contoh produk yang akan dibuat,” ujarnya. Selain itu, ia pun memberikan layanan garansi barang jika ada kerusakan pengiriman.

Kap Lampu, Bermodal Rp 15 Ribu Kini beraset Rp 1,5 Miliar
Pasar kap lampu unik masih terbuka luas. Padahal bahan bakunya murah dan mudah didapat sehingga untungnya berlipat-lipat Wiyono

Banyak benda di sekitar kita yang semula wujudnya sederhana tak terlalu bernilai ekonomis bisa dijadikan barang komoditi yang laku jual di pasaran dengan harga berlipat-lipat ganda. So keuntungannya mungkin bisa di atas 100%. Semua itu tergantung dari kemampuan kita mengembangkan imajinasi atau daya kreatif pada saat mengolahnya.
Pasir, mika, enceng gondok, keramik, kayu, dan bahan-bahan natural lain di tangan yang tepat seperti Eko Widagdo, hasilnya berupa produk kap lampu yang sangat laku hingga ke manca negara. Mika dibuat berbentuk kap lampu, dilem, lalu ditempeli pasir putih hingga jadilah sebuah kap lampu unik dan menarik.
Itu hanya contoh salah satu produk kap lampu dari bahan sederhana hasil kreatifitas jebolan Fakultas Hukum UGM itu. Ada produk yang terbuat dari kulit kayu, akar kayu, serbuk batu paras, kain, atau enceng gondok. Bahan untuk dudukan lampu juga beragam, misalnya gerabah, kayu mahoni, keramik dan sebagainya. “Bahan baku relatif murah dan bisa mudah didapatkan,” ujarnya.

Usaha pembuatan kap lampu dirintis Eko sejak 1993. Ia mengaku waktu itu menjadi perajin disebabkan kepepet keadaan karena ia merasa kesempatan kerja yang ada semakin sempit. “Saya tidak terlalu idealis harus mengikuti rel akademik yang saya pelajari di bangku kuliah, namun sebaliknya dengan itu membuka wawasan untuk berkarya,” tandasnya.
Sebuah pilihan yang disyukuri apalagi setelah kini menjadi pengusaha sukses. Eko terlahir sebagai anak petani di Ponorogo, namun ayahnya memiliki jiwa seni yang diturunkan kepadanya. Sedangkan jiwa dagang terasah karena ia bersekolah sambil bekerja di toko, membantu usaha milik keluarga dekatnya. Sebagai piatu sejak usia 6 tahun ia pernah dititipkan pada keluarga dekatnya itu. Dikatakannya, modal awal usahanya hanya Rp 15 ribu, yaitu untuk membeli kramik dan plastik. Berkat ketekunan dan kecintaan untuk mengembangkan produk sekarang aset dan modal telah mencapai Rp 1,5 miliar. Ia juga telah memiliki galeri sebagai showroom penjualan di pusat kota Yogyakarta dengan diberi nama Maheswari.

Selain konsumen lokal, Eko juga banyak melayani pembeli dari luar negeri. Produk kap lampu hias biasanya banyak dipakai untuk kamar hotel, apartemen, rumah mewah, maupun taman. Pelanggan tetap adalah hotel berbintang di Indonesia serta beberapa rekanan yang bergerak di bidang interior furniture. Pasaran lokal kebanyakan adalah Bali, Surabaya, dan Jakarta. Sedangkan pasaran luar
negeri sebagian besar Italia, Spanyol, Amerika, dan beberapa negara lain di Eropa dan Asia. “Pasar kami kebanyakan untuk buyer luar negeri. Mereka datang dan mengurus pengirimannya sendiri, saya tinggal buat barang seperti pesanan. Sistem pembayarannya langsung,” ungkapnya.

Untuk produksi saat ini Eko dibantu oleh 16 orang karyawan tetap dan dengan kapasitas produksi 1000 pcs sebulan dengan satu buah model, beromset rata-rata Rp 75 juta. Sistemnya, pembelian bahan baku diolah sendiri dengan cara manual, dibuat sesuai dengan ukuran standar atau yang sesuai pesanan. Beberapa proses juga mempergunakan peralatan mesin untuk membantu mempercepat proses produksi. Harga jual tergantung ukuran mulai dari harga Rp 50 ribu per unit dan seterusnya, tergantung bahan yang akan digunakan.
Karena tidak mengutamakan produk secara massal, Eko bisa membuatkan kap lampu sesuai permintaan pelanggan. Dan hal ini menjadi keunggulan dari produk milik suami Risna Isvantiani ini. Dengan kata lain, pembeli individu bisa menentukan design yang diinginkan.
Di samping itu ia juga terus mengembangkan model sampai ratusan jumlahnya sebagai pilihan. “Desain tersebut idenya mengalir begitu saja,” ucapnya. Ia juga banyak memperoleh referensi dari internet, majalah serta masukan dari istri dan teman-temannya. “Desain kami cukup beragam, selain asli juga progresif, namun juga fleksibel karena sifatnya merupakan produk hand made, jadi bebas menentukan sesuai dengan permintaan,” tandasnya pula.

Strategi pemasaran dilakukannya dengan above atau pun below the line. Pada awalnya, ia ikut pameran produk dan penyebaran brosur kepada segmen yang menjadi targetnya, seperti hotel, designer, serta buyer, hingga menyediakan situs official di internet.
Keindahan tata ruang salah satu faktornya ditentukan oleh pencahayaan, termasuk keberadaan kap-kap lampu hias dari bahan alami namun berkesan eksotik. Terbukti konsumen dari luar negeri, khususnya dari Eropa sangat menyukainya. “Peluang pasar menurut saya masih sangat bagus asal kita berani membuat terobosan-terobosan atau inovasi,” ujarnya yakin.

Maka untuk pengembangan usaha, khususnya pemasaran ia bermaksud menjalin kerja sama dalam pembukaan outlet-outlet atau cabang baru di luar kota. “Rencananya kami ingin mengajak para investor untuk bisa membantu kami dalam hal pemasaran di mana pun berada dengan membuka outlet, showroom, dan sebagainya,” jelasnya. “Bentuk kerja sama mungkin bisa dengan bagi hasil ataupun dengan kesepakatan yang menguntungkan semua pihak,” tambahnya. Sebuah peluang baru yang layak dipertimbangkan, barangkali ada yang tertarik?
Mengais Rejeki dari Bakso Ceker
Mungkin sudah ribuan orang yang menggeluti bisnis bakso. Tetapi selalu ada peluang untuk pemain baru, termasuk Edi Supriadi, pemilik Bakso Ceker Priangan. Sukatna

Jumlah peminat bakso tidak pernah berkurang. Makanan ini juga tidak bersifat musiman, seperti jajanan yang lain. Karena dua hal itu, peluang bisnis bakso bagi pemain baru selalu terbuka, termasuk Bakso Ceker Priangan.
Dengan sedikit memodifikasi menu, bakso ceker milik Edi Supriadi terlihat berbeda dengan bakso-bakso yang sudah lama eksis. “Semula kami mengandalkan bakso tahu kuah, tetapi belakangan justru bakso ceker justru yang naik daun,” ujar anggota Tangan Di Atas (TDA) ini, di resto baksonya, Mall Depok Lantai III.
Sebelum membuka gerai di area makanan tradisional food court Mall Depok, Edi dan istrinya telah lama menggeluti bisnis bakso ini. Namun pada waktu itu bisnisnya hanya bersifat ‘iseng’. “Kami hanya melayani pesanan orang. Tetapi tiap bulan ada saja yang memesan. Kadang 100 porsi, tak jarang 200 porsi lebih. Justru para pelanggan inilah yang menyarankan kepada kami untuk membuka gerai,” ujar pria kelahiran Banjar Patroman, Ciamis ini.

Meski belum genap setengah tahun buka, Edi mengaku penjualannya sudah cukup lumayan. Apalagi pada akhir pekan. “Kalau ada acara khusus, seperti ulang tahun sebuah radio di Depok beberapa waktu lalu, bakso kami ludes,” terang account executive PT Percetakan Indo Nasional ini.
Bahkan Edi bertekad untuk membuka gerai-gerai berikutnya. Namun, ia mengaku masih terkendala modal. “Sekarang kami sedang mengusahakan untuk mendapatkan modal tambahan,” kata Edi yang sudah membuka satu warung lagi di daerah Lenteng Agung ini.

Sambil menunggu datangnya modal, Edi juga sudah melakukan survei tempat yang dinilainya strategis. Ia sangat yakin, jika mendapatkan tempat strategis, perkembangan baksonya akan lebih cepat lagi. “Dari sisi rasa saya berani mengadu dengan bakso-bakso yang sudah mapan,” jelas Edi seraya menyebutkan rahasia bumbu terletak di tangan istrinya.
Bahkan karena sangat optimistis terhadap masa depan bisnisnya ini, suatu saat nanti Edi akan konsentrasi kepada pengembangan usaha. Artinya, ia akan berpindah kuadran menjadi seorang pengusaha bakso dan akan menanggalkan status kekaryawanannya.
“Kalau ada kenalan yang tertarik dengan bisnis ini kita bisa jalan bersama-sama Pak,” katanya. Siapa yang tertarik dengan peluang ini?

Belasan Juta dari Bengkel tanpa Plang Nama
Jangan sepelekan penghasilan bengkel rumahan yang seringkali tanpa papan nama. Seorang mantan pereli, Bintang Adi Kusuma bisa menangguk belasan juta dari bengkelnya. Fitra Iskandar

Di komplek Bumi Harapan Permai (BHP) di bilangan Duku Jakarta Timur terdapat bengkel “tanpa plang” dan di kelola secara sederhana. Meski dibuka di lingkungan yang sepi, toh, setiap hari ada saja satu-dua mobil yang menunggu giliran diperbaiki. Bukan bisnis yang besar memang, namun sebagai sebuah usaha, bengkel “tanpa plang” atau sebut saja bengkel rumahan ini cukup produktif menjadi sumber pemasukan yang juga tidak bisa dibilang kecil. Setidaknya Bintang Adi Kusuma pemilik bengkel rumahan ini ia mengaku setiap hari sekurangnya dua mobil parkir di halaman rumahnya yang ia fungsikan sebagai bengkel, sehingga hasilnya tidak kurang dari Rp 15 juta.
Meskipun tidak membuka bengkel secara terang-terangan, Bintang juga tidak melakukan promosi sedikit pun untuk menjaring pelanggan. Ia hanya mengandalkan word of mouth (buah bibir) dari para relasi yang mengaku puas dengan hasil kerjanya. Awalnya, pelanggan yang datang adalah para kenalannya sewaktu masih aktif di dunia reli. Namun seiring waktu pelanggannya berkembang, tidak hanya teman-temannya mantan pereli saja yang mempercayakan mobilnya di bengkel rumahan Bintang namun pelanggan baru pun berdatangan.” Kalau dulu hanya kerabat saja yang mereparasi mobil di sini, sekarang justru banyak pelanggan baru,” ungkap Bintang.

Menurut Bintang, membuka bengkel rumahan banyak keuntungannya. Pertama. tidak perlu menyiapkan dana untuk sewa tempat yang tentu bisa mencapai biaya puluhan juta. Yang kedua, bengkel tak perlu diberi aksesoris seperti billboard, etalase dan display suku cadang.
“Membuka bengkel di rumah modalnya sangat minim,dan nggak repot. Beda jika membuka bengkel umum (konvensional), modalnya bisa untuk keperluan lain seperti memberi tools set dan menggaji teknisi” kiat Bintang.
Selain itu, biaya operasional perbulan bengkel rumahan juga kecil. Bintang mengaku pengeluaran belanja bengkelnya sebulan tak lebih dari Rp 5 juta. Rinciannya Rp 3,5 juta untuk gaji 3 orang karyawan. Listrik Rp 400 ribu. Air PAM Rp 200 ribu. Sisanya untuk membeli kebutuhan tambahan seperti, minyak rem, minyak tanah, gemuk dan lem. keseluruhanya berkisar Rp 200 ribu.
Untuk modal awal yang diperlukannya adalah perkakas standar. Bintang membeli sebuah kompresor seharga Rp 3,5 juta, toolset Dowidat ( Buatan Jerman) Rp 27 juta, 2 buah bor Rp 2 juta, 2 gerinda Rp 1,1 juta. Lainnya bing, dongkrak dan tracker gear box Rp 2,5 juta. “Jadi investasi keseluruhan untuk peralatan nilainya sekitar Rp 48 juta,” terang Bintang.
Namun pengeluaran itu pun sejatinya bisa dikurangi. Kiatnya membeli peralatan yang berasal dari Jepang atau Taiwan. “Harganya bisa separuh di bawah yang buatan Jerman. Namun lebih baik membeli toolset yang baik kualitasnya.sebab secara jangka panjang akan lebih menguntungkan karena lebih awet,” terang pria kelahiran 1956 ini.

Lalu bagaimana dengan strategi usahanya? Meskipun tidak membuka bengkel secara terang-terangan untuk menjaring pelanggan, Bintang hanya mengandalkan relasi dan informasi dari mulut ke mulut. Kebetulan Bintang yang seorang mantan superviser mekanik reli tim Humpus memiliki banyak teman yang mengenal keahliannya dalam memperbaiki kendaraan.
“Bengkel ini sebenarnya usaha yang kebetulan. Saat saya berhenti dari reli tim Humpus, saya ingin istirahat, tapi teman saya nitip mobil ke saya, lama–lama banyak yang ikut nitip, ya akhirnya keterusan sampai sekarang,” tukas Bintang yang juga mantan pereli yang tergabung di Club Speed Driver di dekade 80-an ini.

Salah satu promosi yang dapat menarik pelanggan, yang dilakukan Bintang adalah, memberikan pelayanan yang ekstra kepada para pemilik mobil yang mempercayakan perbaikan di bengkelnya. Menurut Bintang banyak cara yang bisa dilakukan. Seperti memberi informasi yang menyeluruh mengenai kondisi mobil yang sedang diperbaiki.memberikan masukan kepada pemilik mobil mengenai apa saja yang perlu di perbaiki dan berbagai solusinya. Dengan demikian menurut Bintang pelanggan akan merasa puas dan bisa mempertimbangkan sendiri penanganan apa yang ia butuhkan terhadap mobilnya yang tentunya disesuaikan dengan kondisi keuangan pelanggan.

Belasan Juta dari Bengkel tanpa Plang Nama
Hal kedua yang diperhatikan Bintang adalah masalah kebersihan bengkel. Menurutnya selama ini orang salah beranggapan bahwa bengkel yang kotor adalah lumrah. Padahal kualitas pekerjaan perbaikan tidak bisa dipisahkan dari unsur kebersihan tempat kerja dan pekerja bengkelnya itu sendiri. Contoh kecil, di bengkelnya, Bintang ‘mengharamkan’ kepada ketiga karyawannya untuk melangkahi pekerjaannya sebab bisa jadi pasir yang jatuh dari sepatu masuk kedalam mesin dan akan berpengaruh terhadap kerja mesin.
Lainnya, pemilik bengkel harus terbuka dan menjaga kepercayaan pelanggan. Untuk usaha bengkel rumahan, menurutnya, kepercayaan adalah modal penting. Sebab dengan kepercayaan bengkelnya akan semakin dikenal luas.” Jangan memikirkan untuk jangka pendek, kalau pelanggan sudah percaya biar jauh, dia akan tetap mempercayakan mobilnya kepada bengkel kita,” ujar Bintang Namun namanya juga bengkel rumahan tidak setiap mobil yang masuk ke bengkel bisa ditangani, disebabkan lahan parkir yang tidak begitu luas. Di bengkelnya Bintang hanya menampung maksimal 5 unit mobil, 3 di dalam garasinya dan 2 di luar pagar. ” Kalau lebih dari itu kita tidak enak sama tetangga, namanya juga bengkel rumahan,” selorohnya Untuk masalah Biaya perbaikan, Bintang mematok ongkos pengerjaan berdasarkan waktu dan tingkat kesulitan perbaikan.

Tips Membuka Bengkel Rumahan
1. Terbuka dan Jujur terhadap pelanggan mengenai waktu pengerjaan dan biaya
2. Memberikan Informasi yang menyeluruh kepada Pelanggan mengenai kondisi mobil
3. Menjaga Kebersihan tempat kerja dan mobil pelanggan saat bekerja

Analisa Bisnis Bengkel Rumahan
Peralatan
1. Toolsets merek Dowidat Rp. 27.000.000,-
2. Bor duduk + bor tangan Rp. 1.900.000,-
3. Gerinda potong + asah Rp. 1.100.000,-
4. Bing Rp. 450.000,-
5. Dongkrak buaya + hidrolik Rp. 600.000,-
6. Tracker set gear box Rp. 1.500.000,-
Total Rp 32.550.000,-
Opersional bulanan
1. Gaji 3 orang karyawan Rp. 3.000.000,-
2. Listrik Rp. 400.000,-
3. Air Rp. 200.000,-
4. Minyak tanah Rp. 100.000,-
5. 3 kaleng Gemuk Rp. 75.000,-
6. 5 botol minyak rem Rp. 30.000,-
7. Sampo mobil dan kain lap Rp. 50.000,-
Total Rp 3.815.000,-
Pemasukan Rp 15.000.000,-
Laba bersih Rp 15.000.000 – Rp 3.815.000 = Rp 11.185.000




Menanam Waluh, Memanen Emping
Nilai ekonomis suatu makanan bukan terletak pada bahan dasarnya, tetapi terletak pada kreatifitas dalam mengolahnya. C. Titiek Suryati berhasil mengolah waluh menjadi jenang dan emping sehingga bisa mengangkat nilai tambah labu kuning ini. Russanti Lubis

Waluh, begitu orang Jawa menyebut buah yang tergolong sayuran ini. Sebagai sumber pangan, labu, begitu nama lainnya, tidaklah asing bagi masyarakat kita. Kendati pengolahannya masih sebatas itu saja. Padahal, buah dari tanaman merambat ini juga sumber serat kaya manfaat, terutama bagi kesehatan. Jadi, bukan sekadar memberi peragaman menu dapur. Telah banyak bukti diungkap oleh para pakar gizi dan kesehatan tentang manfaat pumpkin, begitu orang bule menyebutnya, bagi kesehatan, seperti mengobati tekanan darah tinggi, arterosklerosis (penyempitan pembuluh darah), jantung koroner, dan diabetes mellitus (kencing manis), menurunkan panas, serta memperlancar pencernaan. Bahkan bisa pula untuk mencegah kanker.

Walau sepintas berasa “dingin”, tapi kandungan gizi buah yang bernama Latin Cucurbita Moschata ini cukup beragam. Dalam setiap 100 gr labu kuning, namanya yang lain lagi, terkandung 34 kalori; 1,1 protein; 0,3 lemak; 0,8 mineral; dan 45 mg kalsium. Di samping juga serat, vitamin C dan vitamin A, serta air. Melihat kandung-an gizinya yang sedemikian rupa, harap maklum bila olahan waluh sa-ngat baik dikonsumsi dari anak-anak hingga orang tua. Apalagi, soal rasa tak perlu diragukan lagi.

Berkaitan dengan itu, sejak 1998, C. Titiek Suryati memproduksi jenang dan emping waluh. Bersama dengan tujuh karyawannya yang dibagi menjadi tenaga masak, pemasaran, dan loper, perempuan yang disapa Titiek ini setiap bulan menghasilkan 300 kg jenang waluh yang dijual dengan harga grosir Rp18 ribu/kg dan harga eceran Rp20 ribu/kg sampai Rp22 ribu/kg.
Sedangkan untuk emping waluh yang berasa bawang, keju, barbeque, balado, dan pizza, setiap bulan ia memproduksi 600 kg, yang ditawarkan dengan harga grosir Rp15 ribu/kg dan harga eceran Rp18 ribu/kg hingga Rp20 ribu/kg. “Saat sedang ramai pembeli, kami mampu memproduksi 500 kg sampai 600 kg jenang waluh/bulan dan 50 kg emping waluh/hari,” katanya. Dengan demikian, dalam sebulan, setidaknya Titiek meraup omset Rp15 juta.

Lantas, apa bedanya jenang dan emping dari waluh ini dengan jenang dari ketan atau gula merah dan em-ping melinjo? “Jenang dan emping waluh kami tidak lengket di gigi ketika disantap dan bergizi. Selain itu, kandungan gula pada waluh, aman bagi penderita diabetes,” jelas Titiek yang melabeli produknya “Serasi”. Namun, untuk menjaga kekentalan jenangnya dan keawetan produknya, dalam pro-ses produksi, ia mencampuri waluh dengan gula pasir kualitas nomor satu, sehingga panganan yang dapat dijumpai di Ungaran dan Semarang ini mampu bertahan empat bulan hingga lima bulan.

“Serasi” yang berada di bawah bendera UD Adhie ini, dibangun dengan modal awal Rp100 ribu yang digunakan untuk membiayai pembelian bahan baku dan bahan tambahan lain. Dengan berjalannya waktu, modal ini membengkak menjadi Rp10 juta dan akhirnya Rp25 juta rupiah. “Soalnya, dulu, harga waluh cuma Rp300,-/kg, sedangkan sekarang sekitar Rp1.000,-/kg. Padahal, kami membutuhkan 10 kg sampai 25 kg setiap kali berproduksi. Untungnya, waluh gampang dijumpai di Semarang,” ujar wanita yang mengaku sering menerima retur dan terpaksa membuang produknya karena terlanjur kadaluarsa.

Pada dasarnya, banyak bahan pangan lokal Indonesia yang mempunyai potensi gizi dan komponen bioaktif yang baik, tapi belum dimanfaatkan dengan optimal. Di duga, salah satu penyebabnya adalah keterbatasan pengetahuan masyarakat akan manfaat komoditas pangan tersebut. Waluh, termasuk komoditas pangan yang pemanfaatannya masih sangat terbatas.



Tepung Beras Alami, untuk yang Sayang Bayi
Berawal dari keluhan ibu-ibu yang repot membuatkan bubur sehat bagi sang buah hati, mengilhami Ika Suryanawati memproduksi tepung beras alami. Pertumbuhan usahanya lamban tapi pasti. Russanti Lubis

Memiliki bayi yang sehat merupakan keinginan setiap ibu. Karena itu, ketika sang buah hati mulai memasuki fase makan, sebagian dari mereka mau berepot-repot membuat makanan sendiri yang dijamin lebih sehat. Untuk membuat makanan bayi yang sehat, tentu membutuhkan bahan makanan yang alami, dalam hal ini beras yang bebas bahan kimia. Kondisi ini menimbulkan kerepotan berganda: repot membuat makanan yang sehat plus repot mencari bahan makanan yang alami.

Kerepotan para ibu rumah tangga tersebut, yang dimuat dalam mailing list (milis) yang diasuh seorang dokter, ditanggapi Ika Suryanawati, member milis tersebut sekaligus sarjana pertanian dari IPB dan pemilik sawah di Desa Gasol, Cianjur, sebagai peluang usaha. Ia menawarkan tepung beras alami yang diolah dari padi-padi yang tumbuh di sawahnya. “Pada Desember 2005, lima member milis tersebut menyambut tawaran saya. Saya buatkan mereka 5 kg tepung beras alami, eh, ternyata bayi-bayi mereka merasa cocok dan menyukainya,” kata Ika yang kini sudah memproduksi tepung beras alami sebanyak 100 kg.

Apa sih tepung beras alami? “Sebenarnya, tepung beras alami sama saja dengan tepung beras biasa. Kami menyebutnya alami sekadar untuk mempertegas bahwa tepung beras kami ini berasal dari beras yang mulai dari ditanam hingga diproses dilakukan secara alami, dalam arti tanpa bahan pengawet, zat, pewarna, zat perasa, dan bahan-bahan kimia lain sehingga rasanya pun seperti beras pada umumnya. Di samping itu, juga tidak ditambahi zat-zat bergizi, seperti DHA, probiotik, dan sebagainya,” jelasnya.
Selain itu, tepung beras yang masa pakainya bisa mencapai dua tahun (tapi sebaiknya digunakan kurang dari setahun, red.) ini, terbuat dari beras pecah kulit atau beras yang masih mengandung bekatul. Karena, berdasarkan penelitian, bekatul banyak mengandung gizi. “Jika selama ini hanya dijadikan limbah, sangat disayangkan, sebab justru disitulah gizi tinggi itu berada. Dan, mengetahui kehebatan bekatul itulah, maka kami tidak membuangnya tetapi justru menggilingnya sekalian dengan berasnya,” ucapnya.

Dikemas dengan berat 250 gr dan harga Rp10 ribu/kemasan, tepung beras alami ini terbagi menjadi dua warna yaitu pertama, berwarna putih kecokelatan yang dibuat dari gabungan beras Ciherang dengan beras Pandan Wangi. Kedua, berwarna kemerahan yang dibuat dari campuran beras merah dengan beras Beureum Seungit. “Kami menggunakan Ciherang dan beras merah sebab merupakan varietas padi yang enak rasanya, sedangkan Pandan Wangi dan Beureum Seungit itu beras yang pulen dan wangi. Dengan demikian, di sini kami mempadupadankan aroma dengan rasa,” imbuhnya. Sekadar informasi, tepung beras alami juga dapat dibuat dari campuran beras jenis lain.
Tepung beras alami yang diperuntukkan bayi-bayi berumur empat bulan ke atas ini, biasanya dibuat bubur. “Untuk membuatnya enak dimakan, semuanya diserahkan kepada keterampilan para ibu dalam mengolahnya,” ujarnya. Selain itu, juga dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kue sederhana, dicampurkan dengan minuman kopi (coffee mix, red.), atau dimasak secara terpisah seperti oatmeal.

Bisnis pembuatan tepung beras alami yang dibangun dengan modal Rp20 juta ini, Ika melanjutkan, baru saja dimulai dan dijalankan tergantung dari permintaan konsumen. “Jadi, kami belum berhitung berapa banyak kami berproduksi setiap bulannya. Semuanya masih tergantung selera pasar,” katanya. Selain itu, produk yang belum bermerek ini juga tidak di display di berbagai pusat perbelanjaan. Untuk membelinya, konsumen dapat datang langsung ke agennya atau memesan minimal lima boks melalui website mereka, untuk nantinya diantar ke alamat yang dituju dalam wilayah Jabodetabek.
“Pertama, para pesaing kami adalah pabrik-pabrik besar. Bukan takut bersaing dengan mereka, melainkan sebagai produk baru sekaligus non instan, kami ingin mengajarkan terlebih dahulu ke konsumen tentang produk ini yang menyangkut keunggulan produk non instan, berasal dari beras bebas bahan kimia, bagaimana cara menyajikannya, dan sebagainya. Kedua, kecenderungan konsumen untuk mencari produk-produk instan, meski antara produk instan dan non instan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, dapat membuat produk kami ‘tergusur’. Ketiga, kami belum ingin terburu-buru. Kami lebih ingin menguatkan akar bisnis kami terlebih dulu,” kilah Jonathan Fleming, selaku bagian pemasaran tepung beras alami ini, tentang alasan tidak men-display produknya.

Berkaitan dengan itu, produk ini hanya ditawarkan melalui milis dan ternyata sambutannya memang bagus. “Kami seperti diyakinkan bahwa masih ada sekelompok anggota masyarakat yang tertarik dengan produk non instan,” lanjutnya. Di samping itu, produk yang Desember lalu mempersembahkan omset sebesar Rp1.500.000,- juga ditawarkan melalui pameran dan selebaran. Hidup sehat adalah sebuah pilihan, sama halnya dengan kemudahan hidup, bukan begitu?





Kerajinan Kain Perca, Para Ekspatriat pun SukaMelalui teknik pengerjaan dan ukuran yang berbeda dengan kerajinan perca pada umumnya, Tarti Ariyasa berhasil merangkul pelanggan lokal dan mancanegara. Russanti Lubis

Apa yang dilakukan para ibu rumah tangga ketika tetek bengek urusan rumah tangga kelar dikerjakan, suami sudah berangkat ke kantor, dan anak-anak sedang menimba ilmu di sekolah? Kumpul-kumpul, itulah jawabannya. Tapi, kegiatan khas nyonya rumah yang selalu dikonotasikan negatif ini, ternyata tidak selalu berarti demikian. Sebab, kadangkala dari ngerumpi itu muncul ide-ide kreatif yang pada akhirnya mampu menambah pundi-pundi rumah tangga.
Hal itu pulalah yang dilakukan oleh Tarti Ariyasa, pengrajin quilting dari Duri, Riau. Untuk mengisi kejenuhan setelah segala urusan rumah tangga selesai, perempuan yang terpaksa berhenti kerja karena mengikuti tugas suami ini, mengikuti kegiatan yang banyak diminati para ibu rumah tangga di kompleks kediamananya yaitu kerajinan tangan patchwork & quilting. Keterampilan ini menggunakan kain sebagai media kreasinya.
Caranya yaitu dengan menggunakan teknik potong, bentuk pola, padu padan warna warni kain, dan selanjutnya menyatukannya dengan dijahit tangan atau menggunakan mesin. Di Indonesia, keterampilan ini diartikan sebagai kemampuan menyatupadukan kain perca.

Saat Tarti menularkan keterampilan ini ke sekumpulan ibu rumah tangga, ia bertemu dengan Nita Andri dan Anda J. Gunawan yang memiliki ketertarikan yang sama terhadap kerajinan tangan tersebut.. Seminggu sekali, mereka berkumpul membuat project challenge atau membuat quilt dengan pendekatan yang berbeda baik warna, teknik pengerjaan, maupun ukuran, sehingga dihasilkan quilt yang jauh berbeda daripada standar baku.
“Dari kumpul-kumpul inilah tercetus niat untuk membuka usaha penjualan kain quilt. Karena, kain quilt sangat sulit didapat di kota terdekat. Kalau pun ada, harganya sangat mahal mengingat ini kain impor. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kain tersebut adalah dengan berbelanja langsung ke Jakarta, Bandung, atau Bali. Sebab, bila titip ke teman atau saudara, seringkali kain yang mereka belikan tidak sesuai dengan harapan.
Berlatar belakang itu, kami menjalin kerja sama dengan pemilik toko kain di tiga daerah tersebut sehingga kami bisa memasok bahan-bahan yang dibutuhkan para penggemar keterampilan ini. Selain itu, kami juga mulai mencoba menjual hasil-hasil project challenge,” katanya.

Niat awal mereka hanya ingin memperkenalkan bentuk quilt yang berbeda atau tidak standar, lebih kreatif, dan tidak mengikuti pakem-pakem yang sudah ada atau quilt ala Amerika, Australia, Jepang, atau Eropa. “Kami mencoba memberi sentuhan Indonesia dengan menggunakan warna warni tropis, batik Jawa, batik Bali, dan sebagainya. Mula-mula juga cuma seukuran selimut bayi, sarung bantal, dan lain-lain. Para pembelinya pun masih sebatas teman-teman dekat. Tapi, lumayan, karena ternyata ada yang senang dengan quilt kami,” ujarnya.
Untuk membangun usaha penjualan kain quilt yang kemudian diberi “merek” Kain (sekadar agar gampang diingat, red.), tiga serangkai ini mengeluarkan modal Rp4,5 juta. Keuntungan dari bisnis ini mereka gunakan untuk membuat kartu nama, panel display, dan label yang dipasang di produk mereka.
Sedangkan modal untuk membuat quilt, mengingat peralatannya masih impor, mereka harus mengumpulkannya sedikit demi sedikit dari sisa uang belanja. “Bahkan, untuk menyatukan kain-kain quilt, pada mulanya saya menggunakan mesin jahit pemberian orang tua. Segala sesuatunya mulai dari mendesain sampai menjahit dilakukan sendiri. Untuk hasil akhirnya, kami dibantu seorang quilter atau seseorang yang bertugas menyatukan tiga lapis bahan dengan cara dijahit tangan,” jelasnya.

Dalam perkembangannya, bisnis quilt yang dibangun pada 2004 ini menghasilkan hiasan dinding, bed cover, selimut sofa, selimut bayi dan anak-anak, serta sajadah dengan aneka bentuk, ukuran, dan desain. Di samping itu, juga penambahan dua karyawan dan 10 quilter, sehingga setiap bulan Tarti mampu menghasilkan empat bed cover dan tiga hiasan dinding aplikasi.
Produk yang ditawarkan dengan harga Rp350 ribu hingga Rp4 juta (tergantung pada motif, penggunaan kain, dan teknik pengerjaan, red.) ini, pada 2005 diikutkan dalam berbagai pameran di Jakarta untuk memperkenalkan diri, memberi alternatif bentuk quilt yang berbeda, sekaligus menjaring pembeli.
Selain itu, produk yang telah tersebar ke seluruh Indonesia dan (melalui buyer) ke mancanegara ini, juga dipasarkan dengan sistem dari mulut ke mulut. “Maklum, kami belum mempunyai outlet. Jadi, kami hanya menggunakan sebagian teras rumah kami sebagai tempat untuk menjual produk kami, sekaligus tempat untuk mengajar dan bertemu dengan pembeli,” kata wanita yang berangan-angan memiliki studio kerja dan tempat kursus quilt merangkap toko ini.

Omsetnya? “Tergantung dari banyak sedikitnya pemesanan atau pembelian dan pameran yang diikuti. Biasanya setelah pameran, banyak permintaan yang datang. Apalagi pesanan dari kalangan ekspatriat yang biasanya datang pada Bulan Juni atau Desember.
Saya memiliki 15 pembeli dan sekitar tiga pemesan yang rutin membeli atau memesan produk saya. Setiap orang minimal memesan lima produk. Jadi, setiap bulan rata-rata omset yang saya raup baru mencapai tujuh dijit, maklum di Indonesia produk semacam ini termasuk barang baru dan untuk penggunaan jangka panjang,” kilah Tarti yang sekarang single fighter menjalankan bisnis ini, karena kedua koleganya mengikuti suami mereka yang ditugaskan ke luar negeri.
“Tapi, mereka tetap membantu saya dengan memasok peralatan seperti benang, jarum, dan lain-lain yang memang masih harus diimpor,” imbuhnya. Ibarat pepatah, sehari selembar benang, lama-lama menjadi kain, demikian pula dengan usaha quilting yang ditekuni Tarti. Bukankah sesuatu yang besar atau banyak selalu berasal dari yang kecil atau sedikit?

Sulap Batu Kali Menjadi Karya Seni Untuk saat ini, pemanfaatan tertinggi batu kali hanya sebagai fondasi bangunan. Namun Dino bisa mengangkat nilai ekonomis batu kali dengan mengubahnya menjadi benda seni. Wiyono

Sebutir kerikil bagi orang lain mungkin tidak berarti banyak. Tidak demikian bagi Syarifuddin Anwar atau kerap di sapa Dino. Berbekal peralatan sederhana seperti pisau cutter, obeng kaca mata, peniti, ditambah imaginasi, batu koral seukuran genggaman tangan itu kemudian dapat disulap menjadi benda kerajinan yang unik dan bernilai seni.
Bentuknya dapat bermacam-macam sesuai kehendak atau pun menurut pesanan. Di rumahnya, kawasan Cilandak Barat-Jakarta Selatan, yang sekaligus merangkap sebagai workshop dan galeri dipajang berbagai model hasil ketrampilan tangan bapak dua orang putri ini, di antaranya berbagai bentuk bandul kalung, patung wajah, miniatur sepeda motor besar, ular naga, dan sebagainya. Usahanya yang dinamakan Sanggar Batu Kerik itu telah dirintis sejak tahun 1995 dan menghasilkan produk hingga ratusan item. “Dinamakan Batu Kerik karena proses pembuatannya dengan cara dikerik (dikikis-red),” jelasnya.

Diakui, ide kreatif tersebut sebenarnya bukan murni diciptakan oleh Dino sendiri. Pada awalnya penggemar olah raga berpetualang itu mempelajari keahlian itu dari seorang temannya. “Kebetulan ia sering berada di alam bebas dan tangannya kreatif, jadi iseng-iseng membuat benda seni. Ketrampilan itu kemudian tertular kepada teman-teman lainnya termasuk saya,” tuturnya.
Bahan utama berupa batu kali biasa, namun Dino mengaku hingga saat ini ia masih mendatangkan batuan dari Brebes. Hal ini tidak lepas dari kisah awal saat ia hendak merintis usaha. Fotografer profesional ini kebetulan memperoleh tender proyek foto udara di wilayah Brebes dan menjumpai jenis batu kali di tempat itu sifatnya lebih empuk sehingga lebih mudah dibentuk.
Tetapi menurut Dino, perajin tidak bisa sembarangan memilih jenis bahan baku. Sebab apabila memakai batu yang terlalu lunak, akibatnya hasil barang setelah jadi juga akan lebih rapuh. Maka sebelum dibuat menjadi barang kerajinan, batu kali perlu diseleksi terlebih dahulu. Bahan baku yang yang bagus yaitu batu dengan tingkat kekerasan sedang hingga yang paling keras. “Dari empat kelas, kita pakai bahan tingkat ke-1 atau ke-2, kualitas ke-3 dan ke-4 jarang, paling untuk membuat bentuk-bentuk kerajinan kecil semisal bandul atau gantungan kunci,” ia sedikit membuka rahasia.

Dijelaskan, apabila bahan yang diperlukan sudah diperoleh, proses selanjutnya membuat sket dasar dengan menggoreskan mata pisau untuk membuat bentuk kasar. Lalu untuk detilnya yang yang dikerjakan adalah bagian yang paling sulit dahulu dengan cara dikerik semakin dalam hingga jadi. Proses finishing cukup dengan cara digosok dan dibersihkan debu-debunnya, dan kalau diperlukan juga sekalian dibuatkan dudukannya yang berfungsi sebagai pemberat bagi patung tersebut.

Untuk mengerjakan setiap pesanan waktu yang dibutuhkan amat bervariasi tergantung pada kerumitan desain atau detilnya. Sebagai contoh, sebuah miniatur motor kecil yang sangat detil sampai pada wujud mesin dan sebagainya Dino membutuhkan tempo 1-2 bulan. Tetapi untuk patung-patung yang lebih sederhana cukup memerlukan waktu 1-2 minggu selesai. Sedangkan bandul kalung, pin atau logo-logo perusahaan, serta bentuk bentuk kecil yang standar lainnya tidak sampai memakan waktu lama. Dalam sehari ia dapat menyelesaikan sampai 10 buah. Sehingga harga barangnya pun sangat relatif, dipengaruhi oleh tingkat kesulitan detil serta kualitas bahannya. Sedangkan besar-kecilnya justru kurang berpengaruh. Harga sebuah bandul berkisar Rp 20 ribu-Rp 80 ribu, sementara patung bisa mencapai Rp 100 ribu-Rp 3 juta. Kecuali bagi pemesanan dalam jumlah besar maka Dino dapat memberikan harga di bawah Rp 20 ribu.

Saat ini pria berpendidikan komputer dan ekonomi ini dibantu 6 orang teman yang bergabung di sanggarnya. Total biaya investasi yang dikeluarkan terhitung kecil, di bawah Rp 5 juta. Dalam sebulan mereka dapat menyelesaikan sekitar 180 buah bandul dan kurang lebih 18 buah patung. Namun Dino mengakui, pemasaran batu kerik masih terbatas. Konsumen kebanyakan pembeli lokal, biasanya untuk dijadikan souvenir atau dijual. Salah satu konsumen kerajinan ini adalah kalangan penggemar motor besar yang mengoleksi batu kerik berbentuk miniatur motor. Namun tidak tertutup kemungkinan dipasarkan ke berbagai perusahaan dalam bentuk logo atau sebagai cenderamata.

“Untuk sementara pembeli baru kenal lewat mulut ke mulut, namun ada juga beberapa item barang yang dititipkan di pusat kerajinan di pusat-pusat perbelanjaan,” ujar Dino yang mengaku masih mengalami kendala utama segi permodalan. Cara lainnya ditempuh melalui bantuan tenaga pemasaran secara freelance, biasanya dengan sistem bagi hasil, 5%-10% dari nilai nominal untuk penjual. Meskipun kurang dikenalnya kerajinan batu kerik terbentur minimnya promosi tetapi Dino tetap optimistis prospek usaha yang dirintisnya ini ke depan akan berjalan bagus. Sebab selain harganya terjangkau, ia memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Tertarik? Silahkan mencoba!

Analisa Usaha Kerajinan Batu Kali:
Perkiraan biaya bahan dan peralatan Rp. 100.000,-
Perkiraan biaya operasional dan tenaga kerja Rp. 700.000,- +
Total modal usaha Rp 800.000,-

Dalam sebulan dapat menghasilkan 300 buah bandul @ Rp 20 ribu-Rp 80 ribu.
Penghasilan mencapai Rp 6.000.000,- sampai Rp 24.000.000,-

Mengangkat Derajat Limbah Ulat
Jangan buang kokon jelek dari ulat sutera. Kumpulkan, bersihkan dan kreasikan menjadi karya seni seperti yang dilakukan Pipit dan Siti . Fisamawati
Industri persutraan merupakan salah satu subsektor agroindustri yang sangat potensial untuk dikembangkan karena memiliki berbagai keunggulan. Banyak negara penghasil sutera terbesar seperti Cina dan India mampu menguasai pasar sutera di dunia karena melakukan pengembangan dan penelitian dengan melibatkan pihak akademis untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal. Bahkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan Australia melakukan penelitian dan pengembangan juga.
Di Indonesia sendiri, pengembangan budidaya ulat sutera ternyata belum dilirik oleh banyak pihak. Terbukti petani kepompong ulat sutera sampai saat ini masih kesulitan dalam pengembangannya. Padahal produk kokon lokal mampu memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri. Selain menjadi benang, kokon dapat juga dijadikan kerajinan tangan seperti bunga, pigura, boneka kecil, dan gantungan kunci. Bahkan beberapa negara seperti Jepang dan Thailand telah mengenal kerajinan ini beberapa tahun yang silam, yang harga jualnya sangat tinggi dan pasar yang cukup bagus.
Kokon atau kepompong adalah hasil anyaman benang yang dieksresi larva kupu-kupu. Selama ini, para pengusaha benang sutera hanya menerima kokon dari ulat sutera yang diberi pakan daun murbai, itu pun terbatas hanya pada kokon berkualitas baik. Biasanya kokon berkualitas jelek itu dibakar karena dianggap sampah dan tidak laku dijual.

Pipit dan Siti melihat peluang untuk memanfaatkan kokon yang dikategorikan limbah dan tidak dapat dipintal ini. Mereka membuat aneka kreasi nan mungil. “Kokon tersebut biasanya berwarna hitam akibat ulat sudah mati dan berjamur. Untuk mengolahnya menjadi kerajinan mungil, bahan kokon tersebut dibersihkan. Sedangkan, untuk menambah kreasi warna ditambahkan pewarna tekstil,” ungkap Pipit.
Pemilik nama lengkap Pipit Robi’atul ‘Adawiyah menceritakan ketertarikannya untuk membuat kerajinan berbahan kokon. Usaha tersebut bermula tahun 2006 lalu dari kegiatan pelatihan wiraswasta di Institut Pertanian Bogor (IPB). “Pelatihan selama tiga bulan tersebut, awalnya memang diajarkan mengenai pembudidayaan ulat sutera. Bahkan, tidak diajarkan usaha mengelola limbah kokon. Tapi, saya melihat limbah kokon bisa difungsikan dan memiliki nilai tambah,” terangnya.
Keinginan menjadikan kokon yang semula tidak bernilai menjadi bernilai bahkan berkarya seni tinggi ini melibatkan kakak ketiganya- Siti Suroyah. Keduanya mampu memproduksi sebanyak 10 jenis kreasi selama dua jam pengerjaannya. Meski dilakukan di tengah-tengah kesibukannya sebagai pengajar TK di Depok, Pipit optimis usaha yang ditekuninya mampu merambah pasar sejenis. “Kelebihannya adalah keunikan bahan dasar kepompong ulat sutra tersebut,” aku perempuan kelahiran 9 September 1980.
Siti pun menambahkan, umumnya orang-orang belum mengetahui bentuk kepompong ulat sutera yang aslinya. Bahkan ada yang bertanya dengan heran, apakah limbah kepompong bisa dijadikan sebuah kerajinan tangan. Namun, dengan keuletan duet kakak beradik ini, kerajianan mungil tersebut dapat diperoleh di beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta dan beberapa toko kerajinan.
“Tetapi kami juga menjual di beberapa sekolah, dengan menjual kreasi tersebut ke anak-anak mampu menaikkan jumlah barang yang dijual. Biasanya anak kecil lebih tertarik dengan bentuknya. Umumnya, jenis item yang laku di sekolah adalah pensil dan gantungan kunci,” cerita Siti.
Untuk saat ini, produk kreasi mereka pun dapat dipesan untuk beberapa keperluan. Ini untuk memasarkan dan mengembangkan kreasi sehingga tak hanya terjual dalam bentuk satuan. “Sekarang ada yang pesan untuk souvenir-souvenir perayaan ulang tahun anak-anak. Bahkan, bisa juga untuk souvenir pernikahan seperti bross atau gantungan kunci. Terkadang kami juga kewalahan jika ada pesanan dalam jumlah banyak,” promosi Pipit.

Harga yang dibandrol mereka pun cukup terjangkau, untuk pensil dipasang harga Rp 3000 sampai Rp 5000, bross seharga Rp 5000 sampai Rp 10.000, dan untuk bunga seharga Rp 15.000 per tangkainya. Mereka pun menambah kreasinya dengan membuat kotak serba guna, pembatas buku, serta bingkai foto.
“Ide bentuk dan warna merupakan perpaduan dari keinginan sendiri ditambah referensi dari beberapa item yang ada. Kami sering jalan-jalan ke pusat kerajinan dan mal untuk menambah kualitas agar tidak monoton. Kemudian, kami lihat bentuk seperti apa yang sedang laku di pasaran. Ini dilakukan untuk mengikuti perkembangan produk yang sedang booming di masyarakat,” terang Siti.
Usaha yang terletak di Jalan Rasamala VII Menteng Dalam, Tebet ini awalnya mengeluarkan modal sekitar Rp 300.000. Pipit pun berencana untuk memasarkan kreasinya hingga pelosok kota. Pameran-pameran kerajinan pun sering diikutinya. “Memang kami masih terkendala dengan pemasaran yang dilakukan. Ditambah dengan sedikitnya waktu yang tersedia dengan padatnya aktifitas sehari-hari,” aku Siti yang berstatus sebagai ibu rumah tangga ini.
Pipit pun melanjutkan, faktor kendala yang sering dihadapi adalah permodalan. Karena, dengan sifat usaha yang baru berjalan kurang lebih 3 bulan ini, menggunakan cara perputaran uang yang dihasilkan untuk membeli bahan baku kembali. “Yang penting balik modal dulu untuk kelancaran usaha,” ujar Pipit.
Lalu bagaimana dengan bahan baku kokonnya? “Selama ini kami tidak kesulitan untuk mendapatkan kokon. Bahan baku ini didapat langsung dari IPB dengan harga yang relatif terjangkau. Kokon sendiri, panen setiap tanggal 18 per bulannya. Jadi, kami tidak takut kokon akan habis,” lanjut Pipit lulusan Universitas Padjajaran Bandung Jurusan Biologi ini.
Ia pun mengatakan, untuk harga kokon basah cukup dengan mengeluarkan uang sebesar Rp 50.000hingga Rp. 75.000. Kemudian dari kokon basah tersebut digunting dan dibersihkan untuk mengeluarkan pupa ulat sutera di dalamnya. Setelah itu, kokon dikeringkan dengan cara dimasukkan ke oven khusus atau dijemur di terik matahari selama 3 hari. Berminat?


Bahan Baku Gratis, Tapi Bernilai Eksotis
Daun yang berserakan di jalan mengilhami Nurus untuk memanfaatkannya menjadi bahan baku suvenir yang bernilai jual tinggi. Russanti Lubis
Daun-daun yang berguguran, bagi sebagian orang, cuma merusak pemandangan. Karena, ia membuat jalanan kotor. Tapi, bagi sebagian orang yang lain, seperti Erwan dan Nurus, dedaunan yang sudah berakhir masa hidupnya ini, dapat diubah menjadi “bisnis” yang mendatangkan pemasukan lumayan menggiurkan, dengan mengubahnya menjadi aneka suvenir.
Pada dasarnya, dua bersaudara ini bukanlah yang pertama kali membuat cindera mata berbahan dasar dedaunan kering. Seorang pengrajin di Bali, mengubah daun-daun kering ini menjadi kipas. “Tapi, suvenir yang kami buat memang berbeda, unik. Sebab, sebenarnya kami membuat aneka suvenir dari kayu yang ditempeli limbah organik, seperti daun-daun kering, biji-bijian, logam, dan kuningan. Dengan demikian, fungsi dari daun-daun kering ini hanya sebagai hiasan yang membalut medianya yaitu kayu,” jelas Nurus.
Keunikan itu bukan cuma tampak dari suvenir yang mereka buat, seperti cepu untuk tempat tusuk gigi, bingkai foto berukuran 14 R, tempat pena, kotak nama, serta miniatur becak dan Monumen Nasional, melainkan juga dari daun-daun kering yang mereka gunakan. “Benda ini mempunyai tulang. Apalagi, sebagian dari daun yang kami gunakan tetap menggunakan warna aslinya, sehingga menimbulkan kesan antik atau etnik. Sedangkan sebagian yang lain sudah kami glass, sehingga tulang daunnya terlihat jelas,” katanya. Karena itu, ia menggunakan daun lontar, daun ketapang, daun mangga, daun rambutan, dan sebagainya. “Semua daun dapat digunakan asal tulang daunnya jelas. Sebab, tulang-tulang daun itulah yang ingin kami tonjolkan. Selain itu, daunnya harus elastis, tidak sobek, tidak dimakan ulat, dan tidak ada benalunya, serta permukaannya rata,” imbuhnya.
Daun-daun tersebut mereka peroleh dari lingkungan di sekitar rumah, hunting ke berbagai tempat, hingga sengaja mencarinya ke Kebun Raya Bogor. “Pokoknya setiap daun berserakan yang menarik perhatian, kami ambil. Dedaunan kering itu, selanjutnya kami olah (dibersihkan sehingga bebas dari hama dan bakteri, red.) tanpa meninggalkan warna aslinya. Tapi, nantinya kami juga akan menggunakan pewarna daun. Lebih dari itu semua, daun-daun itu kami peroleh secara gratis. Sekadar informasi, semua bahan baku suvenir buatan kami diperoleh tanpa mengeluarkan uang sesen pun, termasuk kayu yang menjadi media suvenir ini,” ujarnya. Hal ini, sesuai dengan prinsip awal membangun “bisnis” ini yaitu menggunakan bahan baku gratis dan unik, tapi bernilai jual tinggi.
Usaha yang dinamai EN Craft ini dibangun pada 2005 dengan modal awal Rp5 juta hingga Rp10 juta, yang digunakan untuk membeli mesin pemotong kayu. Kini, produk mereka yang dijual dengan harga Rp5 ribu sampai lebih dari Rp100 ribu itu, telah merambah Batam, Jambi, dan Lombok, di samping Jakarta dan sekitarnya. “Dibantu lima karyawan tetap dan 10 karyawan borongan, setiap bulan kami mampu membuat 100 hingga 150 pieces, baik yang dibuat secara manual maupun dengan bantuan mesin. Dari penjualan rata-rata 150 pieces/bulan, kami meraup omset sekitar Rp6 juta hingga Rp8 juta per bulan,” ucap perempuan yang berencana mengekspor produknya ke Dubai, karena prospek penjualannya dinilai bagus.
Untuk meningkatkan omset, selain menerima pesanan 50 hingga 1.000 pieces (untuk pesanan di atas 50 pieces harus dengan uang muka maksimal 50%, red.), Nurus juga menitipjualkan produknya ke Pusat Kerajinan Tangan di Casablanca dan Dewan Kerajinan Nasional DKI di Kebon Sirih. “Akhir Agusutus ini, kami akan membuka gerai di Margo City, Depok, sehingga pemasarannya lebih mudah. Sebab, selama ini kami hanya mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut dan melalui internet,” ujarnya. Sekadar informasi, suvenir dari daun kering ini mampu bertahan selama setahun asalkan dirawat dengan benar. Kalau muncul kerusakan, konsumen dipersilahkan untuk mengembalikan ke EN Craft yang berlokasi di Limo, Depok, guna diperbaiki tanpa charge apa pun.
Analisa Bisnis Suvenir Daun Kering (per bulan)
Investasi
- Pembelian mesin Rp 10.000.000,-
Biaya Bahan Baku
- Daun-daun kering gratis Rp -
Biaya Produksi
- 5 karyawan @ Rp500.000,- Rp 2.500.000,-
__________________ +
Total Rp 2.500.000,-
Hasil Penjualan
- 150 suvenir @ Rp50.000,- Rp 7.500.000,-
___________________ -
Laba kotor Rp 5.000.000,-
Catatan: Laba kotor ini hanya didapat dari penjualan, tidak termasuk pemesanan produk. Harga per suvenir diambil dari harga di tengah-tengah antara Rp5 ribu dengan lebih dari Rp100 ribu.

Untung Besar, Bisnis Gitar
Hampir bisa dipastikan tak satu pun orang yang tak mengenal gitar. Dari kelas murah sampai yang mahal pun ada konsumennya. Tri Vivi Suryani
“Kemarau panjang kapankah akan kudengar lagi. Nyanyian angin dan denting gitarmu.” …
Sepenggar syair Ebiet G. Ade yang begitu puitis, seolah bermaksud mengingatkan betapa akrab hubungan manusia dengan gitar. Peluang ini membuat Sardiyono tanpa ragu menjadikan profesi pembuat gitar sebagai pilihan hidupnya. Hasilnya, …. lariiiiissss!!
Ketika menginjak bangku SMP, Sardiyono diajari bermain gitar oleh guru sekolahnya. Pengalaman itu terus membekas dalam benak pria asal Wonogiri tersebut, sampai akhirnya ia terobsesi untuk mendalami kemampuan bermain gitar. Pada tahun 1997, ia memutuskan ikut kursus membuat gitar di Solo selama 2 tahun.
Selepas kursus, mantaplah langkah Sardiyono untuk menjadi pembuat gitar. Bermodalkan uang Rp 15 juta untuk membeli alat-alat, Sardi merekrut 3 orang karyawan untuk membantunya memproduksi gitar akustik dan elektrik, yang diberi merek Irvita.
“Masing-masing karyawan mempunyai tugas sendiri-sendiri. Misalnya, ada yang bagian membuat bodi atau mengecat gitar. Memang sengaja dibuat begitu agar tiap karyawan punya keahlian tersendiri,” ungkap pria yang biasa dipanggil Sardi ini ramah.
Langkah untuk membuat gitar akustik dan elektrik, lanjut Sardi, tidak sama. Jika membuat gitar akustik, pertama, bahan gitar dicetak agar terbentuk bodi yang lebih umum disebut gembungan. Setelah gembungan jadi, baru dibuat setang gitar dan bagian penunjang yang lain. Pada gitar mahal, pinggirnya akan dibentuk siluet, sementara jika gitarnya dijual dengan harga standar, maka langsung dicat.
Sedang untuk membuat gitar elektrik, tidak melalui pencetakan, melainkan dengan dibuatkan mal, seperti proses laiknya membuat baju, yang diteruskan memotong bahan sesuai bentuk mal itu.
“Tidak ada perbedaan mendasar sih antara membuat gitar akustik dan elektrik, cuma tidak sama saat mengawali saja. Setelah itu prosesnya sama hingga finishing,” jelas Sardi.
Sardi membuat berbagai jenis gitar akustik, mulai yang berharga Rp 135 ribu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Gitar yang paling murah biasanya dicari anak-anak SMP untuk belajar di sekolahnya atau dipilih anak-anak muda untuk mengamen dan nongkrong di pinggir jalan. Kadang-kadang ada juga yang memesan gitar jumbo seharga Rp 450 ribu. Sardi memberi garansi, gitar yang harganya di atas Rp 200 ribu akan mempunyai ketahanan di atas 3 tahun karena dibuat dari bahan-bahan pilihan. Sedang untuk gitar elektrik, Sardi mematok harga berdasarkan kualitas. Harga Rp 300 ribu untuk kualitas 3, kualitas 2 diberi bandrol Rp 1,2 juta dan Rp 1,7 juta untuk kualitas 1.
“Baru-baru ini, saya mendapat pesanan dari seorang guru musik di Bali untuk gitar elektrik kualitas satu. Guru musik itu sekaligus merupakan eksportir, sehingga rencananya gitar bikinan saya dipasarkan keluar negeri,” cetusnya bangga.
Bahan-bahan untuk membuat gitar, diperoleh Sardi dengan mudah di sekitar Wonogiri. Bahan utama berupa triplek dan kayu. Jenis kayu yang dipakai antara lain sonokeling, mahoni, sengon laut dan jati. Namun penggunaan kayu jati hanya untuk pembuatan gitar akustik kelas 1 saja.
Dengan dibantu 3 karyawan, Sardi mampu memproduksi gitar 10 lusin per bulan. Jika pesanan sedang membludak, Sardi biasanya menghubungi mitra kerjanya sehingga pesanan bisa selesai tepat waktu.
“Penggajian yang saya terapkan, karyawan menerima uang rata-rata Rp 20 ribu per hari. Jadi sebulan akan menerima Rp 600 ribu,” urai Sardi yang membuka workshop di Desa Sumberejo RT. 01, RW. 04, Kel. Karanglor, Manyaran, Wonogiri.
Menyinggung soal promosi, Sardi mengaku selama ini mengandalkan kerja sama dengan sekolah-sekolah. Beberapa sekolah yang ditawari bekerja sama, ternyata menyambut baik. Tak pelak pesanan gitar mengalir lancar kepada Sardi.
Selain penawaran ke sekolah, sejak dua tahun silam Sardi juga aktif mengikuti Pesta Kesenian Bali. Tak dinyana, dalam setiap pameran, gitar buatannya selalu ludes terjual. Sampai Sardi harus mengambil stok lagi dari Wonogiri agar stand tidak kosong. “Pokoknya, saya optimis gitar buatan saya siap bersaing karena kualitasnya memang bagus. Harapan saya sih, semoga pasar gitar saya secepatnya mampu menembus luar negeri,” harapnya dengan mata berbinar.

Antony Jajal Pasar Paper Model Selain indah, seni tekuk dan lipat kertas bisa menumbuhkan kreatifitas di kalangan anak-anak. Inilah bisnis yang digeluti Antony Putra Wijaya. Wiyono
Dunia anak dunia bermain. Sudah menjadi sifat setiap anak menyukai aneka alat permainan, apa pun bentuknya. Seakan teringat kembali pada masa kecilnya di kota Tarakan, Kalimantan Timur, Antony Putra Wijaya kini mulai menekuni pembuatan paper model. Pria ini berterus-terang, pada masa kecilnya ia pernah menginginkan mainan model impor. Keinginan tersebut sulit terwujud oleh karena harganya yang mahal. Justru karena tidak kesampaian hal itu memacu kreativitasnya untuk membuat model sendiri walau sekadar berbahan kertas yang mudah diperoleh. Secara terus-menerus ia mengasah ketrampilan dan dengan kesabaran sehingga bisa membuat desain model apa saja.
Sebelum memulai bisnis dengan label Antony Production House, pria kelahiran 1980 bernama asli Uy Chi Chian tersebut sempat menjadi penulis buku edutivity di Gramedia Pustaka Utama (2005-2006). Total terdapat 20 seri dalam 3 kategori buku seni lipat kertas ia karang, 4 seri tentang Aerogami pesawat, 8 seri mengenai Potong Lipat Tempel (PLT)-RumahAdat, dan 8 buah PLT-Dinosaurus.
Pada waktu sekolah dasar, seperti diceritakan, ia sudah mulai membuat miniatur dari kertas. Model yang paling digemari dan sering dibuat, waktu itu pesawat dan kapal. “Di sana tidak ada mainan model pesawat, akhirnya saya buat sendiri aja dari kertas. Ya, yang penting mirip dengan pesawat yang saya lihat di bandara,” ujarnya.
Lalu tepatnya 1997, Antony masuk sebagai finalis lomba Origami Angkasa dan keluar sebagai pemenang IV kategori pelajar. Itulah awalnya timbul minat mengembangkan hobi ini menjadi bisnis. Semula semua proses pembuatannya masih manual, mulai dari desain sampai dengan finishing (pengecatan).
Pada pertengahan 2006 bersama beberapa rekannya, sarjana Ekonomi Marketing Universitas Surabaya tersebut mulai mendirikan jasa image editing, video editing, 3D modeling & visual illustration, dan fotografi bernama Antony Production House. “Selanjutnya karena dorongan hobi ini, awal 2007 saya putuskan mulai memproduksi miniatur sesuai standar saya,” kisahnya.

Karena merasa masih baru, Antony melakukan produksi per proyek. Tahap awal penjajakan dibuat sebanyak 3000 pcs sambil mempelajari pasar, target yang tepat dan komposisi produknya. Dengan harga per set Rp12.500,00 produksinya dibatasi 1000 pcs per model dan selanjutnya akan dibuatkan model-model lainnya.
Meski sebenarnya ia lebih menyukai model pesawat, tetapi diakui, memang untuk sementara ia baru menyediakan model miniatur mobil. Sebab menurutnya tingkat kesulitan saat perakitan lebih mudah dan konsumennya lebih majemuk. Pada produksi awal tersebut terdiri atas 3 model mobil sport, Audi TT, Bugatti Veryon, Nissan Fairlady 350Z. Sedangkan pemasarannya melalui toko-toko buku, outlet mainan (open space) di mall. Selain itu juga ditawarkan ke beberapa sekolah. Sistem penjualan semuanya dengan cara konsinyasi. “Ke depan akan saya usahakan desainnya mudah dirakit anak-anak dan orang awam, tentunya dengan bahan dasar kertas,” ungkapnya.
Dikatakan, semua desain merupakan ciptaannya sendiri, sementara produksi di-subkan ke percetakan. Pembuatan display untuk toko ia dibantu dua saudara sepupunya. Sayang, ia enggan menyebut angka pasti berapa jumlah modal yang ditanamkan. “Rahasia sih…hehe, ya jutaan lah. Perkembangan belum bisa saya nilai sekarang, karena masih sangat baru, pasarnya juga masih sangat baru. Sales masih kecil, namun saya beruntung toko Karisma yang sudah skala nasional bersedia bekerja sama memasarkan produk saya ini,” paparnya sambil berkilah.

Seperti lazimnya kerajinan lipat kertas atau acap disebut paper tole, untuk menikmati keindahannya perlu dirakit terlebih dahulu. Dalam satu paket miniatur mobil berisi 6 lembar art paper berukuran B5 yang sudah memiliki pola (texture) full color. Setiap pola merupakan bagian-bagian yang akan membentuk model mobil, terkecuali pintu, roda, kaca depan. Sebelum dirakit harus ditekuk dan dibentuk mengikuti gambar petunjuk yang disediakan, kemudian disambungkan dengan lem dengan bagian-bagian lainnya hingga utuh menjadi sebuah miniatur mobil.
Walaupun saat ini sebagian besar penjualan baru menjangkau wilayah Surabaya, Antony yakin peluang pasti ada. Baginya yang sulit adalah menemukan komposisi yang pas, yakni tingkat kesulitan model desain yang dapat masuk ke semua kalangan. Sejauh ini ia telah mengusahakan pemasaran hingga masuk ke sekolah-sekolah. Dengan harapan agar bisa dijadikan modul ekstra kurikuler atau pelajaran art, terutama di sekolah-sekolah nasional plus. Target konsumennya, dikatakan, adalah anak-anak sekolah SD-SMA, dan tentu orang awam yang punya kegemaran sama.
Karena bukan merupakan produk langsung jadi Antony menyadari diperlukan upaya serius agar target pemasaran lebih optimal. Ia menilai paper model seperti itu bagi orang lain bisa gampang-gampang susah. Sewaktu hendak merakit sebenarnya kelihatan simple, tapi sebenarnya butuh ketelatenan. Seringkali anak-anak atau orang awam ingin cepat-cepat merakit tanpa banyak menekuk dan membentuk potongan-potongan tersebut. Maka hasilnya pun kurang maksimal. Jadi menurutnya perlu dilakukan demo atau edukasi untuk mendukung pemasaran. “Nah ini yang belum dapat saya lakukan, karena perlu tambahan modal dan dukungan pihak lain, ya seperti promotorlah,” akunya.
Sedangkan untuk meningkatkan kualitas ke depan ia berencana memperbaiki desain dan berikut komposisi bahan. Saat ini bahan bakunya murni masih menggunakan art paper. Untuk mempermudah perakitan maka akan ditambahkan kombinasi art paper dan duplex card.

Asian Crabs Shells, Memburu Kelomang Menambang Uang
Di sejumlah negara kelomang yang sering bergonta ganti cangkang lebih populer ketimbang ikan. Suatu peluang mengeruk uang. Wiyono
Coenobita, tidak semua orang tahu nama apakah itu gerangan. Sebaliknya bila disebut kelomang segera semua mafhum akan sejenis binatang unik yang gemar bergonta-ganti cangkang itu. Masih banyak anggapan binatang pesisir ini hanya pantas menjadi mainan anak-anak, padahal asal tahu saja di luar negeri hewan ini sejak puluhan tahun lalu menjadi satu di antara banyak klangenan yakni sebagai penghuni akuarium dalam ruangan.

“Kelomang pertama kali ngetop di Amerika tahun 1953, barangkali karena pemeliharaannya lebih gampang. Kalau kita mau keluar rumah, ditinggal 5-6 hari tidak mati. Media yang dipakai pasir, berbeda dengan ikan, kita harus menguras air dan sebagainya. Kelebihan lainnya dia unik, bisa berubah-ubah warna,” jelas Hany Faroko. “Di Amerika kelomang lebih populer dari pada ikan, saya pernah buka search yahoo kata kuncinya hermit, sampai tiga hari belum habis dibaca,” tukas tokoh yang dikenal sebagai eksportir kelomang lukis itu menambahkan.
Ekspor kelomang lukis telah dilakukan Hany sejak 2003 dengan bendera usaha CV HNS maupun CV Asian Crabs Shells (ACS), rutin hingga beberapa kali seminggu dalam setiap bulannya, melayani pembeli dari USA, Perancis, Korea, dan Jepang. Jumlahnya lumayan besar, pengiriman ke Korea tiap bulan tidak kurang 30.000 ekor. Permintaan tersebut akhir-akhir ini bertambah semenjak ada kebijakan impor kumbang kelapa untuk binatang peliharaan ke Negeri Ginseng itu dinyatakan illegal. Lainnya, sekitar 20.000 ekor dikirim ke benua Amerika dan yang terbesar adalah ke Perancis. Setiap hari Selasa ia mengirimkan kurang lebih 10.000 ekor kelomang lukis dari workshopnya yang terletak di daerah Bekasi-Jawa Barat. Dengan harga USD 2,00-USD 5,00 maka bisa dihitung sendiri berapa omset perbulannya, mencapai USD 180.000,00-USD 450.000,00 USD. Itu pun masih ditambah item lainnya, seperti penjualan cangkang maupun kelomang asli.
Hany Faroko, lulusan sekolah perhotelan, mantan bos dealer mobil, namun ujung-ujungnya berlabuh menjadi pebisnis kelomang lukis. Tahun 1998 ia berbulan madu ke Negeri Paman Sam. Di sanalah kisah awal perkenalannya dengan bisnis binatang hias bernama kelomang yang dilukis berwarna-warni. Sebagai pemilik showroom mobil ia tahu segala jenis cat, sehingga merasa yakin bisa mengerjakan pula.
Setibanya di tanah air ia segera berburu informasi mengenai seluk-beluk bisnis kelomang, mulai teknik pemeliharaan, eksplorasi habitat untuk memperoleh sumber pasokan, pengecatan, dan sebagainya. Sementara itu bisnis otomotif tetap dijalani hingga berhenti total pada 2001. Sejak saat itu Hany mulai coba-coba menawarkan produk kepada pembeli di luar negeri.
Meskipun minim kompetitor, namun ayah dua putra ini menyebut, bagi pemain baru ternyata tidak begitu mudah memperoleh pembeli. Ia memberikan gambaran, di bisnis ini transaksi antar penjual dengan calon pembeli dilakukan tanpa bertemu muka secara langsung, lalu sistem pembayarannya dilakukan via bank secara tunai. Padahal dalam sekali order jumlah minimalnya 2000 ekor, berarti besarnya transaksi USD 4.000,00-USD 10.000,00. Pihak pembeli tentu saja tidak akan mau mentransfer uang sebanyak itu kepada orang yang masih dianggap asing, sementara sebagai penjual dirinya pun tidak berani rugi, mengirim barang tetapi belum ada kepastian pembayaran. “Gap ini pula yang membuat bisnis saya agak lama jalan, startnya yang susah,” ujarnya.
Kenyataannya, pengalaman pahit seperti itu juga pernah sekali dia alami. Waktu itu ia masih baru taraf belajar, memenuhi begitu saja permintaan seorang pembeli kelomang dari Amerika dengan perjanjian konsinyasi. Begitu dikirim, sesampainya di sana dilaporkan semua hewan telah mati. Dia merasa ditipu mentah-mentah dan rugi hampir USD 5.000,00.

Perlu diketahui pula, jenis kelomang yang hidup didunia dikelompokkan menjadi enam macam, namun tidak semuanya memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Sebagai contoh, coenobita rugosus adalah jenis kelomang yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Kelomang jenis ini memiliki ciri tekstur garis-garis yang tersusun rapi secara vertikal di sisi depan capit besar kiri. Warnanya bervariasi, putih, krem, pink, orange muda, coklat, biru muda, ungu, hitam, abu-abu sampai merah. Namun sayang, jenis dapat dikatakan tidak laku untuk dijual karena daya tahan tubuhnya lemah.

Asian Crabs Shells, Memburu Kelomang Menambang UangDi sejumlah negara kelomang yang sering bergonta ganti cangkang lebih populer ketimbang ikan. Suatu peluang mengeruk uang. Wiyono
Coenobita, tidak semua orang tahu nama apakah itu gerangan. Sebaliknya bila disebut kelomang segera semua mafhum akan sejenis binatang unik yang gemar bergonta-ganti cangkang itu. Masih banyak anggapan binatang pesisir ini hanya pantas menjadi mainan anak-anak, padahal asal tahu saja di luar negeri hewan ini sejak puluhan tahun lalu menjadi satu di antara banyak klangenan yakni sebagai penghuni akuarium dalam ruangan.

“Kelomang pertama kali ngetop di Amerika tahun 1953, barangkali karena pemeliharaannya lebih gampang. Kalau kita mau keluar rumah, ditinggal 5-6 hari tidak mati. Media yang dipakai pasir, berbeda dengan ikan, kita harus menguras air dan sebagainya. Kelebihan lainnya dia unik, bisa berubah-ubah warna,” jelas Hany Faroko. “Di Amerika kelomang lebih populer dari pada ikan, saya pernah buka search yahoo kata kuncinya hermit, sampai tiga hari belum habis dibaca,” tukas tokoh yang dikenal sebagai eksportir kelomang lukis itu menambahkan.
Ekspor kelomang lukis telah dilakukan Hany sejak 2003 dengan bendera usaha CV HNS maupun CV Asian Crabs Shells (ACS), rutin hingga beberapa kali seminggu dalam setiap bulannya, melayani pembeli dari USA, Perancis, Korea, dan Jepang. Jumlahnya lumayan besar, pengiriman ke Korea tiap bulan tidak kurang 30.000 ekor. Permintaan tersebut akhir-akhir ini bertambah semenjak ada kebijakan impor kumbang kelapa untuk binatang peliharaan ke Negeri Ginseng itu dinyatakan illegal. Lainnya, sekitar 20.000 ekor dikirim ke benua Amerika dan yang terbesar adalah ke Perancis. Setiap hari Selasa ia mengirimkan kurang lebih 10.000 ekor kelomang lukis dari workshopnya yang terletak di daerah Bekasi-Jawa Barat. Dengan harga USD 2,00-USD 5,00 maka bisa dihitung sendiri berapa omset perbulannya, mencapai USD 180.000,00-USD 450.000,00 USD. Itu pun masih ditambah item lainnya, seperti penjualan cangkang maupun kelomang asli.
Hany Faroko, lulusan sekolah perhotelan, mantan bos dealer mobil, namun ujung-ujungnya berlabuh menjadi pebisnis kelomang lukis. Tahun 1998 ia berbulan madu ke Negeri Paman Sam. Di sanalah kisah awal perkenalannya dengan bisnis binatang hias bernama kelomang yang dilukis berwarna-warni. Sebagai pemilik showroom mobil ia tahu segala jenis cat, sehingga merasa yakin bisa mengerjakan pula.
Setibanya di tanah air ia segera berburu informasi mengenai seluk-beluk bisnis kelomang, mulai teknik pemeliharaan, eksplorasi habitat untuk memperoleh sumber pasokan, pengecatan, dan sebagainya. Sementara itu bisnis otomotif tetap dijalani hingga berhenti total pada 2001. Sejak saat itu Hany mulai coba-coba menawarkan produk kepada pembeli di luar negeri.
Meskipun minim kompetitor, namun ayah dua putra ini menyebut, bagi pemain baru ternyata tidak begitu mudah memperoleh pembeli. Ia memberikan gambaran, di bisnis ini transaksi antar penjual dengan calon pembeli dilakukan tanpa bertemu muka secara langsung, lalu sistem pembayarannya dilakukan via bank secara tunai. Padahal dalam sekali order jumlah minimalnya 2000 ekor, berarti besarnya transaksi USD 4.000,00-USD 10.000,00. Pihak pembeli tentu saja tidak akan mau mentransfer uang sebanyak itu kepada orang yang masih dianggap asing, sementara sebagai penjual dirinya pun tidak berani rugi, mengirim barang tetapi belum ada kepastian pembayaran. “Gap ini pula yang membuat bisnis saya agak lama jalan, startnya yang susah,” ujarnya.
Kenyataannya, pengalaman pahit seperti itu juga pernah sekali dia alami. Waktu itu ia masih baru taraf belajar, memenuhi begitu saja permintaan seorang pembeli kelomang dari Amerika dengan perjanjian konsinyasi. Begitu dikirim, sesampainya di sana dilaporkan semua hewan telah mati. Dia merasa ditipu mentah-mentah dan rugi hampir USD 5.000,00.

Perlu diketahui pula, jenis kelomang yang hidup didunia dikelompokkan menjadi enam macam, namun tidak semuanya memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Sebagai contoh, coenobita rugosus adalah jenis kelomang yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Kelomang jenis ini memiliki ciri tekstur garis-garis yang tersusun rapi secara vertikal di sisi depan capit besar kiri. Warnanya bervariasi, putih, krem, pink, orange muda, coklat, biru muda, ungu, hitam, abu-abu sampai merah. Namun sayang, jenis dapat dikatakan tidak laku untuk dijual karena daya tahan tubuhnya lemah.
Sebaliknya coenobita perlatus yang dikenal dengan warna merahnya yang khas, dengan titik titik putih seperti buah strawberry adalah yang paling mahal. Sebaliknya, jenis yang terdapat banyak di Australia ini amat jarang ditemukan di Indonesia. Hany sendiri mesti memburu kelomang jenis ini hingga ke perairan Papua. Belakangan ia sempat memperoleh pasokan jenis strawberry tersebut dari sumatera tetapi tidak banyak. “Mungkin di pulau-pulau kecil sebenarnya masih ada, tetapi para nelayan merasa enggan untuk mengambil karena resikonya tidak sebanding,” ucapnya saat mengeluhkan pasokan yang acap kurang.
Di bengkel kerjanya, Hany dibantu karyawan tetap 10 orang, empat orang di antaranya telah dipercayakan sebagai tenaga ahli pemecah cangkang kelomang yang asli. Sedangkan sisanya mengerjakan pengecatan serta melukis cangkang-cangkang baru yang telah dipersiapkan. Setiap tiga bulan penggemar motor besar itu selalu menciptakan desain lukisan baru agar tidak gampang ditiru. Pada masa-masa awal usaha dia masih memakai model lukis biasa, berikutnya telah dikembangkan jenis lukisan timbul. Bahkan untuk model yang terbaru ia sekarang membuat desain yang bakal sulit dijiplak. Anda mungkin akan terkejut atau tersenyum kecut melihat cangkang menyerupai topeng, monster lengkap dengan gigi taring, vampir, dan sebagainya. Cangkang-cangkang yang dilukis itu sendiri awalnya berasal dari rumah keong macan, keong mas, atau bekicot. Maklum, cangkang kelomang beneran tidak dipakai karena lebih tebal dan berat.
Sementara itu, dijelaskan, demi memenuhi standar keamanan dan kesehatan cat yang dipakai untuk pewarnaan dipilih dari bahan non toxic seperti biasa dipakai untuk mengecat produk-produk peralatan untuk bayi. “Harganya memang agak mahal, tetapi ini sudah resiko agar tahan lama,” kilahnya. Malah untuk memperoleh hasil maksimal finishingnya menggunakan bahan furnish berkadar glows 98%. “Sebagai perbandingan furnish mobil paling mahal Rp 70 ribu/liter, produk yang saya gunakan harganya Rp 325 ribu/liter. Maka hasilnya betul-betul mengkilap dan tahan gores,” imbuhnya sedikit berbangga, sebab dari sisi kualitas ia berani bersaing dengan eksportir kelomang terbesar di dunia yang sudah puluhan tahun, Sal’s Marine asal India.

Lebih lanjut, saking serius berorientasi pasar ekspor dan itu pun masih merasa kewalahan, Hany justru tidak sempat menggarap pasar lokal yang akhir-akhir ini juga mulai marak. Sebaliknya untuk mengejar target pengiriman ia mengadakan sub bersama dua orang saudaranya dan dua orang lainnya, masih di wilayah Jakarta. “Itu sebabnya biar pun saya tidak mengurusi pasar lokal tetapi 95% pasokan di sini berasal dari saya,” akunya.
Malah atas inisiatif Rolly Handoko, kakaknya, ACS saat ini membuka kesempatan waralaba bagi pengusaha lokal yang tertarik pada bisnis kelomang lukis tersebut. “Kakak saya sekarang merintis sistem franchise, ada paket mulai, Rp 5juta, Rp 10 juta, Rp 20 juta dan seterusnya. Kita sediakan lengkap, mulai dari binatangnya, akuarium, dan aksesorisnya,” lanjutnya dan diamini pula oleh Rolly.
Ditambahkan, asalkan ditekuni serius sejatinya pasar lokal punya prospek cukup bagus, penggemar kelomang lukis mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Sejauh ini Rolly sudah merambah wilayah Jakarta dan sekitarnya serta selalu hadir di setiap pameran flora dan fauna. Terlebih, di sini harga jual juga terbilang bagus. Kelomang lukis dengan desain baru, mulai dari yang terkecil dihargai Rp 30 ribu, Rp 50 ribu, dan Rp 75 ribu setiap ekor. Sedangkan yang memakai lukisan timbul harganya Rp 20 ribu-Rp 50 ribu/ekor. Jadi kelomang lukis, ternyata baik produk maupun bisnisnya, semua menggiurkan.
Bisnis Perlengkapan Rumah Sakit, Omsetnya Kian Melejit
CV Nuri Teknik memfokuskan bisnis pada pembuatan alat-alat kedokteran dan rumah sakit. Tak hanya bermain di pasar domestik tapi juga melebarkan sayap hingga ke mancanegara. Fisamawati

Betapa praktisnya tempat tidur rumah sakit. Bagian kepala bisa terangkat, begitu pula bagian badan maupun kaki. Hanya tinggal kayuh saja sisi engkolnya atau hanya menekan tombol elektrik perintah. Tempat tidur khusus pasien tersebut memberikan kemudahan, tanpa harus merepotkan si pasien untuk bangun atau menggeser posisi tubuhnya sendiri. Banyak yang merasakan manfaat dari ranjang khusus tersebut. Namun tak banyak pula yang mengetahui pemain-pemain bisnis alat kedokteran dan rumah sakit, bahkan sekadar tahu siapa pembuat produk tersebut.
Di Indonesia sendiri, pemain lokal di bisnis tersebut tak banyak. Tentu saja ‘lahan kosong’ ini patut menjadi rebutan beberapa perusahaan lokal khusus pembuat alat kedokteran dan rumah sakit, CV Nuri Teknik- salah satunya. Perusahaan yang didirikan Ahmad Syarifudin pada September 1991 bahkan sudah melabarkan sayap hingga di tahun 1998, ia pun menegakkan perusahaan PT Sarandi Karya Nugraha.
“Dengan perlengkapan dan modal terbatas, saya memulai usaha pembuatan alat-alat dan perlengkapan rumah sakit. Saat itu, saya hanya mempunyai modal Rp 500 ribu rupiah ditambah satu gergaji tangan dan satu mesin bor tangan,” kata Ahmad yang membuat trolley USG sebagai produk perdananya.
Ia mengungkapkan, bisnis tersebut diilhami oleh Isep- adiknya yang bekerja di sebuah perusahaan supplier alat-alat kesehatan. Barang-barang hasil produksi perusahaan tersebut ternyata banyak produk impor. “Lantas, saya pun bertanya-tanya, ‘mengapa harus impor?’. Saya pun memberanikan diri mengajukan penawaran ke perusahaan tempat adik saya bekerja, saya meyakinkan perusahaan tersebut bahwa saya bisa membuat produk-produk yang mereka butuhkan,” imbuhnya.
Di atas areal seluas 10.000 meter persegi, Ahmad mengerjakan perlengkapan rumah sakit. Produk-produk buatannya pun diterima, bahkan di tahun 1992, ia mendapat tawaran khusus untuk mendesain dan membuat produk timbangan bayi. Dari hasil order 8000 unit timbangan bayi tersebut, ia meraup keuntungan yang cukup menggiurkan. Berikutnya order terus berlanjut berupa permintaan 28.000 unit lampu periksa, setelah itu susul menyusul pekerjaan datang ke tempat usaha yang berlokasi di Jalan Raya Sadamaya, Cibeber, Cianjur ini.
“Hasil keuntungan tersebut saya belikan berbagai jenis mesin bekas sebanyak dua truk. Diantaranya, mesin bubut, mesin frais (untuk membuat pola, red), mesin scrapt, bor dan lainnya. Meskipun mesin-mesin yang dibeli buatan Eropa namun tak satu pun yang berfungsi, alias rongsokan,” ungkap peraih penghargaan Upakarti dan Perusahaan Kecil Menengah Terbaik Jawa Barat.
Ahmad yang dibantu 75 orang karyawan dan ratusan tenaga kerja lepas, mampu membuat beragam produk. Mulai dari jenis tempat tidur, meja operasi elektrik, ginecolog electric, meja periksa, trolley makan dan lampu periksa. Total produksinya pun berkisar hingga tiga ratus item dengan kapasitas produksi belasan ribu unit pertahun. “Untuk beberapa item tertentu sifatnya pesan baru diproduksi. Namun ada pula yang ready,” tangkasnya seraya mengupayakan peningkatan kapasitas dan kualitas produksinya.
Target pasar yang dilirik Ahmad tak hanya skala nasional tetapi juga ekspor, di antaranya ke Timur Tengah dan Swedia. Produk yang diekspor pun kebanyakan alat-alat kebidanan dan kursi ruang tunggu pasien. Sedangkan untuk pemasarannya sendiri dilakukan melalui supplier-supplier yang tersebar. Ahmad pun mengungkapkan, dirinya tak siap jika harus terjun langsung karena adanya faktor birokrasi, meskipun untuk konsumen lokal masih disanggupinya.
“Saya serius terjun ke dunia alat-alat kesehatan karena merasa bidang ini punya banyak tantangan. Setiap saat selalu muncul produk-produk baru dengan desain yang terus berkembang. Alhamdulillah, dapat memasuki dan bersaing di bidang ini. Selain itu, peluang di bidang ini cukup besar karena sedikitnya pemain yang mendalaminya,” paparnya yang mampu meraup omset milyaran rupiah per tahunnya.
Bersaing dengan pemain asing seperti Jerman dan China, tak menyiutkan nyali Ahmad untuk mendesain produk-produk bergaya moderen, praktis dan elegan. Salah satunya inspirasi membuat produk didapat dari kunjungan beberapa pameran baik dalam maupun luar negeri. Negara yang menjadi referensi pengembangan produknya adalah Jerman dan Singapura. Dan tak jarang pula browsing dari internet yang kemudian didesain sesuai keinginannya. “Saya tidak akan menampilkan produk dengan desain yang monoton,” tegasnya yang ‘rajin hunting’ ke Jerman satu tahun sekali.
Dari inspirasi ditambah referensi, ia pun mendesain sesuai permintaan pasar. Sementara untuk pengerjaannya, komponen-komponen pendukung dipisahkan dan dibagi kebeberapa sub di beberapa bengkel di Cianjur. Berbekal pendidikan di jurusan mesin Sekolah Teknik Mesin yang dimilikinya ternyata membantunya. Dari komponen yang terpisah, ia gabungkan dan jadilah produk-produk berfungsi guna.
“Pernah dari beberapa sub bengkel mencoba untuk menggabungkan menjadi produk seperti yang saya buat tetapi tidak bisa. Mungkin itulah kelebihan saya dalam memadu padankan komponen yang ada menjadi memiliki nilai jual,” ucap Ahmad yang memasang harga puluhan juta rupiah untuk produk ciptaannya.
Miniatur Berbahan Clay, Harganya Aduhai
Memanfaatkan bahan baku clay--semacam tanah liat—Yeny membuat berbagai kerajinan miniatur cantik. Wiyono
Nilai produk seni seringkali tidak dihitung dari besar angka rupiah bahan material saat pembuatannya, namun lebih banyak ditentukan oleh kaca mata estetika yang sulit terukur secara nominal. Sebuah lukisan bikinan mahasiswa seni lukis yang masih taraf belajar boleh jadi tidak akan laku sampai ratusan ribu, sebaliknya karya seniman yang sudah profesional akan ditawar hingga ratusan juta rupiah.
Ilustrasi di atas sejatinya bukan untuk menonjolkan karya seni yang memiliki nilai jual ‘irasional’ yang biasanya hanya dimiliki pada karya seni murni. Sebab diakui, agak berlebihan apabila karya seni di atas disejajarkan dengan produk kerajinan yang ketika proses pembuatannya masih memperhitungkan prinsip-prinsip ekonomi. Akan tetapi tetap terasa wajar memasukkan nilai estetik sebagai salah satu faktor harga dalam produk seni kerajinan tangan yang jelas-jelas membutuhkan keahlian, ketrampilan, ketelitian, dan rasa estetis pada saat pengerjaannya. Sama halnya dengan produk miniatur berbahan clay. Sebagai produk handmade, di pasaran kerajinan ini memiliki kisaran harga mulai dari lima ribu hingga mencapai jutaan rupiah. “Harga jual juga ditentukan oleh besaran, detil, dan tingkat kerumitan,” ungkap Yeny, pemilik Hanycraft.
Yeny mengenal kerajinan berbahan sejenis tanah liat ini sejak 2003. Dari semula sebatas hobi, ternyata banyak saudara dan teman-temannya tertarik melihat hasilnya. Kemudian berawal dari melayani pesanan kerabat dekat itulah, setahun kemudian ia mencoba merintis bisnis pembuatan barang miniatur khusus dengan bahan clay secara lebih serius. “Saat itu masih jarang tempat yang menjual hasil kerajinan, dan terutama yang memberikan kursus cara pembuatan dan kreasi menggunakan clay ini,” tuturnya.
Kecuali menjual produk dan bahan kerajinan clay maupun aneka jenis kerajinan keramik mini, wanita 29 tahun tersebut sekaligus juga megadakan kursus pembuatan clay di rumahnya, di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Kursus yang diajarkan dibagi dalam dua kelas, yaitu kelas pembuatan makanan dan kelas pembuatan bunga dengan lama masing-masing kelas sekitar 5 jam.
Sedangkan nama Hanycraft itu sendiri, seperti dijelaskan, dikarenakan bisnis tersebut dijalankan bersama suaminya, Harry. “Pertama, merupakan kepanjangan dari nama suami saya (Harry) dan nama saya sendiri yaitu Yeny. Dan karena berhubungan dengan craft maka kami menggunakan nama Hanycraft. Alasan kedua, kata hany kalau dibaca sama dengan kata ‘honey’ yang berarti ‘sayang’. Artinya craft yang kami hasilkan tersebut bisa diberikan kepada orang yang disayangi,” ungkapnya.
Produk miniatur yang telah dihasilkan Yeny cukup banyak macamnya, antara lain ada yang berbentuk seperti makanan, misalnya kue, sushi, bakery, nasi tumpeng, steak, set breakfast, buah-buahan, tart, es krim, serta isi dari gerobak dorong makanan lengkap. Selain itu juga terdapat beraneka bunga-bungaan seperti mawar dan berbagai jenis-jenis anggrek, mulai anggrek bulan, dendrobium, anggrek kantong, vanda, cattleya, maupun ponne, di samping tulip, lily, teratai, lotus, gerbera, bunga matahari dan lainnya. Sedangkan kreasi miniatur berbentuk binatang, di antaranya kolam ikan koi, pigsty, gajah, kelinci, ayam, dan sebagainya.
Sampai saat ini produksi secara kontinyu, terutama dilakukan dengan mencoba menghasilkan kreasi-kreasi baru. Sementara itu, dengan dibantu dua orang karyawan ia juga menerima pesanan khusus dari pelanggan. Misalnya mengerjakan pesanan pembuatan sushi untuk dijadikan hiasan kalung dan bando. Tetapi, tidak jarang sebagian order juga diberikan kepada para mantan peserta kursus dengan sistem bagi hasil. “Kami juga bekerja sama dengan pengrajin dari luar khususnya untuk keramik-keramik kecil seperti aneka piring, mangkok, cangkir, tea set, dan binatang,” imbuhnya.
Lebih lanjut dikatakan, sampai saat ini usaha bermodal awal sekitar Rp 20 juta itu perkembangannya cukup menjanjikan. Meskipun diakui, masih terdapat tantangan yang dihadapi, seperti misalnya bahan clay masih impor ,sehingga sangat terpengaruh oleh nilai kurs rupiah. Walaupun pernah mencoba menggunakan clay lokal, namun menurutnya hasilnya tidaklah maksimal dan kurang memuaskan.
Saat ini, dikatakan, pembeli meliputi area Jawa, Sumatera dan Kalimantan, dan bahkan ia pernah juga mendapatkan pesanan dari Singapura dan Australia. “Kapasitas produksi tidak tetap. Namun rata-rata mencapai ratusan buah tergantung ukuran dan tingkat kesulitan dari pembuatannya,” ucapnya. Sayang ia enggan menyebut nominal omsetnya.
Disebutkan, sistem pemasaran yang ditempuh bisnis suami-istri ini dibagi dua cara, sistem penjualan langsung dan sistem reseller. Sistem yang pertama biasanya berupa pesanan khusus dari para langganan. Untuk itu telah disediakan situs penjualan lengkap dengan daftar harga barang berikut dengan gambar produk, dan pemesanan bisa dilakukan melalui email, pesan pendek (SMS) atau pun telpon.
Sedangkan sistem yang kedua adalah penjualan melalui bisnis partner. Yeny mengatakan, peluang kerja sama selalu ditawarkan, dan terbuka dengan pihak manapun dengan prinsip kemitraan yang saling menguntungkan. Misalnya, sebagai contoh apabila terdapat kreasi baru yang dibuat atas pesanan rekanan bisnis, maka untuk selanjutnya kreasi tersebut akan menjadi semacam ‘paten’ dari bisnis partner yang bersangkutan. “Apabila ada permintaan dari pelanggan atau customer, maka kami akan meminta mereka menghubungi bisnis partner kami itu secara langsung. Sehingga nantinya transaksi penjualan terjadi antara customer dengan bisnis partner kami,” jelas Yeny yang kini tengah mempersiapkan rencana pengembangan usaha, salah satunya dengan melakukan ekspansi, bekerja-sama dengan sebuah boutique di Cikarang, Jawa Barat.
Kaya dengan Produk Kelapa
Selama ini tak banyak yang bisa menambah added value komoditas kelapa. Padahal ada 1.600 item produk yang bisa dihasilkannya. Wiyono

Anda pernah mendengar sirup air kelapa (sirkel)? Ya, sejatinya sirup hasil pengolahan limbah air kelapa tersebut hanyalah merupakan salah satu dari sekian banyak produk yang bisa dikembangkan dari hasil tanaman kelapa. Menurut Wisnu Gardjito, pengusaha plus aktifis yang menaruh perhatian besar pada komoditas tumbuhan tropis satu ini terdapat 1.600 item produk akhir kelapa, primer maupun skunder. Direktur Improvement Institute yang juga dosen Akademi Pimpinan Perusahaan di bawah Departemen Perindustrian tersebut, dalam tugasnya mengembangkan agroindustri empat komoditas di Kawasan Timur Indonesia (coklat, kelapa, jagung, dan ikan) berkesimpulan, dari empat komoditas di atas maka paling strategis untuk dikembangkan adalah kelapa.
Wisnu memiliki sejumlah argumentasi. Area tanaman kelapa di Indonesia tercatat terluas di dunia tersebar di Riau, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, NTT, serta daerah-daerah lain, mengungguli Philipina yang memiliki 3,1 juta hektar disusul India dengan 1,1 juta hektar lahan. Tetapi uniknya, di Indonesia karakteristik usaha budidaya tanaman kelapa dimiliki oleh rakyat. Sebanyak 96% merupakan perkebunan rakyat yang diusahakan di kebun dan atau di pekarangan, secara monokultur atau kebun campuran. Jumlah petani kelapa lumayan besar, melibatkan sekitar 25 juta warga. Berarti apabila itu dimaksimalkan maka akan menopang hajat hidup sejumlah besar penduduk.

Ironisnya, pada saat ini nilai ekonomi kelapa dihargai sangat murah. Kian merosotnya harga jual kopra, akhirnya menyebabkan kecenderungan masyarakat makin membiarkan tanaman ini dalam kondisi tidak terawat sehingga berdampak makin anjloknya produktifitasnya. Maka Wisnu berpendapat perlu ada upaya sistem pengembangan terpadu melalui usaha-usaha kelompok/ klaster agar tercipta kesempatan nilainya melompat ke tingkat yang jauh lebih tinggi. Sebut saja pengolahan kelapa menjadi produk virgin coconut oil (VCO), misalnya.
Peraih gelar Doktor Teknologi Industri Pertanian IPB cum laude itu menyebutkan, nilai tambah hasil pengolahan aneka produk berbahan dasar kelapa mampu mencapai 8800% dari harga sekarang. Soal teknologi pembuatan segala macam produk juga tidak perlu khawatir, sebab semuanya sudah kita miliki. Apalagi, Wisnu menyebutkan alasan terakhir, pasokan untuk kebutuhan pasar dunia nyaris masih kosong, total hanya sekitar 1,8% yang telah terisi.

Menyadari hal itu, sejak 1999 mulai serius mengembangkan usaha berbasis kelapa. Sejatinya rintisan usaha sudah dilakukan keluarganya sejak 1996, berbendera usaha Sumber Rejeki dengan produk awal berupa kecap. Kemudian fokusnya mulai diperluas ke produk-produk lain sehingga akhirnya berkembang menjadi perusahaan agri specialist & agri trading. Dan sampai sekarang usaha yang kini dikelola bersama Vipie Gardjito, istrinya, itu telah berkembang sekitar 40 jenis, antara lain sabun, minyak goreng, arang batok, asap cair, body lotion, lotion anti nyamuk, VCO, dan lain-lain semua berbahan dasar kelapa. Terakhir kali, mereka mengenalkan produk sirup berbahan limbah air kelapa.
Karena ketersediaan bahan baku tersebar meliputi wilayah dengan kondisi geografis yang luas, maka industri pengolahan produk kelapa tidak mungkin ditempatkan berpusat di satu titik, sebaliknya ikut menyebar di area sentra produksi kelapa. Secara singkat Wisnu menggambarkan, dari keseluruhan produk, Sumber Rejeki tidak selalu memproduksi langsung melainkan berposisi sebagai penampung sekaligus memperbaiki produk petani sebelum dipasarkan. Di sisi lain, melalui lembaga Improvement Institute yang ia pimpin, Wisnu giat menggalang dan melakukan pembinaan klaster-klaster di tengah-tengah masyarakat petani kelapa. Pembinaan itu meliputi technology transfer, pendanaan, sekaligus membuat semacam awareness program bagi pasar lokal hingga global. “Intinya, desa-desa didesain agar mampu membuat produk-produk yang marketable bagi global market, “ jelasnya mengenai klaster-klaster binaannya tersebut. Produk yang dihasilkan satu klaster bisa berupa produk mentah, atau pun berupa produk jadi dalam kemasan. Klaster berawal dari satu desa kemudian dihimpun dengan yang ada di desa-desa lain di seluruh Indonesia. Tentu saja dengan melibatkan dinas perkebunan, dan asosiasi petani kelapa. Selanjutnya semua disatukan dalam AEC (Agroindustry Export Cluster), suatu badan usaha murni milik rakyat.
Kepada pemerintah pusat, Wisnu bahkan telah menyiapkan proposal pembentukan lembaga BOPAI (Badan Otorita Percepatan Agro Industri), khususnya kelapa. Dalam usulannya lembaga itu semestinya langsung bertanggung jawab kepada Presiden, tetapi tidak masuk dalam kabinet. “Kalau saja ada financial support dari pemerintah sekitar Rp 30 triliun, dalam waktu setahun dana tersebut sudah akan kembali, dan lima tahun sesudahnya, penghasilan bersih dari kelapa sekitar sebesar Rp 700 triliun,” ucapnya yakin.
Sebab, seperti diungkapkan, permintaan dari luar negeri berupa VCO, yang hanya merupakan salah satu produk derivatif kelapa saja, untuk pengiriman ke UK sebanyak 50 ton/bulan dan 100 ton/bulan ke USA belum sepenuhnya terlayani. “Kalau namanya agro tidak bisa kecil, pasti gede, karena setiap orang pasti butuh. AEC di Kendari pasokan VCO-nya cuma 60 ton sebulan, ordernya 100 ton sebulan,” imbuhnya. Padahal harga pasar dunia untuk VCO bermutu paling rendah sekitar USD 5,00/liter, harga standar USD 20,00/liter atau sekitar Rp 200.000,00/liter.
Di samping itu, ternyata banyak produk limbah kelapa yang masih memiliki nilai ekonomi. Sebagai contoh, tempurung, sabut kelapa, daun, lidi, dan sebagainya, bisa dimanfaatkan untuk bahan industri, kerajinan, dan lain-lain. Telah lama kita mengenal produk nata decoco dari hasil olahan limbah air kelapa, yang ternyata juga bisa dibikin sirup. Sebagai gambaran atas bisnis pembuatan sirkel yang dilakukan Wisnu dan Vipie, air kelapa per liter semula dihargai Rp 400,00. Dengan modal tambahan seperti gula, peralatan, berikut tenaga kerja, setelah diolah menjadi sirup, per liternya bernilai jual Rp 15.000,00. Berarti dari limbah tersebut mampu menghasilkan nilai tambah hampir 20%.
Produksi dilakukan dengan sistem klaster, di tiap daerah padat penduduk dibuatkan instalasi pembuatan sirkel. Dalam kondisi normal tiap satu titik klaster bisa menghasilkan 400 botol per hari. Keuntungan sudah bisa dihitung, kalau diambil keuntungan Rp 4.000/botol, berarti Rp 1,6 juta dari satu titik saja. Dengan adanya 20 titik didiperoleh keuntungan Rp 32 juta sehari.

Lebih jauh, mata rantai penjualan produk hasil olahan kelapa juga membuka peluang usaha baru. Dari harga Rp 15 ribu per botol, sebesar Rp 5 ribu adalah keuntungan buat pedagang. Sebab, selain orientasi ekspor, Wisnu tengah menggagas peluang kerjasama untuk penjualan ritel dengan model stand boat melalui sistem bagi hasil 60:40. Mitra dibekali termos CO2 serupa alat pembuat minuman berkarbonansi. Cukup dengan modal Rp 5 jutaan, disebutkan, sudah dapat beroperasi dua lokasi, dengan perkiraan pendapatan minimal @ Rp 300 ribu/hari, profit margin 300%, balik modal tidak sampai sebulan. Artinya, setiap orang berkesempatan menjadi kaya dari
Bisnis Terarium, Untung 300 Persen
Tak terlalu banyak yang mengetahui ihwal terarium. Justru inilah peluang untuk menggarapnya menjadi sebuah bisnis dengan profit 300 persen. Wiyono
Banyak hal dilakukan guna membuat sebuah ruangan tampil cantik, seperti pemilihan desain dan penataan interior, dekorasi, termasuk tanaman hias, lazim pula ikut dijadikan tambahan. Dan booming tanaman hias pada akhir-akhir ini telah memikat banyak orang mencicipi bisnis satu ini. Coba saja, para ibu rumah tangga, khususnya di perumahan-perumahan, getol tiap diajak berbincang soal jenis-jenis tanaman hias yang harganya tengah melangit. Bahkan mereka pun fasih menyebutkan nama-nama latin semacam anthurium, aglonema, adenium, dan sebangsanya? Di antara ibu-ibu itu juga kerap saling bertukar pengalaman dan sekaligus barter tanaman bunga milik masing-masing. Walau begitu, setiap nursery di sepanjang jalanan juga tetap ramai diserbu pembeli. Kesimpulannya, hingga bertahun-tahun ke depan sepertinya bisnis tanaman hias bakal tetap mekar.
Berbicara soal kembang atau tanaman hias, kebanyakan pemahaman kita adalah wujud tumbuhan yang ditanam dalam media pot, entah itu untuk ditaruh di tengah landscape sebuah taman, diletakkan di lantai ruangan atau digantung agar bisa menikmati keindahan bunga, daun, atau batangnya yang indah. Namun, di tengah masyarakat kita ternyata belum banyak tahu adanya metode tanam tumbuhan hias di dalam wadah kaca, atau kerap disebut terarium, sehingga alih-alih menjadikannya sebagai lahan bisnis. Dari sepuluh tempat berjualan kembang belum tentu dijumpai satu penjual yang menyediakan terarium. Padahal di luar negeri, khususnya kalangan pecinta tanaman hias, terarium sangatlah populer dan malahan merupakan salah satu hobi yang digemari. Lebih dari itu, harga jualnya pun lumayan tinggi.
Tidak dipungkiri, menurut Eneng Susilawati, penyedia jasa pelatihan pembuatan terarium di daerah Bogor, penyebabnya barangkali karena aslinya seni tanaman hias tersebut berasal dari benua Eropa yang mengalami empat kali perubahan musim. “Agar tetap dapat menikmati hijaunya tanaman hias sepanjang tahun, maka berkembanglah seni miniatur taman memakai wadah semacam botol, gelas, akuarium, toples atau bahan yang terbuat dari kaca transparan,” jelasnya. “Dengan demikian, terrarium dapat disebut taman mini dalam kaca,” lanjut mahasiswi tingkat akhir IPB di Departemen Agronomi dan Hortikultura itu.
Sebenarnya miniatur taman ini sudah ada sejak 500 tahun sebelum masehi. Namun secara ilmiah, terarium dalam bentuk modern pertama kali baru diperkenalkan pada tahun 1827 oleh Nathaniel Ward, doktor ilmu fisika asal Inggris. “Di Indonesia dibawa oleh orang-orang Belanda,” imbuhnya.
Dikatakan, meskipun terbatas, di Indonesia hobi terarium mulai berkembang pada tahun 90-an. Awal ketertarikan Eneng juga bermula dari salah satu mata kuliah yang pernah diikuti, yakni satu bab yang membahas holticultura landscape. Seterusnya ia masuk ke dalam himpunan profesi agronomi di bidang kewirausahaan, salah satu kegiatannya menjadi panitia pelatihan di beberapa sekolahan, di antaranya pembuatan terarium.
Respon positif ternyata bukan hanya datang dari para murid sekolah, wali murid, khususnya para ibu, banyak yang tertarik mendapatkan pelatihan privat. Akhirnya, bersama beberapa rekan kuliahnya, Eneng membuka jasa pelatihan sekaligus melayani pesanan pembuatan terarium.
Membuat terarium sejatinya tidak terlalu sulit, baik itu sekadar untuk hobi atau bila hendak dijadikan bisnis. Dikarenakan bentuknya mini, dalam jumlah banyak sekalipun, kita tidak perlu ribet menyediakan lahan secara khusus. Keuntungannya kita cukup hanya memanfaatkan ruangan yang telah ada di rumah kita.
Tanaman yang bisa digunakan juga gampang diperoleh dan beragam, tinggal disesuaikan menurut tema dan keinginan masing-masing. Misalnya, terdapat jenis terarium dengan botol/ wadah tertutup atau terbuka. Jenis tertutup biasanya dipilihkan tumbuhan yang tahan kelembaban. Selain itu, pada prinsipnya semua jenis tumbuhan bisa dipakai, tetapi biasanya sengaja dipilih jenis tanaman yang bandel, mudah tumbuh dan mampu bertahan hidup, dan paling penting dipilih tanaman yang masih kecil. Maklum, sebab media tumbuhnya memang sengaja dibuat miskin. Pemupukan sedapat mungkin juga dihindari untuk mencegah tanaman tersebut menjadi cepat tumbuh besar.
Secara singkat, seperti penjelasan Eneng, sebelum mempersiapkan peralatan, wadah, dan tanaman, tahap pertama hendaknya menentukan tema terarium tema terlebih dahulu. “Jenis tanamannya beragam, crypthantus (sejenis nanas-nanasan), aloyvera, kaktus, jenis bromeliad, lidah mertua (sancievera), paku lumut (lichens), fittonia, sirih gading (epriperum), begonia, dracaena, chamaedorea (palem kecil), dan sebagainya,” sebut Eneng.
Sementara itu media tanamnya juga beragam, dipilih yang bersifat porous dan cukup subur. Beberapa media yang digunakan antara lain arang sekam, sphagnum moss, kompos dan zeolit. Tidak ada satu aturan baku di dalam menyusun media tanaman, namun berdasarkan fungsi masing-masing dapat diperoleh susunan dari bawah ke atas sebagai berikut, zeolit kasar, sphagnum moss, arang sekam, kompos, dan zeolit halus. Pertama, zeolit kasar dimasukkan ke dalam wadah dengan ketebalan sekitar 1 cm. Setelah itu sphagnum moos ditaruh tepat diatas zeolit kasar, dan di atasnya diberi arang serta kompos masing setebal 1 cm dan 2 cm. Sesudahnya tanaman yang telah disiapkan baru dimasukkan, dan kembali tutupi dengan kompos kurang-lebih setebal 3-4 cm atau sampai menutupi seluruh akar. Lapisan paling atas ditutup dengan zeolit halus secukupnya. Sebagai pemanis dapat pula ditambahkan pasir atau kerikil berwarna, serta aksesoris untuk ditempatkan diatas media sebagai pelengkap atau hiasan.
Lebih lanjut, sama halnya dengan tanaman hias, terrarium membutuhkan perawatan berkala agar tetap menarik, meliputi penyiraman, pemenuhan kebutuhan cahaya dan suhu, pemupukan, pemangkasan, pembersihan serta pemberantasan hama dan penyakit. Meskipun relatif tidak mudah terserang hama dan penyakit dibandingkan dengan tanaman di ruang terbuka, musuh yang harus diperhatikan yaitu semut, kutu, dan kepik penghisap cairan tanaman. Pemberantasan hama cukup secara manual.


Dari segi bisnis, Eneng mengatakan, terarium mempunyai prospek sangat bagus karena belum banyak yang menekuni usaha ini sebagaimana budidaya tanaman hias dalam pot. Kalau kita cukup kreatif kita bisa membuat terarium dalam satu wadah terarium terdiri bermacam-macam jenis tanaman, hasilnya pasti sangat menarik. Sedangkan jenis tumbuhannya cukup mudah diperoleh di nursery.
“Rencananya saya akan mengadakan rental terarium dan refill. Banyak terarium lama yang mati, atau barangkali pemiliknya sudah bosan. Jadi istilahnya kita menerima isi ulang,” ujarnya. Sayang sampai saat ini yang dilakukan baru sebatas melayani pesanan, terutama karena faktor modal dan kesempatan. Maklum sementara waktu ia masih berkonsentrasi pada studi.
Modal investasi yang diperlukan sebenarnya tidak terlalu besar sebab tidak memakan lahan terlalu luas. Tergantung dari bahan-bahan, jenis wadah kaca maupunpun jenis tanaman yang disediakan, kapital awal sekitar Rp 1 juta hingga Rp 10 juta sudah bisa jalan. Berdasarkan pengalaman Eneng saat melayani pesanan, ia menjual produk berkisar Rp 100 ribu-Rp 250 ribu. Tetapi harga tersebut bisa lebih murah, atau bahkan lebih mahal hingga jutaan rupiah. Maka keuntungannya pun relatif, profit margin bisa berkisar 10% sampai lebih dari 110%. “Harga disesuaikan dengan pesanan, baik tempat kaca yang dikehendaki dan jenis tanamannya apa,” ungkapnya.
Analisa Bisnis:
Analisa usaha terarium secara sederhana sebagai berikut:
Investasi Awal:
- Pembelian bibit tanaman Rp. 200.000,00
- Pengadaan wadah kaca dan peralatannya Rp. 600.000,00
Pengadaan bahan-bahan media tanam Rp. 200.000,00
Jumlah investasi awal Rp 1.000.000,00
Pendapatan Usaha:
Penjualan sekitar 20 buah terrarium @ 150.000,00 = Rp 3.000.000,00
III. Keuntungan Usaha:
Rp 3000.000,00-1000.000,00 = Rp 2.000.000,00
Kesimpulan:
Profit margin mencapai 300%. Apabila dalam sebulan memiliki omset penjualan hingga 100 buah atau total penjualan Rp 15.000.000,00, maka keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp 10.000.000,00.
Jika ingin mengutip/menyebarluaskan artikel ini harap mencantumkan su

Depobabe, Barang Seken Layak Direken
Banyak orang yang berburu barang seken atau bekas. Alasannya jelas, mutunya tak terpaut jauh dengan barang baru tetapi dengan harga jauh lebih miring. Anita Surachman
Ketika barang bekas bertumpuk di pojokan rumah, dan mengganggu pandangan mata, mungkin terbersit di pikiran Anda untuk membuangnya. Atau menjualnya secara murah ke tukang loak. Pikiran Anda yang seperti ini, secepatnya harus dikoreksi. Ada kesempatan untuk menjual barang bekas dengan harga yang pantas. Salah satu pilihannya adalah menitipkan barang tersebut ke Depobabe, di Jalan Delima Raya Klender, Jakarta Timur.
Depobabe, akronim dari depo barang bekas, memang bukan yang pertama dan satu-satunya. Tetapi konsepnya agak berbeda dengan bisnis sejenis. Depobabe menyediakan tempat untuk penjualan barang bekas dengan sistem titip jual. Harga dari barang-barang yang dipajang tertera jelas, layaknya barang yang dijual di supermarket atau hypermarket.
Mungkin Anda bisa mencari barang bekas di “pasar tradisional” seperti Senen, Jatinegara, Taman Puring atau di Jalan Surabaya. Tetapi kemungkinan Anda akan mengalami kerepotan terkait dengan jenis barang yang dicari dan konsep harga serta kesempatan untuk mencoba. Kelemahan-kelemahan inilah yang dibenahi oleh Depobabe. Dikonsep menyerupai minimarket pembeli tidak perlu repot menanyakan harga barang karena pada lebel produk sudah tertera harga sehingga tidak repot untuk tawar menawar lagi. Pembeli juga bebas mencoba barang yang ada. Selain itu, digerai ini produk barang seken yang ditawarkan bervariasi, mulai barang bernilai ribuan hingga jutaan rupiah. Mulai dari pemotong rumput sampai keyboard.
“Waktu itu ada teman saya yang hendak pindah rumah, tetapi dia tidak mau membawa barang-barangnya. Tetapi untuk menjual barang tersebut juga susah. Kalaupun ada yang yang mau beli harganya tidak sesuai karena terlalu murah. Lalu pada saat itu juga ketika saya sedang jalan-jalan ke Bandung, saya melihat ada outlet yang khusus menjual barang-barang seken, dari situ saya berpikir untuk memiliki usaha seperti ini di Jakarta. Respon dari masyarakat pun sangat baik, dengan adanya gerai Depobabe ini,” cerita Endang Purwanto pemilik sekaligus pengelola gerai depobabe.
Dituturkan Endang, “gerai yang berdiri sejak 8 Agustus 2004 memiliki prospek bagus. Ini menilik perjalanan bisnis sejenis di Bandung yang tumbuh besar meski awalnya mulanya sangat kecil. Saya mengamati dan mempelajari gerai-gerai di Bandung. Dan ternyata di Jakarta belum ada. Kalau pun ada, konsep yang diusung berbeda dengan konsep Depobabe”.
Bagi Endang, bisnis ini membawa tantangan tersendiri. Di masyarakat ada suatu penilaian bahwa barang seken itu jelek Tetapi pada sisi lain banyak juga orang yang berburu barang bekas. Tantangan itulah yang mengilhami Endang untuk meningkatkan derajat barang bekas, mulai dari setting gerai, pengaturan letak barang hingga penentuan harga serta sistemnya.
Dengan sistem ini tidak semua barang bekas bisa dititipkan. Aturan mendasarnya adalah: si penitip haruslah si pemilik barang dengan melampirkan foto kopi KTP, nomor telepon dan diperkuat dengan surat perjanjian yang menegaskan bahwa yang bertanggung jawab adalah si penitip barang.
Selain itu ada kualifikasi lain yang digunakan untuk menyeleksi bisa tidaknya barang dititipkan ke Depobabe. Barang dengan kualifikasi rusak atau rongsokan, barang terlarang menurut undang-undang yang berlaku seperti barang curian, barang yang berunsur fornografi, barang yang mengandung obat-obat terlarang, barang yang mengandung makanan, barang yang mengandung bahan aktif atau zat kimia, barang yang mengandung cairan, gas atau bahan yang mudah terbakar, barang berupa benda hidup seperti binatang peliharaan, tanaman hias atau tumbuh-tumbuhan, ikan hias, barang berupa senjata api atau senjata tajam, barang yang bisa mengganggu atau mencemari lingkungan sekitar, tidak bisa dititipkan di Depobabe.
Dengan mekanisme tersebut Depobabe bisa menerima titipan barang-barang elektronik, alat-alat rumah tangga, perlengkapan bayi, sparepart kendaraan, alat-alat musik, fashion, mainan, boneka, barang over stock, barang factory outlet, barang sisa ekspor impor, barang eks kado atau eks hadiah, barang seken milik selebritis, benda seni atau hiasan, barang koleksi dan barang antik.
Bagi pemilik yang menitipkan barangnya, akan dikenakan biaya penitipan yang terdiri dari biaya administrasi dan biaya display. Biaya display adalah biaya yang dikenakan kepada barang yang ukurannya lebih dari 100 CM3 atau yang memerlukan lebih dari satu orang untuk memindahkannya. Contohnya lemari yang memakan tempat dan tenaga untuk mengangkatnya. Biaya penitipan tersebut dibayar oleh penitip ketika barang titipan diterima Depobabe dan ketika penitip memperpanjang masa penitipannya. Besarnya biaya penitipan untuk masa penitipan dua minggu ataupun sebulan adalah sama. Jangka waktu penitipan barang digerai ini sampai dua bulan. Jika tidak laku maka barang akan dikembalikan kepada pemiliknya. “Biasanya semua barang laku terjual sebelum periode penitipan dua bulan berakhir. Kalau pun tidak laku dalam periode itu biasanya pemilik juga tidak mengambil barangnya,” sebut Endang.
Selain administrasi penitipan dan display, Depobabe juga mengambil 10 persen barang yang terjual. Dari seluruh item yang dipajang di Depobabe barang elektronik seperti kulkas, televisi dan lainnya, serta perlengkapan bayi, dan sepeda yang paling banyak diincar pembeli.
Bapak dua putri ini mengaku usahanya mengalami kenaikan tiap tahunnya. Sayangnya ia tidak bersedia mengungkapkan nilai keuntungan dari usaha yang didirikan dengan modal awal Rp 20 juta ini. “Usaha ini memang agak lambat perkembangannya tetapi masih minim pesaing,” tandasnya.
Dengan semakin direkennya (diperhitungkannya) barang seken, minimnya persaingan bisa berarti suatu peluang. Anda tertarik menggelutinya?
Empat keunggulan Depobabe dibandingkan pasar tradisional barang bekas
1. Barang lebih bervariasi, mulai dari pemotong rumput sampai barang elektronik
2. Konsep harga jelas karena harga tertera pada lebel barang sehingga pembeli mempunyai
kemandirian untuk mengambil keputusan akan membeli barang tersebut atau tidak tanpa khawatir
tertipu
3. Mempunyai kesempatan mencoba barang tersebut sebelum membeli
4. Display tertata lebih rapi

Gupala, Toko Online Bermodal Rp 105 Ribu
Dengan bermodalkan tak lebih dari selembar uang kertas merah bergambar Soekarno-Hatta, Gupala bisa membukukan transaksi yang nilainya jutaan rupiah. Wiyono
Seiring jumlah pengguna internet semakin bertambah, fungsinya juga meluas. Sehingga lebih dari sekadar menjadi media informasi, kini internet telah lazim dimanfaatkan sebagai ajang berbisnis. Contoh kasus, jual-beli di dunia maya, yakni bertransaksi tanpa perlu ada tatap muka mulai populer. Singkat kata, pemilik produk tinggal menyediakan website untuk memajang produk-produk yang ditawarkan layaknya sebuah etalase, tetapi tentu saja cukup berupa katalog produk berikut keterangan yang memadai. Sementara itu dengan fasilitas yang telah disediakan, pengakses internet yang berminat dapat melakukan order langsung lewat komputer pada saat itu juga.
Cara berjualan khusus seperti itulah yang kerap disebut bisnis toko online karena ditawarkan secara online, sering dipakai sebagai jalan pintas para pengusaha, menjual produk tanpa diberati biaya investasi tambahan seperti sewa tempat. Kalau perlu bahkan tidak usah melakukan operasi produksi sendiri. Sementara itu produk yang mereka jual bisa beragam, mulai dari barang-barang elektronik, buku, kerajinan, dan lain sebagainya. Gupala Dot Com merupakan salah satu contoh usaha berbasis toko online seperti itu.
Berangkat dari keinginan memiliki usaha secara online, tepatnya toko online seperti banyak dijumpai, Totok Barog bersama saudaranya, Yuyun, mengembangkan bisnis galeri aneka produk kerajinan fiber melalui dunia maya. Keduanya mengaku tertarik dengan pengalaman amazon.com yang terkenal itu. Seperti diketahui, amazon pun pada awal berdirinya tidaklah memiliki produk sendiri dan hanya memasarkan produk-produk pihak lain. “Gupala.com juga demikian. Kami tidak memproduksi sendiri kerajinan fiber, tapi mengambil dari perajin fiber yang telah berpengalaman,” papar Totok.
Latar belakang lainnya, mantan mahasiswa filsafat UGM yang sebelumnya telah mendirikan usaha kaca patri itu melihat, kebanyakan para perajin meskipun mampu menghasilkan produk bagus dan berkualitas, tetapi mereka lemah dalam hal pemasaran. Sementara itu internet sebagai media penjualan memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki sarana konvensional. Jangkauan akses tanpa batasan territorial dan geografis selama 24 jam setiap hari sepanjang tahun menjadikannya salah satu media yang mudah, murah, dan efektif. “Kami ingin menciptakan sinergi positif dengan para perajin. Kami untung perajin juga untung,” tandasnya.
Karena diperoleh dari sejumlah perajin, maka walau baru sebatas produk kerajinan fiber, maka jenis barang yang ditawarkan di galeri maya Totok cukup bervariatif, mulai dari kap lampu, berbagai macam souvenir menarik berupa hiasan dinding, asbak, aneka frame (frame kota New York, Kinderfield, Rushmore, dan sebagainya), replika bangunan bersejarah terkenal (London Tower Bridge, Sydney Opera House), patung-patung besar dan kecil, vas lilin, dan lain-lain.. Pengunjung di situsnya langsung disuguhi tampilan aneka macam barang tersebut dan sekaligus bisa order langsung. Masing-masing telah dibuat kategori ke dalam tema-tema tertentu sesuai karakter produknya. Ini, seperti disebutkan, agar memudahkan navigasi demi kenyamanan dan kemudahan calon pembeli. Di samping itu, Totok menjamin, sebagai nilai lebih mereka selalu menyediakan desain unik dan menjaga kualitas.
Praktek di lapangan, mengoperasikan sebuah toko online ternyata juga tidak terlalu rumit. Keuntungannya, saat mendapatkan order Totok bahkan tidak memproduksi sendiri, baik barang atau pun desainnya, melainkan tinggal meneruskannya kepada para perajin. Modal awal pun tidak seberapa besar, sebab cukup hanya perlu biaya hosting Rp 25.000/bulan plus sewa domain Rp 80.000/tahun. Sedangkan pembuatan situsnya pun gratis, pasalnya mereka juga yang mendevelop sendiri. Untuk saat ini, dengan kapasitas order dalam sebulan yang mampu diselesaikan hingga mencapai Rp 40 juta dari harga Rp 30 ribu-an hingga jutaan rupiah, bisnis tersebut cukup dijalankan oleh dua orang saja. “Sampai saat ini kami rasa cukup untuk mengelola usaha ini hanya dengan berdua. Karena proses produksi hingga packaging telah dilakukan oleh produsen kami, jadi kami merasa belum memerlukan tenaga tambahan. Meskipun begitu kami mengontrol secara ketat kualitas produksi agar tidak mengecewakan pelanggan dan kami juga bertanggung jawab sepenuhnya pada konsumen,” kilahnya.
Praktis, pemasaran sepenuhnya dilakukan secara online dengan mengandalkan natural traffic dari search engine serta ditambah promosi melalui beberapa iklan baris di internet, dan dengan menjalin relasi dengan berbagai komunitas cyber yang dianggap potensial sebagi konsumen gupala.com.
“Kendala relatif tidak ada, yang mungkin agak mengganggu barangkali ketepatan waktu proses produksi dari perajin kami. Seringkali kami harus menekankan pada perajin kami bahwa pesanan harus diselesaikan tepat waktu, ini demi untuk menjaga kepercayaan konsumen. Untuk penjualannya sampai saat ini kami masih menetapkan minimum order sebesar 1.000.000, tetapi bulan depan kami berencana untuk menurunkan minimum order sebesar 250.000 untuk lebih memudahkan konsumen dalam melakukan pembelian,” ujarnya pula seraya menambahkan, jikalau pasar kerajinan masih cukup menjanjikan. Ini terlihat dari order yang diperoleh tiap bulan terus meningkat sejalan jaringan internet yang semakin mudah diakses.
“Kedepan, kami berencana tidak hanya menjual kerajinan fiber, namun juga berbagai macam jenis kerajinan. Ini karena banyak konsumen kami yang menanyakan selain fiber. Misalnya menginginkan patung tertentu tapi dari bahan batu atau tanah liat. Untuk ini kami akan bekerjasama dengan perajin-perajin lainnya. Saat ini bahan-bahan untuk itu tengah kita persiapkan,” ucapnya bersemangat.
Beberapa Trik mempopulerkan Toko Online:
Asal tahu, sebagus apa pun tampilan sebuah website, tetapi akan sia-sia apabila tetap sepi pengunjung alias tidak dilihat orang. Untuk itu pengelola mesti jeli dalam upaya mempromosikan. Berikut ini beberapa tips agar toko online kita mudah diingat dan dikunjungi orang, antara lain:
- Gunakanlah nama yang menarik.
- Manfaatkan mesin pencari.
Search engine selalu menjadi prioritas ketika seseorang mencari sesuatu di internet. Terdapat beberapa trik agar situs kita tampil di mesin pencari, misalnya dengan cara submit ke mesin pencari yang paling populer saat ini, yaitu google. Cara tersebut dapat dioptimalkan pula dengan memakai title yang unik serta pemilihan kata kunci yang tepat. (Daftar website pada mesin pencari muncul begitu pengguna mengetikkan kata kunci. Setiap kata kunci memiliki rating yang berbeda. Untuk itu kita mesti pandai-pandai mengintip kata kunci yang tengah hot saat ini.)
- Bergabunglah dengan berbagai milis yang relevan.
- Anda juga dapat mencoba dengan memasang iklan pada website yang telah terkenal.
Selamat mencoba!

Menggantungkan Pendapatan Pada Lampion


Cina dan Jepang merupakan negeri asal kerajinan lampion. Tetapi Tiang Jaler berusaha mendesain lampion khas Indonesia. Peluangnya masih terbuka. Wiyono

Saat mengamati dekorasi interior ruangan pesta atau barangkali panggung hiburan di layar kaca, mata kita kerap tertumbuk pada hiasan lampu yang digantung atau diletakkan di tempat tertentu sebagai pemanis, misalnya sudut-sudut ruangan. Ada yang berbentuk bulat seperti bola, berbentuk hati, bentuk-bentuk binatang tertentu dan lain-lain. Lebih tepatnya lampu dengan hiasan berwarna-warni rupa atau bentuknya yang menarik itu lazim dinamakan lampion.
Khusus bagi masyarakat Tionghoa lampion bukan barang baru. Memang awalnya kerajinan lampion itu berasal dari Cina dan Jepang. Di Cina biasanya lampion digunakan pada acara ritual keagamaan, sedangkan di Jepang selain untuk ritual keagamaan sudah digunakan sebagai penerangan dalam ruangan. Ciri-ciri lampion Jepang cenderung menggunakan rice paper sebagai bahan dasarnya.

Seperti keterangan Imran Makmur, salah satu pemilik Tiang Jaler, sebuah usaha dengan kategori handicraft atau bergerak di bidang kerajinan tangan. Lebih lanjut dijelaskan, produk yang dihasilkan usaha yang berlokasi di kota kembang itu berupa lampion/ paper lamp yang terdiri atas beberapa jenis yaitu lampu gantung, lampu meja, lampu standing souvenir, dan lampu pesta/ party lamp. Imran menjalankan bisnis tersebut bersama dengan Aris Wibowo Dwi A. Jika Aris lebih menangani bagian produksi, maka lulusan fakultas Ekonomi Manajemen Unpad ini kebagian mengurus soal-soal keuangan. “Untuk pemasaran kami tangani bersama,” ungkap Imran.
Imran mengaku tertarik dengan usaha kerajinan lampion ini dikarenakan keindahan bentuk lampion itu sendiri. Desainnya yang dinamis membuat lampion dapat dikembangkan menjadi bermacam-macam bentuk. Sejak awal merencanakan usaha Aris maupun Imran bahkan sudah memutuskan agar lampion karya mereka bisa meninggalkan nuansa Jepang dan China, tetapi lebih bersifat Indonesia. Hasilnya, kini lebih dari 80 macam desain lampion baru yang mereka ciptakan. Bentuknya beraneka rupa, ada yang seperti kerucut bersegi segitiga, bentuk-bentuk simetris, serta ada pula berbagai bentuk binatang dan bunga.

Investasi usaha, dikatakan, tidak terlalu besar dan nilainya di bawah nilai Rp 50juta. Antara lain digunakan untuk membeli peralatan serta bahan, yaitu rotan, kertas khusus serta bahan pewarna. Sebagian besar produk dikerjakan berdasarkan adanya order terlebih dahulu, biasanya dengan sistem jual putus. Selain itu kadang-kadang terdapat pula produk untuk persiapan pameran atau pun saat melayani permintaan konsinyasi. Dengan jumlah karyawan tetap sebanyak 6 orang sebulan Tiang Jaler mampu memproduksi sekitar 500 buah. Pada akhir tahun sampai dengan awal tahun biasanya jumlah penjualan meningkat, sehingga bengkel ini bisa memproduksi hingga ribuan lampion dan tentunya memerlukan tambahan beberapa tenaga perajin.

Meski bahan dasarnya simpel, yakni kertas dan rotan, tetapi menurut Imran yang susah justru terletak pada proses pembuatannya. Sebuah model yang bagus harus dibuatkan cetakannya daan diproses hati-hati supaya hasilnya sempurna. Maka pada saat melayani pesanan baru, faktor kesulitan pada waktu proses pembuatan akan menentukan harga jual. Sehingga harga bervariasi mulai puluhan ribu sampai dengan ratusan ribu. Di samping itu banyak-sedikitnya jumlah pesanan juga mempengaruhi harga satuan. Sedangkan saat ini omzet penjualannya sekitar Rp 18 juta-Rp 20 juta per bulan.

Diungkapkan pula pada masa-masa awal usaha tahun 2002 strategi penjualan produk lebih banyak dilakukan dengan cara mengikuti pameran hingga beberapa kali dalam setahun mengambil lokasi di beberapa kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta dan Semarang. Sedangkan cara lain dengan mengandalkan relasi yang sudah menjadi pelanggan tetap, khususnya yang tinggal di kota-kota besar di luar pulau Jawa seperti Makasar dan Balikpapan. “Saat ini selain tetap mengikuti pameran, kami lebih cenderung mengandalkan pemasaran lewat referensi pelanggan-pelanggan setia kami dan melalui website di www.tiangjaler.com,” ungkap Imran.

Imran yakin usaha ini masih memiliki peluang sangat besar mengingat kecenderungan desain interior pada saat ini lebih mengarah kepada desain modern minimalis sehingga produk lampion sangat cocok digunakan untuk aplikasi tersebut. Walaupun begitu ia tidak menampik adanya masalah yang bisa menjadikan batu sandungan. “Sama seperti yang dialami banyak pengrajin lainnya, kendala terbesar kami adalah pengrajin yang dapat memproduksi dengan kualitas baik serta loyal,” akunya. Tetapi ditambahkan hal itu tetap tidak menyurutkan optimisme mereka. Karena SDM dapat diperoleh melalui pemberdayaan anak-anak muda di sekitar tempat usaha yang memiliki kreativitas yang tinggi serta banyaknya sumber seni dan desain seperti dari mahasiswa seni rupa dan desain ITB.

Sementara itu agar produk semakin diterima oleh pasar, seperti dikatakan, ditempuh dengan upaya terus melakukan inovasi dalam hal desain produk yang mencirikan Tiang Jaler memiliki produk-produk yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Target pasar yang dibidik cukup luas, meliputi bidang entertainment misalnya sebagai latar/ setting program televisi, wedding party, interior cafe, live show (panggung musik) dan banyak lagi. Sedangkan agar pasarnya semakin bertambah luas, disamping membuat produk-produk untuk dekorasi mereka juga akan mulai mengembangkan ke arah retail dan berencana dapat membuka outlet di Jakarta pada tahun 2007.

“Saat ini selain produk lampion kami juga mengembangkan produk lampu yang cocok untuk interior cafĂ© atau restoran,” tutur lajang kelahiran Medan ini. “Ke depannya kami ingin lebih memperkenalkan lampion kepada masyarakat sebagai alternatif dekorasi yang tidak kalah bagusnya dengan dekorasi yang saat ini lebih cenderung menggunakan bunga dan kain,” tambahnya. Membuat lampion untuk penerangan rumah-rumah tinggal? Sepertinya sebuah garapan bagus yang pantas dijadikan peluang. Selamat mencoba!
Analisa Usaha Pembuatan Lampion
Biaya Bahan Baku
- Kertas khusus (kertas singkong atau rice paper) Rp. 600.000,-
- Rotan Rp. 300.000,-
- Bahan Pewarna Rp. 100.000,- +
Total Rp. 1.000.000,-
Penjualan Produk
*1000 x Rp. 10.000,- = Rp. 10.000.000,-
Keuntungan Kotor
Rp. 10.000.000,- - Rp. 1.000.000,- = Rp. 9.000.000,-
*Catatan
Jumlah hasil akhir produksi tergantung pada tiap desain. Diasumsikan produk
dihasilkan sebanyak 1000 buah lampion kecil dengan harga @Rp. 10.000,-.
Lampion adalah termasuk kategori hasil seni sehinggga harga dapat bersifat subyektif. Contoh di pasaran harga berkisar antara Rp. 10.000,- - Rp. 300.000,-


pengusaha.com
http://tabloidpeluangusaha.com

Tidak ada komentar: